Kisah Hidup


This slideshow requires JavaScript.

Download Kisah hidupku (1-26) 

KISAH HIDUPKU (1)

Masa Kecilku

Sungguh sebuah karunia Allah SWT, aku dilahirkan tanggal 15 Agustus 1974 di tengah-tengah keluarga dan masyarakat yang islami. Disebut islami lantaran rumahku diapit dua pesantren (pesantren Darul Huda dan pesantren Darus Sa’adah). Masyarakatnya pun aktif melakukan tradisi religius ala Nahdiyyin, seperti membaca Maulid, Manaqib, haul ulama’, Dzikrul Ghafilin, Tahlil, serta berdiri beberapa jam’iyyah, semisal GP Ansor, Muslimat, Jam’iyyatul Hujjaj, Majlis Semaan Al-Quran, Majlis Khataman Al-Quran. Yakni di wilayah Karang Anyar (nama yang tidak pernah tertulis tapi populer) di jalan Indra Giri 38 (dulu jalan KH. Abdul Wahab) kelurahan Penataban RT.14 kecamatan Giri kabupaten Banyuwangi. Wilayah kel.Penataban saat kecilku, termasuk desa/kelurahan yang produktif. Hampir separo kebutuhan sayur-mayur di Banyuwangi kota, disupplay dari daerah ini. Kegiatan olahraga juga marak diselenggarakan di sini, khususnya sepak bola. Memang daerah ini diuntungkan oleh fasilitas kecamatan Giri yang bertempat di situ. Keuntungan itu berupa lapangan sepak bola yang representatif (dibanding desa lainnya), pemusatan kegiatan kecamatan di tempat itu, serta dekat dengan pusat kota Banyuwangi sekitar 3 Km.Ayahku Sofwan lathif dan ibuku Sayu rakhmat merupakan orang yang sangat berjasa membesarkan aku dengan menanamkan kedisiplinan untuk sekolah dan ngaji, meski kondisi keuangan keluarga pas-pasan dan ilmu yang sangat kurang. Ayah dan ibu termasuk buta huruf arab dan latin. Beliau berdua tidak tamat Sekolah Rakyat (SD zaman Jepang), apalagi mengenyam pendidikan pesantren. Tapi saya heran, banyak surat dari al-Quran yang beliau hafal (seperti surat Yasin, Al-Mulk, Ar-Rahman, Al-Waqi’ah), dan beliau beristiqamah membacanya setiap ba’da maghrib. Mungkin keikhlasan dan doanyalah yang menjadikan putra-putrinya kelak menjadi orang sukses serta shalih shalihah.

Masih terngiang dalam memori saya, betapa orangtua saya yang minim ilmu agama itu ternyata dalam pengamalan agama jauh melampaui orang yang pernah belajar ilmu agama seperti saya. Hampir setiap menjelang tidur beliau berdua menyempatkan diri membaca wiridz sampai tidur. Sementara saya lebih banyak terninabobokkan oleh televisi, musik dan radio. Atau tidur dalam kondisi membaca atau kecapean buat proposal atau artikel. Semoga saya segera bisa meniru religiusitas beliau, allahumma ighfir lahuma, Amin.

Kekuatan kel. Penataban ini sesungguhnya karena “barokah” dari para ulama’ yang ada serta lima pesantren, yaitu: (1) pesantren Darul Huda (didirikan oleh KH. Abd Wahab dan dilanjutkan KH. Zawawi Wahab dan kini diasuh oleh anak dan menantunya Ustadz Alimi dan Ustadz Roni dari Jepara), (2) pesantren Darussalam (didirikan oleh KH. Abdus Salam, diteruskan putranya K. Ahmad, namun kini vacum tidak ada santri dan tidak ada kegiatan, sungguh sangat disayangkan). Tidak jauh dari pesantren Darussalam terdapat Pesantren Putri, yaitu (3) pesantren H. Hilmiyah yang diasuh oleh Nyai H. Hilmiyah dan Ust. Junaidi (ketika biografi ini ditulis –Agustus 2009-beliau berdua masih terbaring sakit, semoga cepat disembuhkan Allah atau diberikan gelar husnul khatimah kalau memang saatnya dipanggil). Pesantren ini juga hampir punah, menunggu sentuhan tangan-tangan kreatif, cerdas dan ikhlas untuk menumbuhkan kembali. (4) Pesantren putri Nur Cahaya (didirikan oleh Alm. Nyai Jazilah, namun sekarang hanya dihuni segelintir santri saja, menantunya lebih suka mendirikan pesantren sendiri daripada meneruskan mertuanya). (5) Pesantren Darus Sa’adah. Pesantren ini diasuh oleh K. Hariri (Cuma karena berasal Madura dan mayoritas santrinya dari etnis Madura, beliau lebih terkenal “bindere Hariri).

Pepatah mengatakan hilang satu tumbuh seribu, dari empat tersebut relatif kini hanya satu yang masih survive yaitu pesantren Darul huda. Namun, tenggelamnya tiga pesantren sisanya, oleh Allah diganti tumbuhnya dua pesantren baru, yaitu: pesantren al-Ihsan dan pesantren al-Quran “Darul furqon” yang diasuh oleh dua kyai muda, Kyai Mursyidi dan Kyai Baihaqi. Saya masih yakin Allah masih akan menambah lagi jumlah itu tentu dengan kualitas yang lebih baik.

Masa kecil saya habis untuk bermain dan menimba ilmu di dekat rumah. Belajar ngaji Alif, Ba’, Ta’ di Pak Nasuki, Haji Karim, Haji Thoyyib, pak Ikhsan Aziz dan di Ustadz Juwaini, sambil belajar di Madrasah Ibtidaiyyah “Darul Huda” (semoga madrasah ini tetap abadi sepanjang masa). Di sinilah saya pertama kali diperkenalkan cerita kancil oleh Pak Zaini (alm.), hukum nun mati dan tanwin oleh Pak Imik, an-nadlofatu minal iman dan hadis ringan lainnya oleh Ustadz Kahfi (alm.), sejarah perang Badar dan uhud oleh Pak Mukrom (beliau sampai saat ini masih aktif mengajar meski dengan gaji kurang dari 100 rb, semoga Allah membalas keistiqomahan beliau). Juga ada pak Sulhak, pak khudori, bu Endang, pak mustofa.

KISAH HIDUPKU (2)

Pendidikan Pertamaku

Satu lagi guru MI yang mengukirkan kata-kata dan ilmunya di hatiku sampai kini yaitu Ustadz Ihsan Aziz. Beliaulah yang memperkenalkan dan menanamkan kecintaanku pada bahasa Arab, cerita ruhani dan kaligrafi. Guru yang selalu dicintai siswa-siswinya melalui cerita dan dendangan spritual, wajah yang selalu tersenyum pada siapapun, serta kekuatan munajatnya di hadapan Allah swt. Namun pada akhirnya beliau harus pindah ke Cirebon karena menikah kembali dengan orang cirebon, setelah istri pertamanya meninggal. Semoga Allah memanjangkan umurnya. Guru lain yang tak kalah istimewa, ada pak Mukrom. Beliau sudah mengabdikan diri menjadi guru madrasah lebih dari 40 tahun meski hanya dengan gaji 100 rb dan sepeda ontel yang selalu menemaninya pulang pergi dari rumahnya yang berjarak sekitar 5 km, semoga Allah memperkaya beliau dengan kesehatan dan kebahagiaan abadi yang tak pernah lekang oleh perputaran zaman.

Saya juga cukup bersyukur bisa berkawan dengan Rozikin, Muharrom, Subhan, Rois dll. Mereka teman main yang juga teman ngaji. Bersama mereka saya belajar hidup bersosial, berkawan, menghargai perbedaan. Dengan mereka pula saya belajar hidup mandiri, pergi kemana-mana tanpa minta ditemani orang tua. Setiap sore hari saya dan mereka membiasakan main bola di lapangan kecamatan Giri hingga menjelang adzan maghrib. Pasca Magrib langsung bersiap untuk mengaji dan tak lupa belajar kelompok sampai jam 9 malam. Rutinitas itu yang membuat saya bisa baca al-Quran, bisa mengikuti pelajaran sekolah. Sampai-sampai pernah mendapatkan juara II lomba tartil al-Quran tingkat kecamatan dan pernah mendapatkan Nilai Ujian Nasional tertinggi di sekolah. Padahal sebelumnya tidak pernah dapat rangking sama sekali. Bahkan saya pernah ditunjuk sekolah utnuk mengikuti cerdas cermat tingkat kecamatan dengan Asyrofi dan Ansori, meski tidak bisa menjawab satupun pertanyaan tentang P4 (pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila).

Setelah tamat Madrasah Ibtidaiyah, saya melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Banyuwangi. Sebetulnya tidak banyak hal baru yang saya dapatkan di sekolah ini. Namun ada satu guru yang sangat energik, yaitu guru fisika namanya pak Haryono, jalannya tegak, cepat. Bicaranya lantang, tegas, tanpa basa basi membuat kami semua para murid bersimpati pada guru ini. Ada hal menarik, yaitu ketika pak haryono ini memberi gelar saya Thomas Alpa Edison. Lantaran, kebodohan saya dari segi tampang, tapi ternyata diam-diam sering bisa menjawab soal. Thomas Edison merupakan simbol orang yang idiot, namun karena kerja kerasnya mampu menghasilkan temuan-temuan fenomenal seperti listrik dan sebagainya.

Sedangkan para guru senior seperti pak Tolhah, pak Hanifan, dll cukup disegani bukan karena kharismatiknya tapi memang sangat menakutkan sampai-sampai kami harus kerja keras mengerjakan PR (semoga Allah mengampuni mereka). Ternyata ada juga teman yang menjadi kreatif, pintar di bawah bimbingan mereka seperti si Ida, Agus, Yulianti dll. Saya sangat terbantu menguasai pelajaran jusru karena guru-guru ngaji di dekat rumah. Mereka adalah ustadz Mursyidi (tokoh muda yang genius yang mengajari saya dasar-dasar Nahwu Sharaf), ustadz Juwaini (qori’ yang mengantarkan saya menguasai ilmu tajwid dan penerapannya), ustadz Baihaqi (seorang hafidz yang memotivasi saya untuk bisa seperti dia). Tiga orang inilah yang berjasa besar membentuk kemampuan akademik saya dalam bidang bahasa Arab dan kealquranan.

KISAH HIDUPKU (3)

Perantauan Pertamaku Ke Jember

Menjelang akhir kelulusan saya begitu terobsesi untuk masuk rangking sepuluh besar, dengan harapan bisa mengikuti jejak kakak kelas saya Najib, yang masuk Madrasah Aliyah Program Khusus di MAN Jember tanpa biaya apapun. Terutama, pelajaran ekstra bahasa Arab dan Inggris yang sangat menggiurkan saya. Tapi apa mau dikata, nilai saya pas-pasan sehingga tidak bisa didaftarkan di program tersebut. Selepas lulus MTsN, oleh kakak saya, mas Mukhtar saya didaftarkan di MAN Jember tapi di program reguler pada Jurusan A1 (Fisika). Awalnya saya sangat shock, karena cita-cita saya untuk mengembangkan bahasa Arab dan bahasa Inggris secara intens tidak tercapai. Kendatipun demikian saya harus mengambil sisi positif dari kegagalan saya tersebut. Saya mulai meniru mereka yang “beruntung” bisa masuk program bergengsi tersebut (karena MAPK Jember merupakan representasi dari siswa Indonesia bagian timur yang menampung siswa berprestasi dalam bidang bahasa Arab dan Agama saat itu). Kecemburuan itu saya wujudkan dalam bentuk belajar keras bahasa Arab dan menghafal beberapa juz al-Quran. Kebetulan saat di MAN Jember 1 saya tinggal di Pesantren Miftahul Ulum Kaliwates Jember, sehingga semua obsesi tertuang di sini meski tidak sepenuhnya optimal. Saya tinggal di pesantren tersebut mulai pertengahan tahun 1990 sampai pertengahan tahun 1993.

KH. Sufyan Tsauri, pengasuh pesantren Miftahul Ulum, telah menanamkan pada saya dan para santri yang lain akan pentingnya barokah atau adanya aspek supranatural dalam kemanfaatan ilmu. Menurut beliau ilmu yang banyak dan mendalam tidak menjadi jaminan kemanfaatan ilmu tersebut kalau tidak dibarengi dengan ketakwaan. Saya masih ingat betul beliau berpesan: “Ingatlah, masa muda cepat berakhir” dan “laisal jamal jamalul ilmi, wa innamal jamal jamalul adab“. Di pesantren ini saya berupaya mengejar semua cita-cita saya. Di sini saya menghafal beberapa juz al-Quran dengan tanpa guru khusus, mendalami nahwu sharaf secara otodidak, dan mengembangkan seni baca dan tulis al-Quran secara mandiri. Meskipun terseok-seok dan tambal sulam, dalam tiga tahun saya bisa menghafal empat juz. Satu hal yang tak terlupakan, setelah sedikit ngobrol dengan mas Tohe (sekarang dosen UM Malang dan Mahasiswa S3 Chicago Amerika). Saya dan dia sama-sama termotivasi untuk menghafalkan Al-Quran dan berjanji untuk bangun tengah malam guna menjalankan sholat malam dan menjalankan ritual menulis ayat Al-Quran di piring dengan spidol hitam. Lalu dimasukkan air ke piring tersebut dan diminum oleh kita berdua. Itulah awal saya menghafal Al-Quran untuk juz satu. Namun, dalam perjalanan berikutnya dia lebih memilih mendalami bahasa Inggris, Fisika dan lain-lain. Berbeda dengan dia, saya meneruskan cita-cita tersebut sambil mendalami bahasa Arab dan kitab kuning.

Selain itu, saya juga harus mengikuti program-program Madrasah Aliyah seperti mengikuti pelajaran sekolah jam 07.00 – 12.00, mengikuti workshop elektronika jam 13.00 – 17.00. Setelah itu mengikuti pengajian rutin dan mengajar Diniyah di Pesantren mulai 18.00 – 21.00 dan seterusnya. Memang kegiatan saat itu merupakan kegiatan yang sangat melelahkan, meski demikian saya masih dapat meluangkan waktu untuk berolahraga di lapangan (satu kilometer sebelah selatan pesantren) sambil menikmati pemandangan sungai, gunung dan persawahan yang terhampar luas.

Di waktu-waktu senggang saya sering manfaatkan untuk membantu teman-teman menjaga Koperasi Pondok hingga larut malam. Saat itu saya merasa bahagia dan senang bertemu dengan teman yang sama-sama bercita mendalami agama. Di sini yang bertemu dengan Syafi’uddin, Romli (Lumajang), Nurkholis, Muzammil (Sidoarjo), Rosyiful Aqli, Najib (Jember), Dani, Muslih (Banyuwangi) dan banyak lagi yang lain.

KISAH HIDUPKU (4)

Nostalgiaku di Pesantren Miftahul Ulum

Entah apa yang terjadi, pada tahun kedua, saya diberi kepercayaan pengasuh pesantren untuk memimpin beberapa ritual pesantren seperti pembacaan tahlil, surat al-mulk, imam shalat dan pembelajaran tajwid. Di luar itu, saya, ust. Toha, ust. Taufiqur Rahman, alm. Ust. Nasrullah setiap sore mengisi tadarrus yang didengarkan dan dihadiri seluruh santri.

Suatu ketika, pengasuh memanggil saya dan salah satu santri yang meler (nakal). Beliau katakan: “kelak anak ini (sambil mengarahkan tangannya ke arah saya) akan sukses, berbeda dengan kamu (sambil menoleh ke teman saya tadi)”.  Selepas itu sambil marah-marah, teman saya tadi ingin membuktikan bahwa kelak siapa yang paling sukses diantara kita berdua? Sampai dengan tulisan ini saya buat (2009) saya belum mendengar berita teman dari Macan Putih Banyuwangi itu setelah 19 tahun berlalu. Lebih dari itu saya dipercaya untuk mengajarkan kitab Jurumiyah pada putra-putri beliau di rumah pengasuh. Bahkan saat bapak pengasuh meninggal dunia pada tahun 1992, saya diberi mandat memimpin tahlil sampai hari ke 40 yang kadang dihadiri para ulama se Jember dan sekitarnya.

Di pesantren itu saya juga meluangkan waktu untuk ikut membersihkan masjid dan halaman pondok serta halaman rumah pengasuh bersama beberapa teman tanpa ada perintah maupun jadwal. Di kalangan teman-teman saya dianggap “jago nggendok (jago masak)”. Bukan saya pinter masak, tapi karena rajinnya saya memasak hampir tiap hari bahkan kadang dua kali sehari meski hanya dengan lauk sambal atau kerupuk. Ini terjadi mungkin karena bekal dari orang tua sangat minim, yaitu hanya 30 ribu perbulan dan beras 10 Kg. Lagi pula untuk pergi ke warung nasi jaraknya agak jauh. Warna-warni pengalaman saya di pesantren ini membuat saya begitu betah tinggal di sana. Sampai-sampai menjelang boyongan (berhenti belajar di pesantren), seakan tak kuasa meninggalkan tempat itu.

KISAH HIDUPKU (5)

Kecintaanku pada al-Quran dan para penghafal al-Quran

Setelah tiga tahun berlalu, studi saya di MAN Jember I selesai tepatnya pada bulan Juni 1993. Mau tidak mau saya harus meneruskan studi saya ke jenjang yang lebih tinggi, yakni di perguruan tinggi (mengikuti kehendak kakak Mukhtar) atau ke pesantren salaf guna mendalami seluk beluk kitab kuning agar kelak jadi “kyai” katanya atau meneruskan cita-cita saya untuk meneruskan hafalan Quran yang baru dapat tiga juz, sebab konon kelak kalau sudah mati jasadnya tidak hancur, luar biasa!!! Menjelang perpisahan atau boyongan dari pesantren Miftahul Ulum, saya belum punya rencana matang untuk melangkah. Hanya saja, berkat seringnya saya mengikuti jamaah Istima’ al-Quran “Mantab” sebagai mustami’ sejak masih di Banyuwangi tahun 1989, maupun di Jember 1990-1993, membuat saya “jatuh cinta” pada beberapa sosok penghafal al-Quran seperti Gus Muqorrobin (Gresik), Gus Mustofa (Kediri), Gus Nurkholis (Surabaya), Gus Sochib (Jember), Gus Sochib (Situbondo) dll. Selain itu, saya juga terkesan dengan kepribadian Gus Farid Wajdi (Putra Alm. KH. A Shiddiq Jember) dan Gus Syauqi (Putra alm. KH. Halim Shiddiq)  sebagai pembina jamaah tersebut, terlebih saat beliau berdua membawakan dzikrul ghafilin, doa dan taushiyah.

KISAH HIDUPKU (6)

Takdir ternyata berbicara lain

Saking “ngefan” nya dengan Gus Farid, saya ber “azam” untuk meneruskan hafalan al-Quran di rumah beliau, dekat Pesantren Ash-Shidiqy Putra di Daerah Talangsari Jember dan kakak saya juga telah minta izin pada beliau untuk tujuan itu. Ternyata, beliau tidak bersedia lantaran belum hafal juga dan merekomendasikan saya untuk nyantri di rumah Gus Sochib yang tidak jauh dari rumah beliau. Pasca perpisahan saya dengan santri-santri, asatidz dan keluarga besar Miftahul Ulum, saya memutuskan untuk pulang dulu ke Banyuwangi guna berpamitan dulu dengan keluarga di rumah Banyuwangi. Dengan tekad bulat, saya dan kakak saya, Mukhtar, melangkahkan kaki kembali menuju Jember untuk menuntut ilmu meski orang tua masih berat melepas kepergian kami.

Saat tiba di rumah Gus Sochib, ternyata beliau saat itu tidak sedang berada di rumah dan menurut tetangganya beliau sedang mengikuti khotmil al-Quran di daerah Yogyakarta sekitar semingguan. Melihat kenyataan ini, bercampur dalam batin saya antara kecewa, putus asa, sebab rumah beliau dalam kondisi kosong tak berpenghuni, padahal saya sudah berpamitan pada sanak kerabat dan alangkah malunya seandainya saya harus pulang kembali dengan cita-cita kosong.

Dalam kondisi pikiran kacau tersebut, terlintas nama pengasuh pesantren al-Quran di daerah Singosari Malang, pesantren di mana teman kecil saya “Nasihin” dan Gus Abdullah Faishal (putra KH. Wahid Kertosari Banyuwangi) pernah nyantri di sana. Sedikitpun saya dan kakak tidak tahu menahu mengenai pesantren tersebut, baik alamatnya, pengasuhnya, maupun metode pembelajaran di sana. Daripada menanggung malu, saya meminta kakak saya mengantar ke pesantren tersebut dan hanya berbekal dua kata kunci, yaitu Singosari, KH. Mustain Syamsuri. Mungkin kakak saya juga ikut bingung dan kesal pada saya mendengar hal itu.

KISAH HIDUPKU (7)

Perantauanku di Malang

Berbekal nawaitu yang kuat, saya nekat pergi ke Malang, dengan tanpa perencanaan terlebih dahulu. Saya dan kakak sama-sama buta peta Malang, dia belum pernah sekalipun ke daerah ini. Sementara saya, baru kali kedua pergi ke Malang, yakni saat masih duduk di MAN Jember I dulu pernah mengadakan studi tour di VEDC/PPGT di dekat terminal Arjosari tahun 1992. Itupun sifatnya masih ikut-ikutan program sekolah dan masih buta lokasi, kecuali beberapa lokasi wisata terkenal seperti taman wisata Bendungan Karangkates, Pembangkit Listrik Karangkates, dan alun-alun kota Malang.

Akhirnya sampailah saya dan kakak di Singosari, turun dari bus tepat di depan Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ) yang kebetulan berada di pinggir jalur utama jurusan Malang – Surabaya. Tidak terlalu sulit bagi kami untuk menanyakan alamat dari PP Darul Quran. Hampir semua kusir dokar dan tukang ojek mengenal lokasi ini. Bersama pak kusir saya mencari pesantren tersebut yang berlokasi di desa Watu Gede dengan jarak sekitar 3 Km dari pasar Singosari.

Di luar dugaan, pesantren tersebut ternyata tidak sebesar yang saya bayangkan. Dari segi papan nama saja di sini tidak dijumpai, bahkan bentuk bangunan dari depan relatif tidak berbeda dengan rumah penduduk. Dari jumlah santri, kala itu mungkin hanya sekitar 70 santri putra-putri. Kamar santri pun saat itu masih acak-acakan karena masih dalam kondisi renovasi yang tertatih-tatih menunggu dan menjemput sumbangan dari para dermawan. Lebih dari itu, jarak pesantren dengan sungai tempat MCK juga relatif jauh, terutama kalau di malam hari. (batas edit 5/9)

KISAH HIDUPKU (8)

Dua Tahun Yang Mengesankan Di Pondok Pesantren Darul Quran

Pada minggu pertama keberadaan saya di tempat ini (di bulan Juli 1993), saya relatif tersiksa dengan cuaca Malang yang sangat dingin sebagaimana biasanya di bulan Juli – Agustus, yakni sekitar 15 C di malam hari. Padahal sebelumnya, saya tinggal di Jember dan Banyuwangi yang notabene bercuaca panas. Saking dingin dan takutnya untuk buang hajat di tengah malam, pernah saya memberanikan diri untuk masuk ke kamar mandi pengasuh, semoga Allah memaafkan saya.

Dengan semangat membara, mulailah saya menghafal Al-Quran dan menyetorkan hafalan langsung pada KH. Mustain dari Juz 1, kendatipun saya sudah hafal juz 29, 30, 1, 2, dan 3 sejak sekolah di bangku MAN. Dalam waktu dua bulan saja, saya sudah mencapai juz yang kedelapan, sampai teman-teman tidak ada yang percaya kalau bekal hafalan saya hanya sampai juz tiga saja dan itupun belum lancar. Biasanya untuk sampai juz delapan butuh waktu 8 s.d 12 bulan. Saya memang merencanakan apapun yang terjadi harus hafal 3 juz perbulan sehingga 10 bulan diharapkan selesai dan pada bulan ke 11 alias bulan Juli 1994 direncanakan sudah bisa daftar kuliah sebagaimana yang diharapkan orang tua dan keluarga. Rencana saya untuk menghafal ini sebetulnya kurang disetujui keluarga dengan alasan akan banyak waktu tersita dan otomatis belum bisa melanjutkan studi di perguruan tinggi. Akhirnya keluarga dengan berat hati mengizinkan saya untuk berhenti sekolah hanya satu tahun saja, baik selesai ataupun tidak. Berbekal motivasi itulah saya susun sedetail mungkin sebuah perencanaan agar tepat satu tahun hafalan saya sudah lunas.

Memang suka duka ikut mewarnai indahnya belajar di pesantren ini. Di pesantren ini saya memiliki beberapa teman istimewa yang sering membuat saya iri pada mereka. Mas Nahru (sekarang sebagai Pengasuh Pesantren Syafaatul Quran di daerah Langlang Singosari Malang) misalnya, dia memiliki tingkat kecerdasan dan keistiqomahan di atas rata-rata santri. Dia mampu menghafal Al-Quran dalam usia belasan tahun (sekitar kelas II SLTP) dan menyelesaikan hafalan Qiro’ah sab’ah (tujuah variasi bacaan Al-Quran) sebelum lulus Madrasah Aliyah Al-Ma’arif Singosari. Pada saat yang sama dia juga menguasai kitab kuning beserta ilmu alatnya (nahwu sharaf). Dia juga bisa menembus seleksi Universitas Brawijaya sebagai universitas negeri paforit di Malang dan sempat menjadi duta universitas tersebut dalam even cerdas cermat tingkat nasional. Yang lebih saya kagumi, dia sangat istiqomah bangun malam dan sholat malam dengan satu juz Al-Quran.

Temanku yang lain, Mas Syamsul Ulum (sekarang menjadi dosen Universitas Islam Negeri Malang) juga tergolong orang unik. Dia memiliki kharisma di kalangan para santri dan menjadi orang kepercayaan kyai. Dia juga menjadi idola para santri putri, sehingga setiap kali mengajar di madrasah diniyah selalu peserta putri membludak. Dia memang orang yang berpenampilan tenang, penuh kedewasaan, sopan dan bersahaja. Dia juga secara istiqomah bangun malam dan menjadi orang yang selalu membangunkan para santri agar bangun pagi. Di sini saya berkenalan sosok ustadz unik, yaitu Ustadz Yahya dari Lamongan (sekarang menjadi salah satu pengasuh Pesantren Tambakberas di Jombang. Beliau memiliki banyak kelebihan: hafalannya yang lancar, kemampuan kitab kuning yang luar biasa, ceramahnya juga sangat bagus, serta keistiqomahan dan kesederahanaannya. Saya juga mengenal sosok abdi dalem yang ikhlas seperti Nasikhuddin (Mojokerto), Ali (Bali), Syakur (Malang), Yusuf (Jombang).

Satu hal yang masih teringat dari pesan bapak kyai: “seorang penghafal Al-Quran jangan pernah mengharap rizki dari Al-Quran, tapi bekerjalah sebagaimana umumnya orang bekerja dan jangan pernah canggung untuk bekerja apapun”. Beliau juga mengajari kami para santri untuk bekerja. Setelah setoran hafalan pagi hari, sebagian dari santri ada yang menjual es, kerupuk dan makanan lainnya sampai ke lur kota. Bahkan beliau sendiri berbisnis jual beli mobil dan tanah.

Pada empat bulan pertama saya diberi kepercayaan untuk mengajar madrasah diniyah dan mengelola sablon plastik milik pesantren. Kadang saya dan teman-teman juga diberi tugas untuk mencari dana pembangunan sampai ke Bangil, Pasuruan dll. Di sela-sela saya berkonsentrasi menghafal, sering ada kegiatan kerja bakti angkat pasir, bata dll. Meski demikian banyak kegiatan, alhamdulillah dalam waktu 11 bulan saya sudah menyelesaikan 30 juz. Kemudian saya diwisuda bersama 4 teman laki-laki dan 3 teman perempuan. Wisuda tersebut dihadiri oleh KH. Tolchah Hasan, KH. Bashori Alwi Singosari Malang, dan KH. Mufid Mas’ud Yogyakarta.

Pernah satu ketika, karena seringnya duduk dan kurang olah raga, saya menderita sakit setengah lumpuh (rheumatic). Untuk berjalan 3 langkah saja capeknya luar biasa, padahal setiap menunaikan shalat Jum’at, saya harus jalan kaki ke mesjid yang jaraknya 1,5 Km dari pesantren. Selama lebih dari dua bulan saya menderita penyakit tersebut sampai-sampai pengasuh membelikan obat untuk saya. Namun demikian, tak seharipun saya berhenti untuk menambah hafalan dan melancarkannya.

Pada bulan ke 12, saya mulai mendaftar kuliah di IKIP (sekarang UM) dan IAIN (sekarang UIN Maulana Malik Ibrahim) dengan mengikuti seleksi UMPTN dan seleksi lokal di IAIN). Ternyata saya hanya diterima di IAIN. Mulailah kegiatan saya semakin padat. Setiap hari saya harus berangkat pagi hari jam 05.30, sebab perjalanan  dari pesantren ke kampus sekitar satu jam. Dan pulangnya rata-rata jam 17.00 sore. Rutinitas semacam itu saya lakukan selama tahun 1994-1996.

KISAH HIDUPKU (9)

Setahun di Goa ASC (Al-Quran Study Club “Ashabul Kahfi”)

Pertengahan tahun 2006 atau tepatnya pada semester V, saya diberikan kepercayaan pengasuh untuk mengajar di Al-Quran Study Club (ASC) Ashabul Kahfi milik pengusaha Tahu Bethek bapak H. Abdullah. Di tempat baru ini saya merasakan suasana yang lebih rileks. Jarak dengan kampus yang tidak terlalu jauh dan menerapkan ilmu pada anak-anak kecil menjadikan saya lebih enjoy. Di sana saya membangun kebersamaan dalam suka dan duka dengan para asatidz dan ustadzat. Ada ust. Azhar (dari Gresik, sekarang jadi menantu pemilik Yayasan), ust. Nasir (dari Bojonegoro), ust. Triman Sholehan (dari kediri), ust. Ali Ridlo (dari Kediri), ust. Budi (dari Malang), dan ada ustdh. Nurik Hikmawati (dari Kediri), ustdh. Ummu Khoiro (dari Lamongan) dll. Bersama mereka saya belajar mengorganisir sebuah lembaga dan belajar bersabar mendidik anak-anak serta orang-orang tua untuk bisa baca al-Quran dan tata cara shalat.

Setiap malam jum’at saya dan para ustadz melakukan tadabbur alam (refresing) ke Jalan Soekarno-Hatta (sekarang Taman Budaya). Sesama jejaka merasakan nikmatnya kebersamaan. Memasak bersama, tidur satu kamar, belajar bersama, olahraga bersama. Tidak lama kemudian saya dinobatkan menjadi direktur TPQ oleh Ust. Munir Fathullah (Menantu ketua Yayasan). Saya bertugas mengendalikan seluruh kegiatan TPQ dan Pengajian Dewasa. Saat itu jumlah santri mencapai 300 an santri dan 50 an jamaah dewasa. Di sela-sela kegiatan itu, saya masih harus merancang kurikulum dan membuat materi pembelajaran yang terdiri dari BCM (Bernyanyi, Cerita, Menulis).

Menjelang satu tahun keberadaan saya di Ashabul Kahfi ini, teman-teman asatidz satu persatu dari mereka keluar atau pindah tempat. Ada yang keluar karena ketidakpuasan mereka terhadap pimpinan yang kurang demokratis. Adapula yang keluar untuk mencari suasana lembaga yang kondusif. Bahkan ada yang keluar untuk merasakan kebebasan dan suasana yang apresiatif terhadap guru Al-Quran. Virus ketidakkerasanan ini akhirnya menjakiti saya juga. Kami dewan pengajar ini tidak tahu siapa yang salah, mengapa suasana padepokan ini kok pada akhirnya kurang kondusif. Mungkin kalau hanya satu orang yang keluar akibat ketidakpuasan wajar, tapi ini menjangkiti semuanya dan saya mengkhawatirkan terjadinya bad ending (su’ul khotimah) pada kedua belah pihak, kami dan yayasan. Akhirnya saya mencoba untuk berpamitan secara baik-baik dan menutupi segala kekecewaan. Saya meyakinkan pimpinan bahwa tidak pernah ada masalah diantara kita dan mengemukakan alasan-alasan logis untuk pindah.

KISAH HIDUPKU (10)

Empat tahun berkelana Akademik di Gajayana 50

Dua tahun pertama kuliah IAIN Sunan Ampel (sekarang UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), saya merasakan kesan bahwa kuliah itu melelahkan, monoton, pemborosan waktu. Hal itu terjadi karena saya berangkat dari Pesantren Watugede jam 05.30 sampai di kampus sekitar jam 07.00. Perkuliahannya pun kurang teratur, kadang 1 MK, kadang 2 atau 3. Seringkali waktu jeda terlalu panjang, jam kesatu masuk kemudian baru ada kuliah lagi sore hari jam16.00. Saya dan teman-teman yang rumahnya jauh memilih tiduran di masjid Tarbiyah.

Bila teman-teman pada aktif berorganisasi, berseminar, berdiskusi usai kuliah, maka saya terburu-buru pulang ke pesantren (pada semester 1-4) dan ke SAC Ashabul Kahfi (pada semester 5-6) agar tidak kemalaman. Pernah satu, dua hari saya tidak pulang ke pesantren, guna merasakan suasana kos-kosan seputar kampus atau pergi ke rental komputer sampai larut malam. Ku lihat lalu lalang mahasiswa ada yang berpacaran, bersendau gurau di warung-warung dan ada juga yang bermain musik dengan bernyanyi keras.

Sepintas saya merasakan indahnya kebebasan itu. Para mahasiswa jauh dari pengawasan orang tua, apalagi usia mereka merupakan usia berseminya rasa saling cinta diantara mereka. Mereka bebas pilih teman jalan, teman belajar dan teman cangkruk. Perasaan senang tersebut ternyata tidak bertahan lama, satu hari saja dalam kondisi bebas semacam itu, saya merasakan kejenuhan dan perlawanan dari dalam nurani saya, sehingga sedikitpun tidak terbersit dalam hati saya untuk pindah ke tempat kos.

Pada semester ke 5-6, relatif keletihan saya dalam beraktifitas sehari-hari terkurangi. Saya tinggal di Ashabul Kahfi yang hanya berjarak 2 KM dari kampus. Jalan kaki ke kampus hanya ditempuh maksimal 15 menit atau 5 menit dengan angkot. Kondisi tersebut membuat saya mulai ikut-ikut berorganisasi meski belum maksimal di HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) jurusan pendidikan bahasa Arab tahun 1996, saat itu diketuai mas Khoirul Mawahib. Beberapa seminar dan kajian kebahasan mulai sering saya ikuti. Kendatipun begitu, sore hari saya sudah harus kembali Ashabul kahfi untuk mengajar ngaji anak-anak kecil sampai malam hari.

Mungkin satu-satunya dosen yang memberikan banyak input kebahasaan dan keislaman adalah ust. Marzuqi. Dari beliaulah saya mulai banyak berkenalan dengan teks-teks bahasa Arab modern dari majalah, buku ilmiah sampai buku politik dan filsafat. Entah mengapa banyak materi kuliah yang hanya numpang lewat saja alias tidak membekas. Sejak semester satu saya memiliki target keilmuan tertentu. Itupun saya hanya mengandalkan perpustakaan. Seringkali buku yang saya pinjam itu bukan buku yang dianjurkan oleh dosen. Akan tetapi, buku yang saya pinjam adalah menjadi target penguasaan saya saat itu. Misalnya, semester ini saya harus bisa ilmu balaghah, maka setiap ke perpus saya pinjam buku tersebut. Bahkan, sering saya ke perpus itu hanya ingin mencari istilah yang tidak saya ketahui dari koran, buku ilmiah dll.

Anehnya, meski di jurusan bahasa Arab, saya lebih menguasai bidang tajwid dan qiraat sab’ah daripada bidang kebahasaaraban. Konsern pada bidang qiraat ini saya lanjutnya dalam penulisan skripsi. Alhamdulillah tiga bulanan berkonsentrasi, akhirnya saya bisa tuntaskan skripsi. Pada saat itu belum populer software office Arab, terpaksa saya tulis tangan. Syukurlah bahwa Allah memberi saya kemampuan menulis kaligrafi versi naskhi, sehingga lumayanlah hasilnya jelas dan enak untuk dibaca.

KISAH HIDUPKU (11)

Nyantri di PP. Sabilurrosyad Sambil Kos

Selepas menjalani program KKN (kuliah kerja nyata) yang sangat mengesankan di Desa Pringgondani Krajan Bulan Juni 1997, berat rasanya saya kembali ke Ashabul Kahfi, mungkin akibat terlalu lamanya (sekitar 40 hari) saya hidup tanpa ada beban mengajar anak mengaji tiap sore serta suasana manajemen yayasan yang kurang kondusif, akhirnya saya memutuskan untuk pindah tempat ke Pondok Pesantren Sabilur Rasyad di Gasek Karangbesuki Sukun Malang.

Sesaat setelah barang-barang saya bawa ke pesantren, terlihat bilik-bilik pesantren yang kumuh dan tempat buku yang berserak. Kemudian saya memutuskan untuk kos saja di utara pesantren, yaitu di rumah Ibu (mak) Jami’, satu kamar dengan mas Agus tricahyo dari Madiun (sekarang dosen STAIN Ponorogo). Hampir setiap malam dan pagi saya ikut pengajian Tafsir Ayatul Ahkam, Jami’us Saghir, Mizanul Kubro, Tanwirul Qulub, Jami’ud Durus, Ihya Ulumiddin bersama Ust. Marzuqi. Saya juga sempat belajar ilmu falak dan hisab bersama Ust. Murtadlo Amin.

Di pesantren ini, saya banyak melakukan diskusi rutin bersama mas Anis Khumaidi (sekarang dosen STAIN Kediri), Imam Ahmad, Ali Mahsun, Bahrul Ulwan, Shoim, Mat Bisri dll. Lebih dari itu, saya kadang sorogan sendiri pada ust. Marzuqi dengan memakai kitab fathul muin. Beliau (ust Marzuqi) sering memberi kejutan saya dengan menyuruh khutbah, seminar, ceramah secara spontan tanpa persiapan. Padahal sebelumnya tidak memiliki pengalaman sama sekali tentang itu. Tapi alhamdulillah sekarang menjadi terbiasa ceramah, khutbah tanpa teks.

Saya juga saat itu dilibatkan dalam beberapa kegiatan pesantren, seperti pembelajaran tartilul quran, sekretaris pribadi pengasuh, perbaikan rumah pengasuh. Setelah lulus ujian skripsi, saya meminta rekomendasi pada pengasuh untuk melanjutkan pendalaman bahasa Arab ke Lembaga Pengetahuan Islam Arab (LIPIA) Jakarta dan alhamdulillah bisa lulus.

KISAH HIDUPKU (12)

Setahun Bertualang Ilmu di Ibu Kota

Memang hidup ini penuh liku. Hanya berbekal ratusan ribu saja saya bersama mas Syamsul Ulum, Saiful Mustofa dan Slamet Daroini (mereka sekarang dosen UIN Malang) nekat pergi ke Ibu Kota guna mendaftar dan ikut tes seleksi. Pergi kesana dengan naik kereta Matarmaja sampai pasar Senen dan menginap di masjid Istiqlal sekitar dua hari. Makannya selalu ke Warteg dan jalan-jalan pakai KRL (kereta listrik). Satu-satunya hiburan saya dan teman-teman yaitu Monas. Untungnya paman mas Syamsul, pak Nurul Murtadlo, sedang menempuh s3 di Universitas Indonesia dan kos di daerah Cikini, sehingga kita berdua ikut numpang sekitar 3 hari.

Namun, takdir berbicara lain, mas Syamsul dan Syaiful belum beruntung, tidak diterima di LIPIA. Saya sebetulnya pesimis untuk bisa diterima, kenapa? Kemampuan kalam saya sangat lemah, lebih-lebih dites oleh native speaker dari Saudi dan Mesir. Luar biasanya, ternyata penguji hanya bertanya: madza tuallim? Saya jawab: uallim quran. Mereka tanya lagi: madza istimror hadzihil ayah….. dst. Jadi saya terselamatkan oleh al-Quran dan saya lolos bersama 30 mahasiswa lain seluruh Indonesia dari 300-an peserta ujian.

Di LIPIA saya merasakan perkembangan penguasaan bahasa Arab saya relatif pesat. Ada banyak faktor yang mempengaruhi, diantaranya kita dipaksa untuk mendengar ucapan bahasa Arab dari pemilik bahasa dan berbicara dengan mereka. Terlebih lagi saya tinggal di asrama satu kamar dengan 6 mahasiswa I’dadul lughah. Hampir tiap malam kita adakan munaqashah berbahasa Arab dengan membahas hadis dari kitab riyadus sholihin. Namun pada sisi lain, saya merasa tidak nyaman dengan suhu Jakarta yang sangat panas. Saking panasnya hampir tiap tidur malam saya melepas baju dan tidur di atas lantai, tepat di bawah kipas besar dengan semua jendela terbuka. Jarak antara kampus (di Salemba) dan asrama (Bukit Duri) juga jauh dapat ditempuh 30 menit pada pagi hari dan 90 menit lebih pada sore hari. Hampir tiap pagi saya pergi ke kawasan Senayan, tepatnya di British Council, hanya untuk baca-baca buku berbahasa Inggris dan latihan listening. Atau kalau tidak, saya pergi ke Perpustakaan Nasional di sebelah kampus guna baca-baca koran-koran lokal maupun internasional.

Demikian juga halnya pada hari libur, hari sabtu minggu. Selalu saya manfaatkan untuk jalan-jalan ke tempat wisata seperti Ragunan, Ancol, TMII, Kebon Raya Bogor, kampus UIN Ciputat, Masjid Istiqlal dll. Hal yang menarik bahwa selama di Jakarta saya kemanapun pergi selalu membawa tas besar yang berisi: sebotol air putih, sebungkus nasi warteg, plastik tempat sandal, payung dan kertas koran. Air putih biasa untuk mengobati rasa haus dan ngirit, sebungkus nasi warteg untuk mengobati rasa lapar dan ngirit (cukup Rp. 1200 tahun 1999, daripada beli warung lain 3 x lipat). Plastik digunakan ketika di masjid sandal bisa lebih aman dan ngirit tanpa dititipkan, payung sebagai antisipasi hujan dan kertas koran untuk duduk-duduk di Monas.

Syukur alhamdulillah selama di LIPIA, orang tua di rumah tidak lagi terbebani dengan memberi uang bulanan. Meski beasiswa yang saya terima hanya 200 riyal (sekitar 500 rb untuk kurs rupiah saat itu). Saya bisa beli buku lebih dari 20 judul, bahkan masih punya tabungan sekitar 2 juta ketika pulang.

KISAH HIDUPKU (13)

Pengembaraan Akademis-Dialogis di Asrama Bukit Duri

Entah apa yang melatarbelakangi pengalaman akademis saya, bahwa sebelum mengais ilmu di LIPIA, saya termasuk mahasiswa STAIN (UIN Malang sekarang) yang “alergi” baca terjemahan, apalagi baca buku versi liberal Nurcholis Madjid, Harun Nasution, atau versi syiah Jalaluddin Rakhmat. Selama empat belajar, saya hanya menumpuk buku-buku berbahasa Arab versi ahlussunnah saja. Tetapi anehnya setelah belajar di LIPIA yang notabene tekstualis-dogmatis, saya justru mulai tertarik pada buku-buku “Islam Alternatif”. Setiap Jum’at Sore akhir bulan saya menyempatkan diri mengikuti kajian ekslusif Islam bersama Nurcholis Madjid di Hotel Regent Kuningan Jakarta.

Saya mulai bosan menghafal teks-teks fiqh dan nahwu. Hampir tiap malam saya “berdebat” dengan teman-teman di Asrama Bukit Duri tentang liberal vs dogmatis, piagam madinah vs piagam Jakarta, ijtihad vs bid’ah. Saya selalu memposisikan sebagai pembela ide-ide kaum modernis yang selalu dianggap sesat.

Di kampus pun saya lebih suka mendalami bahasa daripada materi-materi agama versi “Saudi” yang sering saya pelajari di Aliyah dulu. Di kelas, saya mencatat hampir setiap ada ungkapan bahasa Arab yang bagus atau mufrrodat baru. Materi hadis yang semestinya menarik, sering dijadikan media oleh dosen untuk memblacklist beberapa kitab-kitab populer, seperti Ihya Ulumiddin, Durrotun Nasihin, Tanbihul Ghafilin dll. Ironisnya, materi al-Quran hanya berisikan tadarus bergilir  dan hafalan surat Lukman dan Al-Hujurat. Dosen dari Saudi Arabia hanya menunjuk mahasiswa untuk baca dan mengucapkan “ahsanta” seperti kata “bagus” ala Pak Tino Sidin Era tahun 80-an.

Saya belajar dalam kondisi semacam itu sekitar satu tahun bersama teman-teman dari seluruh Indonesia. Saya masih ingat ada Pundra dari Kalimantan, Najmuddin dari Sulawesi, Rahmat dari Jogja, M. Iqbal dari Jawa Barat dll. Kadang-kadang teman-teman merasa jenuh didoktrin hal yang bertentangan dengan nuraninya, lalu mereka berdebat. Padahal kurikulum LIPIA itu tidak memberikan ruang untuk diskusi untuk semua matakuliah.

KISAH HIDUPKU (14)

Kembali Turun Gunung Ke Malang

Bulan Juni 1999, usai diwisuda sebenarnya saya tidak berniat untuk pulang kampung. Saya mencoba mendaftar S2 di Fakultas Filsafat Universitas Indonesia ternyata keburu ditutup. Kemudian saya alihkan niat saya untuk mendaftar S2 di IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN Jakarta). Formulir sudah saya dapatkan, surat rekomendasi dari 2 orang sudah saya minta dari dosen saya di Malang. Motivasi utama kuliah di Jakarta adalah harapan yang tinggi untuk mendapatkan beasiswa. Belum sempat saya kembalikan formulir, ada info dari beberapa dosen di STAIN Malang (UIN Malang) bahwa di kampus tempat saya kuliah S1 dulu akan membuka program pascasarjana dan memberikan beasiswa untuk mahasiswanya.

Mendengar info tersebut, saya berubah pikiran dan memutuskan untuk kuliah di Malang sambil cari pekerjaan di sana. Setibanya di Malang, saya tinggal di kosan dulu di rumah pak Tohari sebelah utara Pesantren Sabilur Rosyad. Di sana saya nyantri lagi pada Ust. Marzuqi, bahkan ikut membantu pembangunan pesantren. Oleh beliau, saya disarankan untuk mendaftar sebagai dosen luar biasa pada Program Khusus Pembelajaran Bahasa Arab (PKPBA) di STAIN Malang. Saya sangat berterima kasih kepada Ust. Marzuqi yang memperkenal saya dengan beberapa dosen dan meyakinkan mereka bahwa saya layak menjadi dosen PKPBA.

Setelah memasukkan surat lamaran kerja, akhirnya saya diundang untuk ikut seleksi. Seleksi dilaksanakan mulai pagi jam 8 sampai jam 4 sore dan diikuti oleh sekitar 30 orang, 6 diantaranya tamatan S1 Al-Azhar Mesir, dan 1 orang tamatan S2 Pakistan. Dari jumlah tersebut, hanya akan diambil 15 orang saja. Materi ujian cukup lengkap; ada tes kitabah, qiroah, istima’ dan kalam. Ujian tersebut saya lalui dengan lancar, meski beberapa tes saya kurang optimis dapat nilai baik.

Seminggu setelah itu, ibu saya tercinta berpulang ke hadirat Allah, dan saya harus ke Banyuwangi dalam rangka itu. Empat hari berikutnya ada informasi dari Malang, ternyata saya mendapatkan nilai tes tertinggi. Hal ini sangat mengejutkan sekaligus membahagiakan saya. Sebab, selepas dapat nilai NEM tertinggi se Madrasah Ibtidaiyah “Darul Huda”, saya tidak pernah lagi berprestasi di tingkat SLTP, SLTA maupun perguruan tinggi. Saya menyadari itu sebagai takdir kemampuan saya; IQ pas-pasan dan belajar kurang sungguh-sungguh. Saya sempat berpikir mungkin ini adalah buah dari ketulusan doa orang tua saya dan juga guru-guru saya dulu.

KISAH HIDUPKU (15)

Dua Tahun dalam Dualisme Belajar dan Mengajar

Pada Agustus 1999, saya memulai aktifitas sebagai dosen Bahasa Arab, sekaligus menjadi mahasiswa di program pascasarjana. Angkatan pertama S2 saya, ditemani 10 orang (Sutaman, Abdul Hamid, Tonthowi, Bisri, Slamet, Uril, Masyhur, syamsul, Fajri, Haris). Pagi hari jam 07.00 sudah harus berangkat dari Pesantren Gasek dan baru selesai jam 11.00 mulai Senin sampai Kamis, selepas itu kadang pergi ke perpus atau mengerjakan tugas rutin kuliah. Maklum, kuliah S2 itu identik dengan tugas dan presentasi, hingga beberapa dosen malas memberi penjelasan sepanjang perkuliahan. Entah belum siap ngajar atau ingin lebih taat pada sistem. Tepat jam 14.00 saya sudah harus berada di depan kelas untuk mengajar, sampai jam 20.00. Bisa dibayangkan betapa letihnya keseharian aktifitasku. Saat itu gajiku Rp. 5000 perjam perkuliahan (90 menit). Perkuliahan PKPBA dibagi menjadi 3 jam (14.00 – 15.30, 16.00-17.30, dan 18.30-20.00). Andaikan masuk tiap hari, senin – jumat, gajiku hanya 3x5x5000=75.000 dan tidak ada uang transport. Tepat sekali, jika pak Imam Suprayogo (mantan ketua STAIN Malang) mengatakan bahwa para dosen PKPBA adalah para mujahid (pejuang sejati) dan belum ada lembaga lain yang sukses menciptakan pejuang-pejuang semacam itu.

Sisi lain, beasiswa yang santer dijanjikan tidak kunjung jelas apalagi cair. Namun demikian, ternyata Allah maha kaya, seingat saya belum pernah kesulitan cari makan, transport, fotokopi materi dll dan belum pernah terbelit hutang. Beruntung saya masih punya simpanan dari LIPIA dulu yang cukup untuk bayar SPP semester pertama. Sebetulnya saya sangat menikmati perkuliahan, hanya saja kekurang profesionalan lembaga dalam memilih dosen menjadikan mahasiswa sebagai lahan percobaan. Bayangkan, S2 bahasa Arab banyak diajar oleh pakar-pakar bahasa Inggris, sehingga terkesan dipaksakan. Bahkan beberapa dosen sempat didemo dan akhirnya dinonaktifkan.

Satu dosen yang sangat elegan dan smart masih terus terngiang dalam ingatan, yaitu Prof. Dr. Abdul Wahab (alm). Kendatipun pakar semantik Inggris,  beliau selalu memberi kesempatan teman-teman untuk mencari padanan dalam bahasa Arab. Kesantunan dan kesetiaan melayani kami yang mayoritas lemah dalam bahasa Inggris menjadikannya sebagai sosok pengajar ideal. Kami semua pernah juga diberikan kejutan kuliah di Restoran dan semua biaya beliau yang tanggung.

KISAH HIDUPKU (16)

Bertemu dengan pendamping hidup, Antara Magis dan Fakta

Pengalaman bercinta adalah pengalaman terindah dalam hidup, kata orang bijak. Janganlah diingkari apa yang tuhan beri, itulah kutipan senandung Meggy Z. Sejak duduk di bangku Ibtidaiyah sampai kuliah, saya tidak bisa ingkari adanya getaran-getaran perasaan terhadap seorang wanita. Kadang getaran itu bersambut, sering terpendam begitu saja dan pernah juga tertolak. Itulah romantika indah tak terlupakan. Namun demikian, hidup itu bagai kapal yang tidak selamanya terombang-ambing di tengah samudra luas. Pada saatnya ia harus berlabuh dan menghentikan petualangan.

Pasca comeback saya (dari Jakarta) ke STAIN Malang, sering saya berpapasan dengan adik kelas, yakni seorang mahasiswi yang manis dan smart asal Trenggalek, namanya Sri Hidayati. Setiap kali bertemu dengannya, selalu saja dia menanyakan hal-hal terkait masalah akademis. Lama-lama nurani saya berbicara:”usia saya sudah 25 tahun, saatnya untuk cari pendamping. Seandainya dia mau dengan saya mungkin, pasti saya juga mau dengannya. Tapi bagaimana saya memulai berbicara untuk mengungkap semua perasaan tersebut.

Suatu ketika ust. Marzuqi memberi tahu bahwa dia curhat tentang jodoh dan mohon di-istikharah-kan. Pada saat yang sama saya juga melakukan istikharah, siapa tahu dia cocok dengan saya meski belum ada pembicaraan apapun. Malam itu, usai istikharah saya tidur dan bermimpi melihat kolam yang dipenuhi debu. Lalu saya coba menyentuh kolam itu. Ternyata kolam tersebut sangat jernih dan memiliki banyak ikan yang indah. Usai terbangun, saya coba menafsirkan mimpi tersebut. Katanya, air mengalir itu simbol rizqi, ikan warna-warni itu simbol kesuburan seorang wanita dan debu yang menyelimuti kolam adalah simbol ujian yang tidak terlalu berat. Setelah itu saya menyimpulkan sendiri bahwa si gadis tersebut cocok bagi saya.

Tanpa berpikir panjang, di sela-sela mengikuti pengajian Ust. Marzuqi di Masjid Poltek Joyo Grand, saya memberanikan diri untuk menceritakan mimpi dan ta’wilnya pada beliau. Ternyata beliau juga mendukung dan akan menyampaikannya pada si gadis tersebut. Akhirnya, dia membuka pintu negosiasi yang dimediatori ust. Marzuqi. Sejak saat itulah diantara saya dan dia ada hubungan emosional yang semakin baik. Tiga bulan berikutnya keluarga saya melamar secara resmi dan akhirnya menjadi istri saya hingga saat ini dan semoga selamanya.

Belakangan dia cerita, bahwa sebelum memutuskan untuk curhat pada Ust. Marzuqi, dia sering pada  malam Jum’at mengamalkan bacaan surat Yasin  sebanyak 40 kali, terutama ketika banyak didera masalah. Beberapa kali usai membaca amalan tersebut dia bermimpi dipanggil ust. Marzuqi agar mau berkunjung ke pesantrennya di Gasek. Karena seringnya itulah dia penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi ketika sampai di sana. Mungkin ini cara Allah mempertemukan saya dengan dia, kala lidah tak kuasa tuk berbicara dan saat hati tak kuasa tuk membendung perasaan cinta yang bersemi. Alhasil, tepat tanggal 20 Juli 2000 jam 11 di Dusun Kedung Maron Desa Mlinjon Kec. Karangan Trenggalek, saya bersanding dengan istri tercinta di pelaminan dengan maskawin seperangkat alat shalat dan uang Rp. 100.000, murahkan khan?

Ada beberapa kejadian unik pada hari pernikahan. Jauh sebelum hari H saya sudah mempersiapkan para pengisi acara. Ust. Marzuqi sebagai penceramah, Ali Mahsun sebagai qori’ dan ust. Murtadlo sebagai wakil mempelai putra. 24 jam sebelum acara, saya masih di Malang menunggu rombongan dari Banyuwangi yang rencananya akan datang menjelang Maghrib. Satu demi satu berita tidak enak datang. Ust. Marzuqi membatalkan hadir lantaran harus mengikuti Diklat Prajabatan di Jalan Kawi Malang. Ust. Ali Mahsun secara mendadak juga membatalkan karena ada acara di Blora Jateng. Ust. Murtadlo bisa ikut dengan syarat ada mobil rombongan yang ke Trenggalek. Lebih mengenaskan lagi, mobil rombongan keluarga Banyuwangi mogok di daerah Singosari sampai pagi hari, padahal pengantin putra harus sudah sampai ke lokasi jam 8 pagi untuk kemudian dirias.

Setelah sampai jam 6 pagi mobil rombongan masih belum bisa jalan, saya terpaksa naik bus umum ke Trenggalek dengan memakai jaket KKN 97 yang sudah kusam. Jam menunjukkan pukul 10.00, belum juga saya sampai di lokasi, padahal tertulis di undangan bahwa akad nikah dilaksanakan tepat pukul 10.00. Baru satu jam berikutnya saya datang dengan mengendarai motor ojek. Para undangan sungguh terkejut ketika melihat pengantinnya pakai jaket kusam, naik ojek tanpa diikuti keluarga dan terlambat lagi. Meski demikian, acara berlangsung khidmat dan lancar.

Pada saat yang sama, mayoritas undangan dari Malang dan Pasuruan batal datang akibat langka BBM dan antrian panjang, tapi alhamdulillah beberapa dari mereka bisa datang meski pada jam 9 malam. Mungkin ini makna dari mimpi saya dulu, kolam yang berselimutkan debu.

KISAH HIDUPKU (17)

Meniti Tangga Suka dan duka dalam rumah tangga pemula

Sesaat setelah pesta usai, saya dan istri merasakan indahnya perkawinan dan manisnya kebersamaan. Kebetulan saat itu saya libur dua minggu, jadi relatif tidak ada aktifitas yang menghalangi bulan madu kami. Selama dua minggu itu kami berada di rumah mertua, Trenggalek. Dari pagi hingga sore hari, kegiataan kami hanya makan, tidur, “manten anyaran”, anjangsana, nonton teve, canda dengan keluarga. Bahkan menu makan saya sangat berlebihan, kadang makan sampai 4-5 kali sehari. Lauknya juga bebas, bisa ambil sendiri telor atau ayam dari kandang belakang rumah. Sering sekali makan lauknya 5 telor, maklum gratis dan cangkangnya agak rusak (biasanya tidak laku dijual). Maka tak heran, jika berat badan saya meluncur dari 70 Kg menjadi 80 Kg dalam waktu yang singkat.

Dua minggu berikutnya giliran diadakan walimah di Banyuwangi tepatnya 4 Agustus 2000, satu rombongan bis besar (berisi sekitar 55 orang) dari Trenggalek ikut ke Banyuwangi. Bagi masyarakat Banyuwangi jumlah pengiring sebanyak itu tidak lazim, sehingga bagian dapur sempat kalang kabut menyiapkan segala sesuatunya. Usai acara itu, kami berdua juga melakukan anjangsana ke sanak famili. Hanya saja dari sisi makanan tidak sebebas di Trenggalek. Namun di Banyuwangi relatif banyak tempat wisata, ada pantai THR (taman hiburan rakyat) Banyuwangi, Wisata Kali Kotak (kolam renang), Wisata Watu Dodol dll.

Seminggu berikutnya mulailah saya dan istri menjalani hidup berumah tangga yang sesungguhnya, yakni hidup di rumah kos (hanya satu kamar) di sebelah utara Pesantren Sabilur Rasyad Gasek. Saya tidak mempersiapkan apapun untuk menyambut kedatangan istri. Untungnya, istri jauh-jauh hari sudah mengumpulkan kebutuhan rumah tangga, seperti magic jar, tape recorder, dari hasil mengetikkan skripsi temannya. Meski sudah mengajar di STAIN sejak 1999, saya tidak memiliki simpanan apa-apa, maklum dosen honorer alias DTT (Dosen Tidak Tetap). Gaji saya saat itu hanya 150 rb perbulan, dari uang itu untuk bayar kos 30 rb dan transport dari Gasek ke kampus minimal 2 rb perhari. Pada waktu yang sama saya harus membeli dan fotokopi buku untuk studi S2 dan lainnya. Patut saya syukuri, meski kondisinya seperti ini, tidak pernah kami berdua tidak makan dan berhutang ke tetangga. Mungkin inilah rahasia firman Allah: in yakunu fuqara yughnihimullah min fadlih (apabila orang yang menikah itu miskin, Allahlah yang akan membuat dia kaya).

KISAH HIDUPKU (18)

Karunia Ilahi mulai terbuka lebar

Seiring berjalannya waktu, rizqi kami mulai terbuka. Ada tawaran mengajar di Unisma, UYP Pasuruan, STIT Raden RahmatTerjemah al-Quran Istiqlal pertengahan tahun 2000. Alhamdulillah, empat bulan setelah menikah istri saya hamil. Entah kenapa tiba-tiba dia tidak lagi betah tinggal di rumah kos tersebut. Mungkin, karena kamar tempat kami tinggal itu dikelilingi kamar yang dihuni mahasiswa, atau karena pemilik rumah yang cerewet. Akhirnya mau tidak mau semakin mendekati persalinan semakin tidak tahan dan kepingin pindah. Saya mencoba cari rumah kontrakan yang murah di bawah satu juta setahun. Ternyata tidak ketemu, terpaksa saya cari rumah yang jauh dari kota dan kondisinya sangat sederhana bahkan sedikit kurang layak, yaitu di perumahan Vila Bukit Tidar dekat desa Genting. Maklum, harga kontraknya hanya 250 rb/tahun.

Namun demikian, istri lebih memilih melahirkan di Trenggalek. Lahirlah anakku yang pertama Nafila Lana Amalia (Amalnya menjadi tabungan kami kedua orang tuanya). Sampai dia berusia 4 bulan, baru boleh pulang ke Malang. Selama 4 bulan itu, saya harus tinggal sendirian di kontrakan baru sambil menyelesaikan tesis S2. Awalnya karena tidak punya komputer, saya sering keluar rumah sampai larut malam. Akhirnya saya menyewa komputer teman 15 rb/hari selama 10 hari. Tanpa terasa selesai juga tesis saya dalam dua bahasa, Indonesia dan Arab. Saya percaya bahwa semangat tinggi untuk sukses akan mengecilkan cobaan yang begitu terjal. Kebetulan pembimbing S2 saya Prof. Baradja, beliau sangat disiplin, prosedural dan jeli. Berulang kali lembaran tesis saya dicorat-coret sampai hal yang remeh (seperti penulisan titik dan huruf kapital). Setiap konsultasi harus didahului kontak telepon dan janji, serta tempatnya harus di kamar khusus beliau. Teman saya Zaid bin Smeer, agak putus asa melihat tradisi pembimbingan beliau dan selesai agak lama. Sedikitpun saya tidak gentar untuk meladeni “keinginan” beliau. Modal itulah yang mempercepat saya menyelesaikan tesis.

Alangkah bahagianya saya, setelah istri dan anak pertama saya sudah serumah di gubuk sederhana. Tak lama kemudian saya diwisuda S2 tepat dua tahun kuliah melampaui semua teman saya yang sudah PNS di UIN Malang. Sempat ada sindiran: “untuk apa cepat selesai S2, kalau ijazahnya tidak segera dipakai” (saat itu saya belum PNS dan teman yang menyindir itu sudah PNS). Mungkin “kualat”, si penyindir itu baru lulus 4 tahun kemudian dan sempat dikaryawankan.

Tanpa diduga, setelah itu tahun 2002 saya mendapatkan tawaran penterjemahan dari tim peneliti Unisma melalui P Masykuri sebanyak 500 lb dengan kontrak 5000 perlembar, total 2,5 jt. Inilah awal kebangkitan ekonomi saya. 1 jt saya belikan Hp Nokia 3310 dan 1,5 jt saya belikan komputer bekas setara Pentium II. Sisi lain, saya mulai diberi kepercayaan untuk mengajar di Unisma dengan gaji seratusan ribu dan STIT Raden Rakhmat yang ditempatkan di Mts Wahid Hasyim Batu dengan gaji yang hampir sama. Satu-satunya alat transportasi saya adalah Suzuki Bravo 1997 pemberian mertua. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa punya Televisi Hitam Putih bekas seharga 150 rb dan rak buku sederhana (rakitan sendiri).

KISAH HIDUPKU (19)

Kesempatan datang  ketika dalam kesempitan

Sampai tahun 2003, saya merasa belum puas bisa menghabiskan waktu saya, padahal mulai jam 11 pagi sampai jam 10 malam saya kerja. Sebab pagi hari, aktivitas saya kosong. Sampai-sampai saya pernah mengajukan lamaran ke MAN dan MIN di jalan Bandung, tapi belum beruntung. Saya juga pernah mengajukan lamaran PNS untuk Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) di UM tahun 2002, pada tahap administrasi saja saya gugur. Ijazah S2 PBA saya ternyata tidak bisa dipakai untuk formasi PAI. Pertengahan 2003 saya penuh optimisme mendaftar PNS formasi Dosen Sastra Arab di UIN Malang. Lagi-lagi, upaya saya kandas akibat pertanyaan saya yang jujur pada staf BAUK UIN dan jawaban yang kurang jujur. Pasalnya, daripada nanti saya gagal di seleksi administrasi lebih baik saya tanya dulu, apa boleh ijazah Pendidikan Bahasa Arab digunakan untuk pendaftaran formasi Sastra Arab? Beberapa teman telah menyarankan saya untuk coba-coba saja siapa tahu beruntung alias spekulasi. Tapi saya waswas dan menanyakan hal itu dan dijawab normatif: “tidak bisa”. Lalu saya menarik berkas saya dan mengurungkan niat saya untuk daftar. Belakangan, ternyata beberapa teman yang berijazah PBA seperti Taufiqur Rahman, Nurhadi bisa lolos jadi PNS dengan formasi Sastra Arab.

Pantang menyerah, usai pencabutan berkas dari UIN saya meluncur ke STAIN Ponorogo untuk mengadu keberuntungan di sana bersama pak Mukhlas (kini Dosen di sana). Melawan panasnya terik matahari di langit Ponorogo ditambah dengan puasa yang saya jalani demi janin anak saya ke dua. Lagi-lagi keberuntungan belum berpihak pada saya, hanya gara-gara fotokopi KTP yang tidak dilegalisir saya tidak diberi kartu peserta ujian. Saya begitu kecewa lantaran belum bisa berkompetisi adu otak dengan kompetitor saya dan harus kalah sebelum bertanding. Kondisi murung tersebut tidak lama kemudian hilang seiring dengan munculnya peluang berikutnya dari UM yang mencari dosen PAI 4 orang dan PBA 1 orang. Trauma 2002 masih membayangi alam pikir saya, jangan-jangan gagal lagi di persyaratan administrasi. Ternyata setelah daftar, saya bisa dapat kartu peserta ujian dengan formasi PBA. Dalam pembicaraan santai dengan teman saya Khoirul Adib di Universitas Yudharta Pasuruan, menggoyahkan pendirian saya dan memutuskan untuk pindah ke formasi PAI.

Sebelum maju untuk pengurusan kepindahan formasi, saya begitu apriori dengan trauma saya tahun sebelumnya dan kekurangramahan staf yang saya rasakan di UIN Malang. Sungguh pengalaman yang di luar dugaan, staf UM dengan ramahnya menanyakan alasan kepindahan dan mengantarkan saya dengan sabar ke Kabag Kepegawaian untuk minta persetujuan itu dan alhamdulillah disetujui tanpa proses yang berbelit. Pada saat ujian, saya merasa sangat menguasai soal bahasa Inggris dan Agama, serta tes baca kitab dan praktek mengajar. Melihat kondisi itu, optimisme saya sangat tinggi sekitar 95%. Tapi rasa waswas gagal juga masih muncul. Maklum pesertanya mencapai 40 orang dan hanya diterima 4 orang saja. Mereka umumnya dari jurusan Tafsir, Ushuluddin, Syariah di IAIN terkemuka seperti IAIN Sunan Kalijaga, IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sementara saya berasal dari jurusan yang tidak linier dengan PAI, yaitu PBA. Sekian lama menunggu, akhirnya saya lolos dan lulus dengan peringkat nilai tertinggi. Spontan semua perasaan kegagalan saya sirna.

KISAH HIDUPKU (20)

Pasca pengumuman penerimaan CPNS

Setelah lama menunggu, akhirnya pengumuman penerimaan CPNS itu datang juga. Sesaat kemudian semua berkas yang dibutuhkan dikirim ke Jakarta. Namun, ketika semua berkas dari teman-teman satu angkatan (sekitar 30 orang) dikirim ke Jakarta, ada informasi bahwa empat orang tidak mengirim berkas secara lengkap di antaranya saya. Alangkah terkejutnya, bahwa berkas yang sudah saya teliti dan saya anggap lengkap itu ternyata ada yang hilang, yaitu fotokopi ijazah. Akhirnya, saya harus ngongkosi orang yang pergi ke Jakarta utnuk mengurus kekurangan berkas itu. Dan alhamdulillah akhirnya beres juga.

Biasanya, orang yang mendaftar untuk mengikuti ujian PNS itu harus menggunakan uang pelicin yang diberikan kepada pihak-pihak yang dipandang memiliki otoritas untuk meluluskan. Atau kalau tidak sebelum ujian, beberapa lembaga khususnya yang di bawah naungan Depag/Kemenag memotong secara sepihak gaji rapelan dari orang yang telah diterima sebagai CPNS. Besarannya antara 3 -5 juta perorang. Macam-macam alasannya, ada yang bilang untuk pengurusan berkas ke Jakarta, untuk tasyakkuran lembaga, atau untuk memberikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang meloloskan, meskipun itu omong kosang semua. Intinya budaya orde baru yang memeras orang yang diterima sebagai CPNS, terus berlangsung.

Tetapi di Universitas Negeri Malang, alhamdulillah tidak dijumpai budaya-budaya “kotor” semacam itu. Bahkan lembaga secara tegas menolak untuk memeras para CPNS dan sepeserpun tidak meminta kepada mereka. Hanya saja, kami sendiri yang berinisiatif untuk memberikan parcel yang berisi buah-buahan kepada pegawai administrasi yang selama ini membantu kami, hanya itu saja.

Kadang saya heran kenapa lembaga yang mengurusi masalah agama kalah jauh dengan lembaga sekuler dari aspek kejujuran, transparansi, akuntabilitas.

KISAH HIDUPKU (21)

Adaptasi dengan suasana kerja baru

Mengawali karir sebagai dosen Pendidikan Agama Islam dan bahasa Arab di Universitas yang baru diperlukan banyak penyesuaian/adaptasi. Misalnya kedisiplinan, tepat waktu, meneliti, menulis artikel dll. Tradisi itu tidak pernah saya jumpai di perguruan tinggi lain yang pernah saya masuki. Memang awalnya ada penolakan dari diri saya, mengapa sih Universitas Negeri Malang terlalu kaku dalam menerapkan kedisiplinan dan mengapa dosen-dosen Universitas Negeri Malang itu terlalu serius kerja kurang santai?

Ternyata lama-lama saya terbiasa dengan suasana kerja seperti itu, bahkan di luar dugaan justru keakraban sesama dosen, baik senior maupun yunior, tampak hangat dan cair. Seakan perbedaan usia, jabatan dan keilmuan tidak menjadi sekat yang menghalangi diantara kita untuk berkomunikasi secara elegan. Di universitas lain, saya tidak menjumpai tradisi seperti ini. Biasanya, dosen senior cenderung menjaga jarak dengan dosen yunior.

Hal yang sangat membanggakan saya adalah tradisi menulis dan meneliti. Dulunya, relatif saya tidak pernah menulis artikel di koran maupun majalah, apalagi menulis proposal penelitian. Ternyata suasana kehidupan akademik di Universitas Negeri Malang cukup memacu dan memicu saya untuk “ikut-ikutan” belajar menulis. Kebetulan teman-teman seangkatan saya yang diterima sebagai dosen Pendidikan Agama Islam, yaitu Munjin, Yusuf Hanafi dan Khoirul Adib, mereka merupakan penulis-penulis handal yang malang melintang di dunia jurnalistik dan penulisan buku.

KISAH HIDUPKU (22)

Menjadi Pembina BDM (Badan Dakwah Masjid) yang menantang

Suasana pembelajaran agama di perguruan tinggi umum sedikit berbeda dengan perguruan tinggi Islam seperti di UIN, IAIN, STAIN, dll. Satu dari sekian hal yang berbeda adalah dari aspek semangat religiusitas. Di UIN semangat religiusitas cenderung “adem ayem” alias biasa-biasa saja. Di sana mahasiswa tidak mendapatkan tantangan baru, karena semua muslim dan rata-rata alumni pesantren, jadi kondisinya tidak banyak berubah dari komunitas asal masing-masing mahasiswa.

Di perguruan tinggi umum seperti Universitas Negeri Malang, di sana mahasiswa muslim berkompetisi dalam hal akademis maupun politis. Emosi keagamaan mudah tersulut oleh setiap peristiwa yang memarginalkan Islam. Sehingga, tidak heran organisasi-organisasi Pergerakan Islam mudah tumbuh subur di sana. Sebut saja ada gerakan Hizbut Tahrir, KAMMI, NII yang menyelinap dalam gerakan internal mahasiswa. Gerakan Islam moderat atau liberal, kurang diminati oleh mahasiswa PTU. Mereka lebih suka gerakan Islam yang mengedapankan “aksi dan reaksi” daripada sekedar “diskusi filosofis”.

Di Universitas Negeri Malang, terdapat unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang bernama BDM (Badan Dakwah Masjid). Sejak tahun 90-an, organisasi ini banyak diikuti aktifis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), bahkan menelorkan alumni yang berkiprah secara nasional di bawah bendera HTI. Meski tidak secara langsung terintegrasi di dalamnya, HTI cukup mewarnai setiap kegiatan yang diadakan. Namun, lama kelamaan, civitas akademik Universitas Negeri Malang terutama dosen-dosen Agama Islam dan jajaran pimpinan universitas, mulai merasa resah dengan kiprah yang diperankan selama ini. Misalnya mereka suka mengungkit keabsahan sistem demokrasi secara syar’I, mereka melakukan simpliflikasi solusi setiap persoalan dengan sistem khilafah, mereka lebih suka belajar Islam “idealis” daripada Islam “realistis”. Dalam konteks ini, mereka sering berbenturan dengan semangat Islam “akademis”, kearifan bertindak, toleransi dalam menyikapi perbedaan pendapat dari para dosen agama Islam dan kebijakan universitas.

Pada tahun 2005-2006, saya dipercaya teman-teman dosen PAI (pendidikan agama Islam) untuk ikut membina BDM, dengan satu harapan agar mereka kembali pada track yang benar, yakni menyemarakkan dakwah Islamiyah yang sejuk dan meningkatkan pemahaman keislaman yang bisa diterima semua pihak. Pada prakteknya memang susah untuk melakukan perubahan secara drastis. Mereka sering membangun sikap taqiyah “kepura-puraan” untuk menjalankan amanah dari para dosen dan pimpinan. Buktinya; kegiatan pengajian HTI masih intens dilakukan dan pertemuan LDK (lembaga dakwah kampus) tingkat nasional menjadi kendaraan silaturrahmi sesama aktifis HTI.

KISAH HIDUPKU (23)

Masa-masa Berat Menjadi Sekretaris LEPPA

Tak lama berselang, kembali teman-teman dosen PAI mendaulat saya menjadi sekretaris LEPPA masa bakti 2006-2010 mendampingi sang ketua bapak Syafruddin. Di awal perjalanan saya menduduki jabatan tersebut, begitu banyak tantangan dan rintangan yang menghadang, yaitu masalah transparansi keuangan, manajemen administrasi, sarana prasarana, kredibilitas lembaga dsb. Lima bulan pertama saya merelakan diri untuk keluar masuk ruang kepala biro keuangan (BAUK) hingga rektorat untuk negosiasi penggantian staf lama. Bahkan saya harus rela dibenci dan dimusuhi karyawan atas sabotase pekerjaan yang saya lakukan.

Seiring perjalanan waktu, sedikit demi sedikit sekarang sudah mulai tertata. Ruangan yang sudah sekian tahun dipinjam unit lain, kini sudah kembali, meski melewati proses negosiasi yang sangat panjang dan melelahkan.

KISAH HIDUPKU (24)

11 tahun yang menyenangkan di Vila Bukit Tidar

Semenjak saya hijrah ke perumahan Villa Bukit Tidar Agustus 2001, pengalaman hidup berharga banyak saya dapatkan di sana. Sama sekali di luar dugaan banyak orang, komunitas perumahan yang umumnya nafsi-nafsi, egois, pagar rumah menjulang. Ternyata di sana berbeda secara diametral dengan perumahan serupa di tempat lain, satu dengan yang lain saling sapa, kerjasama dan toleransi yang tinggi, hingga memikat siapapun untuk berlama-lama tinggal di sana atau mungkin memilih untuk tinggal selamanya. Bahkan, kerukunan dan keakraban warganya melampaui tradisi kampung, desa atau dusun sekalipun.

Kok bisa? Kegiatan keagamaan begitu marak, ada tahlilan, diba’an, pengajian, muslimatan, banjarian, musik religius. Seakan seminggu penuh lantunan shalawat, ayat al-Quran, dzikir menghiasi atmosfir Villa Bukit Tidar (VBT). Kegiatan sosial juga marak, ada kerja bhakti bulanan, jaga malam keliling, temu warga bulanan. Suasana kondusif seperti ini tidak muncul begitu saja, tetapi memang by design (direncanakan) oleh tokoh-tokoh masyarakat para pendahulu yang mayoritas adalah dosen universitas Islam Malang (UNISMA). Mereka adalah P. Hasan Busri, P. H. Masykuri Bakri, P. M. Amin, P. Ansori, P. Ahmad Tabrani, P. Abdul Basit, P. Pardiman. Kekompakan warga semakin kuat dengan kehadiran beberapa karyawan dan dosen Universitas Brawijaya, UMM dan UIN Malang, mereka adalah P. Amin, P. Abdul Hadi, P. Martono, P. Muwafik, P. Imik, P. Yudi, P. Susilo, P. Ngatiman. Tak kalah dari peran mereka semua, ada P. Imam Ghazali, P. Zis Mujahid, P. Mujani, P. Maskun Bukhori, P. Ahmadi, P. Jalil, P. Gatot (ketua RW) dan teman-teman lain.

Budaya kampung dan kentalnya tradisi NU, dilengkapi kematangan intelektual yang melatarbelakangi mereka, membawa mereka pada satu komitmen kinerja  dan motto pengabdian yang luar biasa, yaitu “kabeh iku pengeran sing bales” (semua kebaikan akan dibalas oleh Allah, tanpa mengharap pamrih dari orang). Di tangan mereka semua, ketentraman warga terwujud, segala kemaksiatan dibasmi, kerukunan terjalin indah, dan perbedaan melebur menjadi kasih sayang.

Kendati developer/owner dari VBT telah mem”bonsai” hak warga untuk mendapatkan fasilitas penting seperti tempat ibadah, ternyata kedermawanan warga dan swadaya masyarakat mampu menghadirkan masjid Nurul Jihad yang megah di tengah-tengah perumahan. Kini sudah ada empat kavling rumah yang dibeli untuk tempat ibadah, tiga kavling sudah terbangun megah. Selain membangun masjid secara swadaya, masyarakat juga bergotongroyong mewujudkan lapangan volly di depan kantor pemasaran. Pembuatan gapura dan pavingisasi gang juga marak belakangan ini (2010). Warga rela menginfaq-kan rizkinya hingga ratusan ribu per kepala keluarga (KK) sambil dibantu oleh pemerintahan kota Malang via kelurahan Merjosari. Kalau dulu para “mertua” enggan menempatkan “menantu”nya di VBT karena kumuhnya, kini mereka berebut tempat disana karena keindahan, kebersihan dan kerapiannya. Beberapa kali perumahan ini mendapatkan penghargaan bahkan pernah menjadi pilot project kawasan yang bersih dan bebas dari narkoba. Tidak jarang walikota sendiri yang datang ke tempat ini, guna peresmian kegiatan dan pemberian bantuan.

Di tempat yang sederhana dan sempit (RSS Tipe 60, atap asbes, dinding batako), di Gang Lowo RT. 05 RW.11 A1-233, saya membesarkan anak saya yang pertama (Nafila Lana Amalia), bahkan anak kedua (Kafa Nasrullah) terlahir di situ. Beberapa anak tetangga juga pernah belajar ngaji al-Quran dan kitab kuning di sana. Beberapa karya buku, penelitian dan proyek lainnya juga Alhamdulillah terselesaikan di tempat itu.

Bagi warga VBT umumnya dan RT 05 khususnya, silaturrahim itu sudah dianggap “fardu” bukan lagi sunnah hukumnya. Setiap tahun diadakan ziarah wali, rekreasi ke tempat wisata. Termasuk takziyah dan berkunjung ke orang sakit, itu biasa dilakukan secara berbondong hingga butuh 2-3 mobil. P. Hasan dan Mbah Hafidz berada di garda terdepan untuk menginformasikan dan mengkoordinir massa untuk bergerak cepat untuk takziyah dan ‘iyadatu marid (kunjung ke orang sakit). Biasanya, selepas takziyah dan iyadah, tidak lupa mereka makan bersama di warung/restoran kesukaan.

“Ngerumpi cerdas” menjadi pemandangan warga sehari-hari terutama pengurus takmir. Politik, budaya dan sepakbola menjadi topik yang paling diminati, terutama oleh P. Zainul dan P. Tabrani. Karena bosan ngerumpi di emperan masjid atau di rumah, kadang tempatnya berpindah ke rumah makan P. Sholeh di Karangploso atau di STMJ Kawi. Sekilas, seakan kegiatan semacam ini kurang bermanfaat, namun memiliki dampak sosial dan psikologis positif, laksana lem yang merekatkan ukhuwwah sesama warga, pun laksana narkoba yang mengundang ketagihan untuk bertemu dan bertemu lagi.

Selama 10 tahun (September 2001 s.d Juli 2011), pengalaman indahku di VBT ku lalui dengan manis. Mulai dari tidak ada telepon dan angkot hingga keduanya ada, mulai tradisi begadang hingga tradisi istighotsah, mulai kitab Arbain-Nawawi hingga Riyadus sholihin para jamaah mengaji. Memang berat untuk meninggalkan sejuta kenangan, sungguh tidak mudah berpisah dengan hati warga yang sudah tertaut kasih dan sayang. Tapi saya menyadari tidak ada rencana apapun yang luput dari skenario besar Allah, dialah takdir, tak seorangpun bisa lari darinya. Dalam hal ini yang terpenting adalah bila di sini dakwah dan di sana juga harus dakwah, di sini tebar kebaikan di sana juga tebar kemaslahatan. Mungkin tubuh memiliki keterbatasan ruang dan waktu, tapi saya yakin hati dan ketulusan sukma menembus sekat-sekat ragawi dan jasadi. Pepatah Arab mengatakan: idza tafaqatil abdan ta’anaqatil qulub (ketika jasad saling berpisah jauh, semakin hati berpelukan erat).

KISAH HIDUPKU (25)

Hari Perpisahan ternyata Datang Juga

Menjelang perpisahanku dengan warga VBT, hampir semua tetangga dan teman tidak percaya begitu cepatnya perpisahan itu terjadi. P. Masykuri bilang, kalau saya pergi salah satu sayap keseimbangan di masjid menjadi berkurang. P. Tabrani bilang, kalau saya pergi, air penyejuk itu menghilang. P. Yudi (ketua RT) bilang, semua warga yang kurang tertib boleh hilang tapi jangan yang satu ini. Menanggapi keberatan teman-teman semua, saya hanya mengatakan: Saya tidak pindah hanya bergeser beberapa kilometer ke selatan. Artinya beberapa aktivitas sosial seperti pengajian, khutbah, peringatan hari besar Islam, rekreasi bersama, masih saya jalankan.

Sungguh merupakan karunia Allah pada tanggal 20 Juli 2011, ketika saat perpisahan itu tiba dan tasyakuran pindahan rumah dilaksanakan, tidak kurang dari seratus warga VBT berbondong-bondong secara antusias datang memenuhi undangan kami, dan hampir semua warga RT. 05 bertindak sebagai panitia sukses. Tidak terhitung, sumbangan kue dan hadiah mengalir deras dari warga, bahkan ada bantuan satu kambing yang tak terduga. Saking banyaknya undangan, saya menyediakan empat terop. Orang sekitar bilang, ada acara apa ini, mantu atau nyunati? Ternyata acaranya hanya tasyakuran pindahan rumah.

Ya Allah ketika engkau memasukkan aku ke VBT, engkau tempatkan aku di tempat terbaik, pun ketika engkau keluarkan aku dari sana, engkau keluarkan aku dalam kondisi terbaik. Robbana adkhilnaa mudkhola shidqin wa akhrijnaa mukhroja shidqin waj’al lanaa min ladunka sulthonan nashiro, semoga doa ini jadi kenyataan.

KISAH HIDUPKU (26)

Suka Duka Membangun Rumah Baru

Sebelum tinggal di VBT, mertuaku di Trenggalek telah membelikan aku dan keluarga satu kavling tanah sebelah barat Pondok Pesantren Sabilur Rasyad Dusun Gasek Ke. Karangbesuki Kec. Sukun Malang, tempat di mana aku pernah belajar di sana (1997-1998, 1999-2000), dan aku kos bersama istri rumah di dekatnya (2000-2001). Saya dan istri dapat tawaran tanah seluas 184 M2 dari keluarga H. Muslimin dengan harga 75 rb permeter. Tentu saat itu (thn 2000), kami belum mempunyai uang cash 14 jutaan. Untungnya si pemilik tanah memperbolehkan kami mengangsur hingga dua tahun-an. Setelah lunas, tanah kosong itu sesekali saya tanami jagung atau kacang dengan tenaga dan waktu yang terbatas. Selama menempat di VBT, tanah tersebut terlantar begitu saja tanpa ada tanaman di atasnya hingga tetangga sesekali memanfaatkannya untuk membuat batubata dan penyimpanan material bangunan. Baru 7 tahun kemudian (2008), dengan keuangan pas-pasan, saya memberanikan diri untuk memulai pembangunan meski hanya sebatas pondasi. Sekitar satu tahun pondasi itu terbengkalai, lalu keluarga menghadiahi kami tiga pohon jati di Trenggalek yang kemudian dijadikan kusen-kusen seluruh bangunan rumah, lagi-lagi untuk menebang dan menjadikan kusen saja butuh waktu lama, menunggu terkumpulnya uang ongkos tukang. Pada saat yang sama, saya sudah terlibat aktif dalam kegiatan penelitian tingkat nasional, sedikit demi sedikit kami membangun rumah hingga benar-benar selesai tahun 2011. Jadi butuh waktu membangun 3 tahun untuk penyelesaian, waktu yang lama ini sebenarnya bukan waktu yang sesungguhnya, tapi waktu terkumpulnya dana. Mungkin kalau sejak awal dana lancar paling lama 5 bulan sudah selesai.

Dalam hal ini, saya sangat berterima kasih pada istri tercinta yang telah mendesain, mengawasi, mengatur keuangan pembangunan, praktis saya tidak terlibat hanya bagian cari uang atau cari hutangan saja. Kebahagian kami sungguh tiada tara saat rumah baru yang penuh perjuangan tersebut akhirnya jadi, seakan keringat dan air mata yang tercurah selama ini tidak sia-sia. Imam syafii pernah mengataka: Fanshab fainna ladzidzal aisyi fin nashobi (bekerja keraslah, karena indahnya hidup hanya bisa diraih oleh orang yang mendapatkannya dengan kerja keras). Update 11 Februari 2012

KISAH HIDUPKU (27)

Indahnya Suasana Pelangi di Rumah Baru (bersambung).


24 Responses

  1. kisah yang penuh inspirasi, jika saya adalah sutradara, pasti tak jadikan film islami. tapi sayang, di indonesia terfokus masalah keuntungan semata dalam melakukan sesuatu hal.
    salam dari saya Dumai – Riau

    • Salam kenal juga dari saya, pengelola blog ini

  2. assalammua’alaikum maaf mengganggu sebelumnya, saya lulusan d3 yg sdh menganggur selama 7 thn, apakah bapak bisa membantu memberi pekerjaan, jd cleaning service tidak mengapa, terima kasih sebelumnya, no 083834999039

    • Jika anda tinggal di Malang atau ingin kerja disana, silakan mengakses situs ini: http://www.loker.web.id/lokasi-pekerjaan/malang

  3. Subhanallah, biography panjennengan lebih seru dari pada ayat-ayat cinta maupun ketika cinta bertasbih-nya Habibur Rahman El-Zirasy, usul ustadz di novelkan saja. Ta’zim saya ustadh.

  4. Assalamualaikum, saya seorg bapak berusia 50th dan tgl diBali,ingin sekali belajar ngaji dari dasar dan memperdalam agama dipondok dimalang,mohon sekiranya Bapak bisa bantu dimana ponpes yg tepat untuk saya,sekian terima kasih,Wassalam.

    • Waalaikumussalam, silahkan saja datang ke Malang tepatnya di daerah Singosari, ada banyak pondok yang bisa dipilih diantaranya Pesantren Nurul Huda, Pesantren Ilmu Al-Quran dan Pesantren Darul Quran.

  5. Asslamu’alaikum wr.wb
    pak ustadz kisah-kisah anda di atas sangat bagus
    sebagai inspiratif
    pak ustadz saya mau tanya, sebentar lagi saya mau memiliki seorang anak
    saya ingin memberinya nama el shaarawy
    yang saya ingin tanya arti dari nama el shaarawy menurut islam, karena saya tidak menemukan artinya
    terima kasih

    • Waalaikumussalam, Kata sya’rawi bersal dari kata sya’run artinya rambut, kata tsb bs sj dipakai sebagai kata sifat: yaitu orang yg berhati lembut seperti rambut. Ada juga nama mufassir al-Quran terkenal dari Mesir namanya: Syeikh Mutawalli Asy-Sya’rawi atau pemain bola klub AC Milan yg lg naik daun. Tapi saran saya ketika memberi nama tersebut, tabarrukan (mengambil berkah) saja dg nama mufassir di atas, bukan meniru pemain bola meski ada kesamaan supaya kelak jd orang yg cerdas dan bermanfaat bg org lain.

  6. Ya ustadz kami pengin belajar ilmu jurmiyah,,,,
    lau bisa saya minta no hpnya,,,,,

    • Ass. Salam kenal sebelumnya, sy senang anda termotivasi belajar Jurumiyah, kalau anda tinggal di daerah Malang kota, saya tidak keberatan menularkan ilmu tsb.

  7. Assalamualaikum…
    Kalu yg di maksud bapak,KH Ikhsan Aziz guru saya,alhamdulillah beliau masih sehat…. Beliau memang lama di Banyuwangi..sampai beliau kembali ke Cirebon dan kini mendirikan ponpes Raudlotul Hidayah..tempat saya belajar mengaji…
    Alamatnya Desa Sindanglaut Blok Pesantren…

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb.
    Blog yang bagus pak. terima kasih telah bersusah payah berbagi cerita dan inspirasi..

  9. apa yang di maksud kakang.. Pak Iksan Aziz itu KH.Iksan Aziz ya? beliau lama di Banyuwangi…terus pindah ke Sindang Laut Cirebon… Beliau membawa anak pertama bernama Habibah dan Yang ke dua Habib… menikah lagi dengan Nyai Titi… sekarang mendirikan Ponpes Roudlotul Hidayah… dulu semasa kecil saya sempat 5 tahun mengaji pada beliau…

  10. Kang Syafaat, isun yo lare Banyuwangi, alumni Tsanawiyah Penataban. Muride Pak Hasan, Pak Mahfud, pak Mahsun, dll. Bengen yo sekolah nang MAN 1 Jember (MAPK), tapi riko metu isun melbau.

  11. cerita yang menarik ustad. heroik dan inspiratip. salam kenal

  12. [...] Otobiografi [...]

  13. Assalamualaikum Wr. Wb.

    Pak Ustadz, kapan otobiografinya ditambahkan. Saya menyukainya, semoga bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari pengalaman bapak dalam menjalani hidup. Terima Kasih

    • Terima ksh atas perhatiannya, insyaallah akan selalu sy update.

  14. makasih pak, sukses selalu

    • Amin, smg kita semua sukses

  15. Assalamu ‘alaikum
    Setelah sy baca biografi bapak ustadz ternyata bapak ustadz lebih berpengalaman dan beruntung shg sy hrs beljr bnyak dr bapak sy yang saat ini membutuhkan motivator sprt bapak dan beberapa pemecahan hikmah, dan informasi.
    ramadhan 2009 ini rencana sy ingin belajar al-qur’an dan sy hrs kemana?
    Terima kasih
    Wa’alaikum salam

  16. P. SYAFAAT Q TEMENMU DI MIFTAHUL ULUM TETANGGANYA FAUZI OSIS

    • Alhamdulillah, kita dipertemukan Allah meski hanya lewat internet. Ud…, sekarang kerja dan tinggal dimana? Saya dengan Fauzi dan Sulhan masih sering kontak, jangan lupa mampir ke tempatku kalau pas berkunjung ke rumah Fauzi. Saya tunggu jawaban dan kunjungannya yaa. Sampai jumpa ….. Wassalam.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,078 other followers

%d bloggers like this: