SEANDAINYA PESANTREN SALAF BEBAS ROKOK

Oleh. Syafaat

syafaat3Makruh, itulah kata yang kerap difatwakan ulama’ pesantren salaf ketika ditanya tentang hukum rokok. Tak heran, jika mayoritas komunitas bersarung ini akrab dengan benda berasap tersebut. Puluhan ma’khadz (rujukan) dari al-Quran, hadis, I’barah ulama’ salafus shalih, siap ditunjukkan bila ada kelompok yang coba meng-counter kemakruhan hukum rokok tersebut.

Suatu ketika, ada muballigh bertanya pada jama’ahnya, apa hukum rokok? Serempak mereka menjawab: makruh. Lalu bertanya lagi: apa arti makruh? Sebagian mereka jawab: dilakukan tidak dosa dan tinggalkan dapat pahala. Pertanyaan berikutnya: Pantaskahkah seorang panutan masyarakat tidak butuh pahala dari (meninggalkan) rokok? Pertanyaan terakhir yang disampaikan, kalau makruh itu secara harfiyah diartikan dibenci, Layakkan disebut pemuka masyarakat orang yang selalu menjalankan tindakan yang “dibenci” manusia (lebih-lebih dibenci Allah) secara terus-menerus. Mereka kompak menjawab: tidak layak.

Saya sebagai alumni pesantren, saat mendengar ungkapan si muballigh tersebut merasa tersinggung. Namun, ketika jamaah  memberi jawaban (“tidak layak”) secara aklamasi tersebut, menyadarkan saya betapa makna “makruh” secara subtantif telah dimanipulasi membolehkan sesuatu meskipun dipandang “kurang ramah” dari aspek sosiologis, kesehatan, dan ekonomi.

Hampir setiap fatwa ulama di kawasan jazirah Arab terkait rokok, hukumnya haram. Bahkan di buku “al-‘Arabiyyah baina Yadaika” Jilid II karya M. Alus Syaikh (2005) yang banyak dipakai di Perguruan Tinggi Islam, terdapat bab khusus berjudul: Min Adlrorit Tadkhin (Diantara Bahaya Rokok) padahal termasuk buku pembelajaran bahasa Arab. Pertanyaan yang sering muncul: kenapa ulama’ pesantren menolak fatwa MUI yang mengharamkan rokok? Dengan nada gurau teman saya mengatakan: bagaimana mungkin mayoritas santri dan ustadznya mengharamkan rokok, padahal mereka sendiri perokok, masak rokok makan rokok, tidak mungkin lah?

Sering perumus hukum tidak memahami realitas objek dari dekat, sehingga produk hukumnya ditolak oleh para ahli dan praktisi yang memang banyak tahu di bidang itu. Contoh, dulu dasi itu diharamkan sebab diduga mengandung unsur tasyabbuh (serupa/menyerupai) dengan tradisi nonmuslim. Tapi ternyata sekarang kyai pun mau pakai dasi. Baru-baru ini, ada fatwa haram Facebook. Oleh para penggunannya, fatwa ini menjadi bahan tertawaan. Kalau memang facebook haram karena mengandung madharat, mengapa radio, TV, Youtube, Search Engine semacam Google tidak difatwakan haram? Padahal memiliki kemiripan; sama-sama berpotensi memperdengarkan, mempertontonkan, dan menyebarkan prilaku asusila.

Terkait fatwa makruh rokok, mengapa praktisi medis, psikolog, peneliti, sosiolog tidak diajak bicara? Perlu juga menghadirkan pengidap penyakit jantung, paru dll  untuk memberikan testimoni tentang dampak rokok bagi kesehatan. Tahun 2005, saya jalan-jalan di Sumenep Madura dan bertemu seorang kakek mantan perokok berat. Beliau bercerita panjang perihal keinsyafannya dari merokok. “Saya pernah menderita penyakit gatal di tenggorokan, setelah disinar Rongten tampak ratusan benjolan kecil dalam tenggorokan” kata kakek. Menurut dokter penyakit tersebut hanya bisa sembuh dengan berhenti merokok. Sampai setengah tahun kakek tersebut belum menghentikan kebiasaan buruknya sambil cara obat alternatif. Kesabarannya akhirnya habis, terpaksa beliau menghentikan rokok total dan akhirnya sembuh tanpa terapi obat apapun.

Jangan sampai rokoklah yang menghentikan kita merokok. Artinya kalau sudah sakit parah baru kita menyadari bahaya rokok lalu berhenti merokok. Hal ini senada dengan ungkapan Arab: haasibuu qabla an tuhaasabu (hitunglah –kesalahanmu- sebelum -kesalahan kita- dihitung oleh Allah). Kadang saya merasa malu sebagai bangsa Indonesia, bahwa peringatan bahaya rokok yang tertulis besar pada kemasannya ternyata tak banyak yang menggubrisnya. Apa memang mayoritas kita buta aksara atau buta waras?

Pesantren mulai dulu sampai sekarang memiliki peran penting sebagai agent of change bagi masyarakat terutama di daerah pedesaan. Pesantren sering dijadikan benteng moral dan akhlaq ummat, bahkan menjadi rujukan pola keberagamaan mereka. Rasanya kurang etis bila tradisi merokok masih merajalela di jagat pesantren. Adanya banyak kejanggalan yang terjadi kadang-kadang sebagai akibat kecanduan rokok. Bersedekah 20 ribu untuk ukuran ekonomi pas-pasan terasa berat, tapi untuk pecandu rokok 50 ribu-pun tak jadi soal. Para istri mungkin banyak “kesal” terhadap suaminya yang merokok, lantaran anggaran dapur suka dinomorduakan. Terutama bau mulut perokok, biasanya mengurangi gairah keintiman rumah tangga. Belum lagi, berapa waktu terbuang untuk membeli dan menikmati aroma asap rokok dalamm kondisi yang nyaman?!

Saya cukup salut dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap upaya keras pondok pesantren Langitan Tuban. Sejak tahun 1990-an pesantren ini sudah melakukan lokalisasi kawasan rokok, hingga pada zona yang sangat sempit dan terbatas. Santri dan pengurus pesantren dilarang keras merokok di luar dari tempat-tempat yang diperbolehkan merokok. Menjelang tahun 2000-an lokalisasi rokok tidak hanya pada tempat, tetapi juga usia. Santri di bawah usia 25 tahun dilarang keras merokok. Hingga pada tahun 2000 ke atas, pesantren sudah bersih dari rokok.

Hal yang hampir sama sedang dilakukan di pesantren Al-Falah Ploso Kediri, yakni sudah melakukan lokalisasi wilayah bebas rokok dan harapannya dua tahun ke depan sudah bisa seperti pesantren Langitan, yaitu bebas seratus persen dari rokok. Saya yakin masih ada puluhan lagi pesantren besar yang bebas rokok. Namun jumlah ini sangat kecil bila dibandingkan jumlah pesantren yang mencapai puluhan ribu.

Pertanyaan yang kerap muncul: seandainya semua pesantren bebas rokok, lantas bagaimana nasib ratusan ribu buruh rokok, ribuan petani tembakau dan dari mana tambahan pemasukan negara untuk mencukupi beban anggaran yang besar?  Pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan pertanyaan juga: apakah dengan terancamnya nasib ribuan buruh rokok atau berkurangnya income negara, akibat berkurangnya jumlah perokok, dapat dijadikan  dalih haram atau makruhnya berhenti dari merokok? Kalau dianggap banyaknya PHK buruh rokok itu sebuah kemudaratan, apakah ribuan orang mati atau sakit, akibat rokok, dianggap sebagai kemaslahatan?

Berikut ini beberapa fakta yang mengharuskan kita berpikir ulang untuk mendukung legalisasi rokok. Rekomendasi WHO, 10 Oktober 1983 menyebutkan seandai nya 2/3 dari yang dibelanjakan dunia untuk membeli rokok digunakan untuk kepentingan kesehatan, niscaya bisa memenuhi kesehatan asasi manusia di muka bumi. WHO juga menyebutkan bahwa di Amerika, sekitar 346 ribu orang meninggal tiap tahun dikarenakan rokok. Fakta lain, 90% dari 660 orang yang terkena penyakit kanker di salah satu rumah sakit Sanghai Cina adalah disebabkan rokok. Prosentase kematian disebabkan rokok adalah lebih tinggi dibandingkan karena perang dan kecelakaan lalulintas. Ternyata, 20 batang rokok perhari menyebabkan berkurangnya 15% hemoglobin, yakni zat asasi pembentuk darah merah. Di samping itu, prosentase kematian orang yang berusia 46 tahun atau lebih adalah 25 % lebih bagi perokok.

Gerakan anti rokok, diharapkan datang dari kalangan pesantren, terutama salaf. Alasannya, apabila struktur atas (kyai, pengurus) menjauhi rokok, kemungkinan besar akan diikuti oleh struktur di bawahnya (santri dan masyarakat). Kalau pesantren belum bisa, paling tidak, santri baru diberikan persyaratan khusus yang membatasi mereka untuk merokok. Lebih-lebih mereka yang masih mengandalkan bekal bulanan dari orang tua/wali.

Walhasil, mari diupayakan kampanye kebaikan mulai dari hal kecil dan mulai dari orang terdekat, siapa tahu inilah jalan kebaikan kita di akherat kelak, amin.

7 Responses

  1. pesantren tanpa asap rokok,,,,,impian orang tua santri,,,,ijin share tad,,,

  2. betul.harus dimulai dari kiai dan pengurus2 pondok, krn keteladanan itu penting, jika mengaku benar benar mengikuti ulama salaf tidak ada satupun ulama salAf kita yg .erokok

  3. Saya salut ust. Syafaat mau menulis himbauan berhenti merokok. Pada umumnya perokok adalah kalangan menengah ke bawah. Sampai tukang becak setiap bulannya menyisihkan paling tidak 150 ribu untuk rokok.

  4. Ulasan bermanfaat dan ilmiyyah yang berlandaskan rujukan para Ulama. Semoga kita senantiasa mengamalkan ibadah berlandaskan ilmu. Mari kita hidup sehat, tidak merokok karena Allah..

  5. saya sangat senang dengan artikel bapak yang kritis dalam amsalah rokok, yang sekarang ini sangat membudaya dikalangan umat Islam umumnya. padalah rokok jelas2 merugikan……terimakasih pak….

  6. Saya setuju sekali kiranya pesantren salaf bebas dari rokok. Di sam[ping demi kesehatan dan kehematan, meninggalkan merokok juga membuat lingkungan menjadi bersih. Rata-rata temanku di pondok dulu yang merokok pasti jorok. mereka melempar puntung sembarangan seperti di WC, kolong meja, bahkan di tempat makanan seperti gelas, mangkuk, atau piring.
    Artikel yang ditulis Ust. Syafaat ini bagi saya sangat mencerahkan. Syukran Jaziilan.

  7. Kalau bagi saya pribadi rokok itu lebih cocok diharamkan karena merupakan pemborosan dan merusak kesehatan yang telah diberikan Allah pada kita

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: