MODERAT DAN TOLERAN, SIKAP KEBERAGAMAAN YANG ELEGAN

 Oleh: Syafaat*

Pernah suatu ketika, Ibnu Mas’ud kecewa betul tatkala mendengar khalifah Utsman shalat Dzuhur dan Ashar masing-masing empat kali di Mina. Utsman dianggap telah meninggalkan sunnah Rasulullah SAW. Tetapi ketika Ibnu Mas’ud shalat berjamaah di Mina di belakang Utsman, ia shalat seperti shalat Utsman. Lalu ada orang yang mempertanyakan hal itu, Ibnu Mas’ud menjawab, “ al-khilafu syarr (Bertengkar itu jelek!)” (Hadis Riwayat Abu Dawud). Kutipan atsar shahabat di atas mengilustrasikan sebuah drama perbedaan pendapat di kalangan pemuka agama yang berakhirkan cerita cantik nan menarik, yakni sebuah kesadaran untuk meninggalkan ego pribadi demi menjaga keutuhan umat.

Atmosfir keberagamaan di Indonesia kini nampak menghangat dengan kembali meletupnya ‘penyakit klasik’ umat Islam, yaitu perpecahan dan perbedaan dengan saudara seagama sendiri. Contoh konkrit perbedaan dimaksud adalah polemik fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang merepresentasikan kelompok Islam normatif-konservatif versus JIL (Jaringan Islam Liberal) yang merepresentasikan kelompok Islam liberal-progresif mengenai ‘masuk-tidaknya’ JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) dalam sebuah katalog al Islam. Din Syamsudin, ketua umum Muhammad yang juga sekretaris umum MUI, malah menghimbau JAI untuk membuat agama baru saja karena dianggap betul-betul keluar dari mainstream Islam.

Fenomena saling mengkafirkan (takfir), mengklaim sesat, membuat bid’ah merupakan fenomena klasik yang cukup sering muncul ke permukaan, demikian juga inovasi-inovasi keagamaan yang mengatasnamakan reaktualisasi, kontekstualisasi, de-arabisasi tak kalah seringnya. Munculnya aliran Syiah, Sunni, Muktazilah, Khawarij, dan Murji’ah di abad III H adalah bukti otentik sejarah umat Islam bahwa perbedaan dan perpecahan itu telah berulang kali terjadi, bahkan lebih dahsyat dari apa yang terjadi saat ini. Pertanyaannya sekarang; siapa yang menang dan diuntungkan, Islamkah? Tentu bukan, justru umat Islam sendiri terutama kalangan awam yang dikorbankan, mereka seakan diadu-domba sebagaimana yang terjadi di kampus Mubarok Parung Bogor pertengahan Juli lalu, belum lagi sentimen anti Ahmadiyah dan anti JIL yang merebak sampai ke daerah-daerah.

Ketika sebuah kelompok memandang kelompok lain yang berbeda keyakinan, setidaknya –menurut Jalaluddin Rahmat (1998)- ada tiga pendekatan yang digunakan; pertama, pendekatan apologetis; suatu pendekatan yang digunakan untuk memahami kelompok lain, tetapi selalu mengunggulkan kelompok sendiri yang sering berujung pada al-‘adawah (permusuhan). Kedua, pendekatan fenomenologis; suatu pendekatan yang digunakan untuk memahami kelompok lain dalam kerangka perbedaan itu sendiri, dengan kata lain perbedaan itu alamiyah yang mesti harus diapresiasi. Ketiga, pendekatan ukhuwah; suatu pendekatan yang digunakan untuk memahami kelompok lain dalam mencari titik-titik persamaan dalam keragaman yang berujung pada al-ukhuwwah (persaudaraan). Berbagai perbedaan selama ini rupanya masih dipahami secara hitam-putih, benar-salah, bid’ah-sunnah tanpa ingin mencari titik temu (kalimatun sawa’) yang membawa kemaslahatan bersama.

Kondisi semacam ini bisa dieliminir dengan sikap moderat (tawassuth) dan saling toleran (tasamuh) dalam beragama. Sudah saatnya berbagai keyakinan ‘ekstrim’ (baik ekstrim kanan atau kiri) lebih diinternalisasikan ke ‘dalam’ dan bukan menjadi sikap menggejawantah ke ‘luar’ yang berbuah pemaksaan akidah, truth claim(merasa benar sendiri) dan intoleran dengan sesama hamba Allah. MUI dan para pendukungnya mestinya mengawali misi sucinya dalam melakukan kontrol sosial-keagamaan dengan dialog intensif untuk mencari titik temu dan dengan cara yang elegan atau dalam bahasa Al-Quran “wajadilhum billati hiya ahsan”. Bila pada proses ini macet maka pendekatan berikutnya tawashau bil haqq wash shabr, memberikan saran dengan tetap menjaga ketenangan dan kesabaran. Kenyataan selama ini sebaliknya, kata-kata sesat, kafir menjadi kosa-kata andalan yang tokcer. Gerakan-gerakan pro MUI tersulut untuk melakukan tabligh akbar, demonstrasi, bahkan sampai melakukan kerusuhan demi ‘jihad’ menegakkan amar makruf nahi munkar karena telah mendapatkan justifikasi normatif yang kuat dengan dalih telah mendapat legitimasi dari lembaga (baca: MUI) yang merupakan representasi seluruh umat Islam Indonesia. Lembaga yang mulya itu tidak mustahil kredibilitasnya akan menurun seperti beberapa dekade lalu, bila tidak merespon semua permasalahan umat secara arif dan bijaksana.

Sisi lain counter reaktif dari JIL yang membela Ahmadiyah mati-matian mengenai legalitasnya dalam koridor syariat Islam, mesti dikurangi. Keinginan seseorang untuk mengartikulasikan pendapat liberal, itu sah-sah saja sebagai hak masing-masing individu. Namun bila setiap ajaran yang dianggap mathon sesuai mainstream Islam, ditentang secara provokatif di area publik (tanpa membatasi diri pada forum-forum akademis), dianggap semua produk masa lampau tidak ada yang benar, hal-hal semacam ini pada saatnya akan mendapatkan antipati masyarakat bahkan kekerasan akan mengancam eksistensi dan kreativitas mereka di masa mendatang.

Sudah seharusnya dikembangkan tradisi berfikir toleran dengan tidak mengklaim kebenaran hanya untuk dirinya. Ada baiknya kita meniru salah satu prinsip ulama salafus shalih: ra’yuna shahih yahtamil al-khata’ wa ra’yuhum khata’ yahtamil as-shahih (pendapat kita benar tapi mungkin ada salahnya, dan pendapat mereka salah tapi mungkin ada benarnya). Selain itu perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin untuk diseragamkan bahkan Allah berfirman: “ andaikan tuhanmu berkendak, niscaya semua isi bumi akan beriman seperti kamu (wahai muhammad)”. Dalam hidup bermasyarakat perlu dikembangkan sikap-sikap toleran dan menjaga kerukunan yang hukumnya wajib, daripada memaksakan sebuah keyakinan masih debatable.

Sikap keberagamaan yang rigid akan mudah memicu konflik sosial, sebaliknya terlalu longgar juga akan menghilangkan identitas keberagamaan itu sendiri. Keragaman dalam aqidah dan pola berfikir, kalau disikapi dengan positif thingking akan mendatangkan paling tidak tiga keuntungan; pertama, menambah kerekatan ukhuwah antar umat Islam, kedua, bertambahnya luasnya horizon berpikir dengan masuknya persepsi-persepsi baru, ketiga, konsentrasi umat Islam lebih mengarah hal-hal yang urgen, seperti pengentasan kemiskinan, dakwah, pendidikan dan sebagainya. Inilah sebenarnya yang dikehendaki hadis Nabi, “ikhtilafu ummaty rahmah” (perbedaan dikalangan umatku menjadikan kasih sayang di antara mereka. Semoga segera terwujud !!!

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: