MENGGAPAI KETENANGAN HIDUP MELALUI IMAN

 Oleh Syafaat

Adalah merupakan tabiat manusia, siapapun dia, baik tokoh agama maupun preman sekalipun, mendambakan hidup tenang, tenteram, dan bahagia. Bermacam-macam persepsi orang tentang indikator kebahagiaan. Ada yang mempersepsikan bahwa orang yang bahagia itu orang yang sudah mencapai gelar profesor doktor, atau orang yang hidup serba berkecukupan, mulai motor sampai pesawat terbang dimiliki, atau orang yang memiliki banyak jabatan, mempunyai karisma yang luar biasa di mata masyarakat.

Islam ternyata memandang kebahagiaan itu menembus batas-batas materi ataupun jabatan. Ia bukanlah kenikmatan semu dan sesaat yang menyisakan penyesalan di kemudian hari, akan tetapi ia nyata dan abadi di dunia sampai akherat. Kebahagiaan itu menurut Islam bisa dirasakan siapa saja, di samping bisa diraih oleh kelompok “beruntung atau bernasib mujur”, juga ia bisa dimiliki kelompok papa nan miskin, golongan tak terpelajar, sepanjang hati, pikiran, pola hidup mereka tidak diperbudak materi, jabatan, sanjungan atau ambisi keduniaan lainnya. Islam selalu mengkaitkan kebahagiaan itu dengan ketakwaan. Ketakwaan itu menjadi prasyarat sebuah kebahagiaan sebagaimana janji Allah dalam QS. Al-Ahzab:71; Yunus:62-64; dan al-Saba’:15).

Ternyata dalam perjalanan menuju kebahagiaan yang didambakan tersebut tidak semua orang sukses. Tidak jarang justru berakhir dengan tragis, bunuh diri, tinggal dalam jeruji besi, stres, gila. Sudah hal yang biasa, kita mendengar dan melihat fenomena-fenomena tragis tersebut melalui media atau secara langsung. Ada orang ingin kaya agar bahagia, lantas tanpa susah-payah ia dapat mengumpulkan uang dengan cepat melalui korupsi. Tak lama kemudian ketahuan, jabatan dicopot, nama baik tercemar, cita-cita untuk bahagia menjadi pupus, dan dimasukkan penjara. Berikutnya muncul pertanyaan, sulitkah menggapai ketenangan dan kebahagiaan tersebut; mengapa yang terjadi justru sebaliknya, kebingungan, putus asa, frustasi?

Sejak awal penciptaan manusia dan alam, Allah sudah memberikan aturan-aturan, hukum-hukum agar tecipta kebahagiaan dan keteraturan hidup di dunia sampai di akherat fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah, atau baldatun tahayyibatun wa rabbun ghafur, Hal ini sesuai dengan makna etimologis agama yang berasal dari bahasa Yunani a dan gama berarti tidak kacau atau teratur. Jadi agama Islam datang untuk menata semua sistem kehidupan yang kacau, untuk kemudian menjadi teratur.

Tidak dipungkiri bahwa karunia yang diberikan Allah kepada manusia memang berbeda-beda (QS. An-Nahl:71), baik karunia ilmu, harta, jabatan, dan karisma. Namun demikian, bukan mutlak kebahagiaan itu milik mereka saja. Kebahagiaan dan ketenangan tempatnya di dalam hati dan bukan tampilan dlahir. Betapa kita melihat Rasulullah saw. hidup serba kekurangan dan jauh dari kemewahan, namun demikian tidak membuat beliau frustasi, bahkan sebaliknya mendapatkan kebahagiaan hidup yang juga dirasakan oleh keluarga dan sahabatnya, malah dia berdoa pada Allah agar dihidupkan miskin dan dikumpulkan dengan orang-orang miskin di akherat.

Kadar keimanan dan kemampuan seseorang mengatur hati menjadi kunci hadirnya sebuah kebahagiaan. Islam memiliki konsep-konsep untuk mengatur hati agar tetap stabil dan jauh dari keputusasaan. Di antaranya yaitu Islam melarang israf , berlebihan dalam segala hal, berlebihan dalam makan minum, berlebihan dalam berangan-angan. Bukankah stres itu terjadi akibat ada kesenjangan antara keinginan dan pencapaian. Seseorang yang berambisi punya mobil sementara untuk beli motor saja tidak bisa akan mudah stres dan frustasi. Semakin tinggi seseorang naik pohon, jatuhnya akan semakin sakit juga. Stres itu banyak disebabkan frustasi, konflik, tekanan psikologis. Seorang dosen selalu ditekan untuk mencapai kepangkatan tertentu, karya ilmiah tertentu yang jauh dari kemampuannya akan mudah stres, juga mahasiswa semester atas yang selalu ditekan orang tuanya untuk segera mendapatkan jodoh dan pekerjaan, juga akan mudah stres. Seorang yang berada diambang kebimbangan memilih sebuah aqidah, seorang penarik becak yang ingin beli mobil juga akan menjerumuskan diri pada stres.

Islam juga mengajarkan tawakkal, berserah diri pada Allah setelah berusaha maksimal dan qanaah, menerima apapun keputusan dan qadar Allah. Di sinilah keimanan kita pada Allah diuji, bahwa apapun yang terjadi di dunia ini tidak lepas dari skenario Allah dan senantiasa berhusnuz-zhann padaNya bahwa dibalik semua kejadian itu ada hikmah. Dengan mempercayai qadla dan qadar Allah, diharapkan seseorang tidak jatuh dalam keputusasaan di saat gagal dan tidak hanyut dalam kegembiran berlebihan di kala sukses (QS. Al-Hadid:22-23). Seorang ilmuwan fisika Belanda, Paul Ehrenfes, tewas bunuh diri setelah membunuh anaknya karena dia merasa malu mempunyai anak idiot.

Di samping itu, Islam memiliki obat penyejuk dari kerasnya tantangan hidup, yaitu doa dan dzikir. Doa membuat kita lebih optimis menatap hari esok dan lebih ringan dalam menanggung beban berat kehidupan, sebab kita selalu berbagi rasa, mengadu pada Allah. Sementara itu dzikir bisa menentramkan hati kita (QS. Al-Ra’du:28) dan bertambah dekat dengan Allah. Menurut Nabi saw dosa dan maksiat juga turut andil dalam mengeruhkan suasana hati, dosa adalah sesuatu yang memperkeruh hati dan kebaikan adalah sesuatu yang menentramkan hati.

Dan akhirnya kita berharap besok ketika malaikat izrail mencabut ruh, nyawa kita dalam keadaan tenteram, bahagia, sehingga Allah akan memanggil kita dengan: Wahai jiwa yang tenang pulanglah ke Tuhanmu dengan penuh ridla, masuklah ke dalam golongan hambaku dan masuklah surgaku (QS. Al-Fajr:28-30).

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: