REVITALISASI MAKNA ISRA’ DAN MI’RAJ

syafaat7

Oleh Syafaat*

Isra’ lazim dimaknai sebagai perjalanan Rasulullah di waktu malam dari masjid al-Haram ke masjid al-Aqsha. Makna tersebut merupakan makna historis yang statis, padahal sebuah istilah itu bersifat open source, artinya ia selalu terbuka untuk ditelaah lebih jauh dari berbagai perspektif. Setiap istilah tentu muncul dari konteks sosio-kultural tertentu lalu mendapat sentuhan wahyu. Seiring dengan perkembangan zaman, agar sebuah istilah itu tetap hidup dan kontekstual, ia perlu dimaknai ulang (revitalisasi) tanpa menghilangkan elan vital dari makna asalnya. Perkembangan disiplin ilmu linguistik yang variatif dewasa ini cukup membantu penelaahan terhadap sebuah istilah.

Demikian halnya dengan kata isra’, kalau ditelaah dari aspek morfologis, ia berasal dari kata kerja transitif: asra – yusri – isra-an (artinya menjalankan seseorang di waktu malam) yang merupakan derivasi dari kata kerja intransitif: saraa – yasri – sirayatan (artinya berjalan di waktu malam). Tinjauan morfologis tersebut bila dikaitkan dengan potongan ayat 1 surat al-Isra’; “… Asra bi ‘abdihi lailan …”, kita mendapatkan pelajaran yang berharga. Manusia (‘abd) adalah obyek dari segala kehendak Tuhan, termasuk Dialah yang menjalankan manusia (isra’) ke arah tertentu sesuai kehendak-Nya di waktu malam (lail). Kata ‘malam’ identik dengan kegelapan, kebodohan, ketidaktahuan manusia akan apa yang bakal terjadi kemudian. Alhasil, semua yang melekat pada diri manusia hakikatnya adalah manifestasi dari iradah Allah. Nasib manusia senantiasa berada dalam genggaman-Nya. Hidup ini penuh dengan misteri dan manusia hanya bisa menyingkap gejala-gejala alam inderawi saja. Selebihnya, manusia hanya bisa pasrah dan mendekat pada Allah SWT.

Bencana alam datang silih berganti di negeri kita ini, jangankan untuk menghindarkannya, memprediksi dan mengantisipasinya pun manusia tak berdaya. Bencana apa lagi yang akan dihadapi bangsa Indonesia, tak seorangpun tahu. Jadi, konsep isra’ menyadarkan manusia akan posisinya sebagai hamba yang lemah. Kesombongan, keangkuhan hanya milik Allah jua. Pemahaman akan hakikat isra’ ini akan membawa manusia pada sifat tawaddlu’, tawakkal, sabar, dan selalu waspada.

Sedangkan kata mi’raj berasal dari ‘araja yang berarti naik. Dalam al-Qur’an sebenarnya tidak ditemukan kata mi’raj atau derivasinya yang mengacu pada perjalanan Nabi dari baitul maqdis ke sidratul muntaha. Yang ada hanyalah informasi di surat an-Najm ayat 14; “’inda sidratil muntaha’ (Nabi berada di “pohon penghujung” di langit ke tujuh dekat ‘arsy dan surga ma’wa)”. Kendatipun demikian pemilihan kata mi’raj lebih tepat daripada pada kata arab yang lain seperti mish’ad (naik dengan tangga), mirqat (naik melewati tanjakan).

Kata “naik”, sering dikaitkan dengan hal-hal yang prestisius seperti derajat, jabatan, dan tahta. Semua itu dapat diraih tentu dengan perjuangan panjang dan jerih payah ekstra, bukan datang secara instan tanpa sebab. Di sinilah, Islam mengajarkan manusia agar selalu bekerja keras, bahkan rasul dan nabipun tidak ada yang gratis mendapatkan predikat kerasulan dan kenabian. Berbagai ujian menghadang untuk meruntuhkan misi yang dibawanya, ujian yang datang bertubi-tubi mereka lawan dengan keteguhan dan kesabaran, akhirnya sukses.

Demikian juga seorang muslim yang ingin ditinggikan derajatnya oleh Allah, dia mesti melalui proses panjang berliku, untuk menundukkan hawa nafsu dan mengabdi pada perintah, seperti menegakkan shalat. Rasululullah mengintrodusir shalat sebagai “mi’raj al-mukmin” (perjalanan spiritual mukmin menuju Tuhan). Shalat hanyalah salah satu entry point menuju tatanan hidup yang tenteram dan berujung pada ridla Allah (baldah thayyibah wa rabbun ghafur). Dengan shalat manusia diharapkan mampu meredam nafsu hewaniah dan iblisiyah serta lebih mengedepankan naluriah dan nalariah, saat berinteraksi dengan sesama manusia agar tidak ada lagi kemungkaran, korupsi, kekerasan, penggunaan narkoba. Hubungan antara shalat dengan amar ma’ruf nahi munkar adalah hubungan sinergis bukan kausalitas. Tidak ada jaminan orang yang shalat, tidak melakukan kekerasan, sama halnya tidak jaminan orang yang menunaikan ibadah, bebas dari korupsi. Fungsi shalat sebatas memberikan trigger (pemicu) untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan kata lain, orang yang sudah punya modal kebaikan lewat shalat harus berkomitmen kembali melakukan amar ma’ruf nahi munkar secara dinamis dan berkesinambungan.

Di samping ada hikmah yang bisa digali dari kajian morfologis isra’ mi’raj,  kita juga bisa belajar dari rahasia urutan kata isra yang diikuti mi’raj. Seyogyanya manusia mendahulukan aspek horizontal (hablum min annas) lalu aspek vertikal (hablum min allah). Dalam fenomena keseharian, banyak dijumpai orang yang lebih menekankan mi’raj (hubungan vertikal dengan Tuhan) dengan melakukan banyak ibadah sampai pada batas ekstrim, sementara tuntutan isra’ (hubungan horizontal dengan sesama manusia) belum terpenuhi. Akibatnya, kekerasan yang dilakukan oknum pemeluk umat beragama tidak jarang justru dijadikan pretensi sebagai sebuah kesalehan dan tingginya kualitas iman, adapun keramahan dan ke-rahmah-an (kasih sayang) sesama makhluk tuhan, nyaris terabaikan.

Agama pada prinsipnya menuntut keseimbangan antara kesalahan sosial dengan kesalehan individual guna merealisasikan sukses dunia dan akherat. Bahkan, hasil penelitian yang dilakukan Jalalaluddin Rakhmat (1991) menyimpulkan bahwa kesalehan sosial harus lebih diprioritaskan, dengan alasan: (1) dalam al-Qur’an dan As-Sunnah proporsi terbesar ditujukan pada urusan sosial, (2) dalam kenyataannya bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan, (3) ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan, dan (4) bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, maka kafarat nya (tebusannya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.

Saatnya semangat isra’ mi’raj menggelinding layaknya bola salju membawa energi maha dahsyat guna menyapu habis ketidakadilan, korupsi, kekerasan, kemusrikan, otoritarian, hipokrit, sehingga bangsa Indonesia cepat bangkit menjadi bangsa yang maju dan bermartabat.

One Response

  1. syukron ustadz, artikelnya buat tugas =)

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: