Islam Menghargai Ketepatan Waktu (Punctuality)

Oleh Syafaat

Kita semua sepakat bahwa Islam adalah agama yang kaffah, agama yang mengatur seluruh sendi kehidupan, mulai persoalan istana sampai persoalan tanah, Islam juga menata segala bidang duniawi, dari urusan perut hingga urusan semut. Oleh karenanya, kita tidak rela isu sekularisasi diusung ke ranah publik, yakni upaya pemisahan antara urusan agama dan hal duniawi. Sebab, Islam memang secara eksplisit mengatur semuanya dalam al-Quran dan hadis Nabi.

Hanya saja, dalam praktik keseharian, jargon “kaffah” tersebut terkadang menguap entah ke mana. Prilaku orang di masjid kadang berbeda dengan prilaku mereka di gedung DPR. Kekhusyu’an di depan ka’bah kadang tidak merefleksikan kekhusyu’an mereka memperhatikan nasib rakyat. Yang paling nyata dari pengabaian universalitas ajaran Islam adalah pengabaian nilai-nilai islami dalam profesionalisme kerja. Sejujurnya, jika dipertanyakan, siapakah yang paling menghargai waktu; yakni kerja tepat waktu, dan optimalisasi penggunaan waktu. Apakah kita (umat Islam) ataukah mereka (nonmuslim)? Jawabannya, pasti mereka yang lebih menghargai waktu.

Sebagai contoh, Ilmuan Amerika ternama “Benyamin Franklin” pernah mengatakan: ” We promise we will never keep you waiting. And if we do, you are paid $5 per minute for your time (kami berjanji bahwa kami tidak akan pernah membiarkan engkau menunggu, dan seandainya kami melakukan itumaka kami akan bayar lima Dolar tiap keterlambatan satu menit). Di samping itu, seorang seniman China “Yang Liu” membuat 19 ilustrasi perbedaan antara orang Asia dengan orang Eropa, diantaranya adalah orang Eropa memiliki budaya tepat waktu, sedang orang Asia memiliki budaya mengolor waktu.

 Pada saat yang sama, justru di sekeliling kita mulai mentradisi budaya-budaya negatif, misalnya: “asma” (asal masuk kerja, mulai kerja jam berapapun tidak masalah), “as’ab” (asal absen, kerja nomor ke sekian), “D4″ (datang, duduk, dengkur, duit). Senada dengan itu, tahun 1988, Louis Krar menulis di majalah Readers Digest bahwa bangsa Indonesia masih terkubang dalam jurang “lousy work ethic (etos kerja yang lemah)”. Itulah sebabnya, ia memprediksi Indonesia sebagai negara yang susah berkembang dan maju,  bahkan negara paling terbelakang (backyard) di kawasan Asia.

Padahal Allah SWT mewajibkan pada kita agar senantiasa melakukan segala sesuatu secara profesional dan berkualitas. Dalam hadis disebutkan:

إنَّ اللهَ كَتَبَ الإحْسَانَ عَلى كُلِّ شَىْءٍ (رواه مسلم)

Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku “ihsan” (bekerja secara berkualitas) atas segala sesuatu (HR. Muslim)

إنَّ اللهَ يُحِبُّ إذا عَمِلَ أحَدُكُمْ عَمَلاً أنْ يُتْقِنَهُ (رواه البيهقى عن عائشة)

Sesungguhnya Allah menyukai hambanya yang bekerja secara profesional 

 Jangankan dalam dunia kerja yang melibatkan interaksi dengan manusia, dalam memperlakukan binatang yang mau disembelih saja, Islam mengatur sedemikian profesionalnya, yakni harus memilih pisau yang tajam dan tempat yang nyaman. Untuk mendukung profesionalitas, Islam mengutamakan orang yang kuat dan sehat dalam menjalani sebuah pekerjaan.

Namun sayang, tradisi profesional itu masih menjadi milik mereka. Kalau memang demikian adanya, maka mau tidak mau, kita harus mencontoh segala kebaikan tersebut. Bukanlah Rasulullah menyuruh kita, mengambil mutiara hikmah yang hilang dari mereka? Sebagaimana sabdanya:

الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ المـُؤْمِنِ حَيْثُ مَا وَجَدَهَا أَخَذَهَا (أخرجه الديلمى عن بريدة)

Mutiara hikmah itu adalah harta mukmin yang hilang, di manapun ditemukan dia mengambilnya (HR. Ad-Dailamy dari Baridah)

 Sebagai bukti bahwa Islam menghargai janji dan waktu yang merupakan pilar profesionalisme, Rasulullah pernah menunggu Abdullah bin Abil Hamsa’ dalam kurun waktu tiga hari tanpa berpindah tempat, dan ketika Abdullah datang, beliau bersabda:

يَا فَتَى لَقَدْ شَقَقْتَ عَلَىَّ أَنَا هَا هُنَا مُنْذُ ثَلاَثٍ أَنْتَظِرُكَ  (رواه أبو داود)

Wahai pemuda, engkau telah membuat saya lelah, saya berada di sini sejak tiga hari demi menunggumu (HR. Abu Dawud).

Dengan kata lain, betapa Rasulullah sangat menghargai sebuah janji dan waktu. Pemenuhan kita atas janji merupakan cermin dari kualitas ibadah sosial dan juga akan berdampak positif pada kualitas dan produktifitas kerja. Pada gilirannya, komitmen tersebut akan mengangkat harkat martabat bangsa dan mampu melejitkan prestasi anak bangsa melampaui bangsa-bangsa lain di dunia.

Marilah kita mulai sekarang menghargai waktu. Sebab, menghargai waktu juga berarti menghargai orang lain, menghargai profesi kita dan akhirnya menghargai diri kita sendiri. Tinggalkan tradisi “terlambat” datang, tradisi pulang sebelum waktunya, tradisi bermain game pada jam kerja, tradisi NATO (Not Action Talk Only) sedikit kerja banyak omong dan tradisi menghabiskan waktu kerja untuk baca koran/majalah. Banyak kerugian yang timbul akibat kekurangdisiplinan seseorang terhadap janji dan waktu, diantaranya: (1) mengecewakan dan membosankan pihak lain, (2) menimbulkan ketidakpastian waktu, dan (3) mencemarkan nama baik lembaga. Menurut Mufti Saudi Arabia, Syeikh M. S. Al-Munajjid,  Keterlambatan atau ketidakhadiran dalam memenuhi janji, dalam Islam bisa ditolerir apabila yang bersangkutan: (1) lupa, (2) karena dipaksa, (3) berjanji untuk melakukan sesuatu perbuatan yang haram atau tidak melakukan yang hukumnya wajib, dan (4) suatu kejadian yang tidak terduga sebelumnya.

Lebih dari itu, seorang tokoh Islam Kanada kelahiran Pakistan, Syaikh Faraz Rabbani, memberikan fatwa haram bahkan mengkafirkan seorang muslim yang terlambat atau tidak datang dalam sebuah acara yang kontraktual seperti sekolah, pekerjaan, janji, rapat, tanpa adanya alasan yang jelas atau tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Fatwa ini dikeluarkan sebagai upaya untuk menghapus stereotipe negatif bangsa Barat terhadap Islam. Sebagai contoh, di Barat terdapat istilah canda yang mendiskreditkan umat Islam yaitu MST (Moslem Standart Time). Istilah ejekan itu mengandung pengertian bahwa umat Islam menurut mereka akan selalu terlambat sampai kapanpun dan dalam situasi apapun, karena memiliki standar waktu sendiri yang berbeda dengan waktu mereka.

Sering kita kesal serta marah, ketika order sesuatu (baju, mebel, makanan dll) yang tak kunjung selesai atau molor dari waktu yang dijanjikan dengan tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Kekesalan yang terjadi pada kita, juga akan terjadi pada orang lain, apabila kita berlaku demikian pada orang lain. Untuk itu, para ulama menganjurkan: “Amilin naas bima tuhibbu an yu’amiluuka bihi (Perlakukan orang lain dengan cara yang kau ingin diperlakukan seperti itu)”.

Jangan memukul kalau engkau tidak ingin dipukul. Hadirlah tepat waktu ketika diundang orang lain, kalau ingin orang lain juga hadir tepat waktu pada acara kita. Mari kita berupaya menyenangkan hati orang lain, karena hal itu adalah media terbaik untuk meraih cinta Allah. Rasulullah bersabda:

أحَبُّ الأعْمَالِ إلى اللهِ بَعْدَ الفَرَائِضِ إدْخَالُ السُّرُوْرِ عَلى الْمُسْلِمِ (الطبرانى عن ابن عباس)

Perbuatan yang paling dicintai Allah setelah ibadah fardlu adalah menyenangkan hati seorang mukmin (HR. At-Thabrani dari Ibnu Abbas)

Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita dalam menjalankan semua kebaikan bagi diri kita dan kemanfaatan pada orang lain. Yakinlah bahwa apa yang kita lakukan secara profesional akan disaksikan oleh Allah, para malaikat dan manusia, pada saatnya kita akan mendapatkan balasan yang setimpal, sebagaiman firmannya:

 وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (التوبة :105).

About these ads

4 Responses

  1. minta izin untuk dikongsi dengan teman-teman di kantor…

    • Silahkan semoga bermanfaat

  2. mencari ilmu yg bermanfaat . .

  3. Reblogged this on usin63's Blog.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,611 other followers

%d bloggers like this: