KEMULIAAN DAN KESYAHIDAN; SEBUAH OPSI?

Oleh Syafaat

Membaca tulisan Yudi Lathif Jawa Pos edisi Selasa 29 September 2009, tentang slogan pembangkit militansi yang terambil dari hadis Rasululullah saw.: “isy kariman aw mut syahidan (hiduplah penuh kemuliaan atau matilah dalam kesyahidan).” Saya sependapat dengan beliau dalam beberapa hal, bahwa kalau hadis tersebut diimplementasikan dalam bentuk radikalisasi dan terorisme atas nama agama, atau pemaknaan jihad yang sempit seperti bom bunuh diri, maka hasilnya tidak lagi seperti yang diharapkan tetapi sebaliknya: “hidup tak mulia mati tak syahid.” Sebaliknya saya kurang sependapat bila kesyahidan itu selalu dikaitkan dengan kematian di medan jihad, tanpa perangpun orang bisa “syahid” dan mendapatkan fasilitas: faulaika yadkhulunal jannata yurzaquna fiha bi ghairi hisab (mereka akan masuk surga tanpa hisab), asalkan beriman dan beramal shalih (QS. Ghafir:40).

Hadis di atas memberikan gambaran ideal kehidupan sorang muslim, yakni mengerahkan segala kemampuan untuk berbuat baik serta bermanfaat bagi diri dan orang lain sehingga tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini melainkan semua bermakna dan penuh kemuliaan. Juga kesyahidan menjadi cita-cita mulia ketika seorang mengakhiri episode hidupnya melalui berbagai cara seperti berperang di jalan Allah. Yang lebih penting, the ultimate goal dari keduanya adalah surga.

Namun, benarkah kemuliaan dan kesyahidan itu sebuah opsi? Ataukah sebuah kausalitas? Ada persepsi bahwa kesyahidan itu dipilih akibat putus asa dalam berdakwah dan menjalani hidup; beban hutang, kemiskinan, keterasingan dalam masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, upaya istisyhad (mensyahidkan diri) dilakukan untuk menggapai surga. Demikian pula, kalau dirasa sudah hidup mulia tidak perlu kesyahidan karena dianggap sudah memenuhi satu aspek dari dua syarat menuju kebahagiaan abadi kelak. Persepsi di atas muncul lantaran adanya kata “aw (atau)” dalam hadis Nabi di atas, yang umumnya dipahami sebagai kata penghubung yang bersifat pilihan.

Kemuliaan itu bisa diraih  tidak saja karena garis hidup yang mujur dan penuh kesuksesan dalam hidup, tetapi juga dalam hidup yang serba kekurangan, orang bisa menjadi mulia tatkala ada ikhtiar yang keras, tidak meminta-minta dan senantiasa bersyukur. Justeru kehidupan yang linear (bahagia, tanpa masalah) banyak menjerumuskan pada kehinaan dan dosa.

Prestasi ‘syahid’ adalah merupakan mahkota hadiah langit dan bukan sejenis gelar akademis yang bisa dicari. Orang akan mati syahid atau tidak, bukan urusan manusia, akan tetapi sepenuhnya merupakan rahasia langit. Mati di jalan Tuhan, mati syahid, tak bisa direncana dan direkayasa manusia. Tetapi, hidup syahid merupakan kewajiban yang harus kita perjuangkan dengan gigih.

Ke-syahid-an itu ”iming-iming” dan janji agama yang pasti. Mati syahid dijamin masuk surga, langsung tanpa ditanya-tanya lagi. Mereka yang menganggap pihak lain serba salah itu pun memiliki klaim perjuangan membela agama. Dengan sendirinya mereka pun menggenggam ideologi mati syahid tadi. Mereka tak takut mati. Tetapi, jutaan orang cemas melihat kekerasan itu. Berjuta-juta manusia mendambakan ketenteraman hidup, tetapi para tokoh agama dan kaum militan malah berbicara tentang mati. Berjuta-juta orang menanti lagu kehidupan, mereka malah menyanyikan lagu kematian..

Dalam agama orang yang berjihad belum tentu syahid, karena masih dilihat motifnya, caranya, dampaknya. Nabi dalam hadis bersabda, orang dianggap jihad fi sabilillah apabila motifnya “litakuna kalimatullah hiyal ‘ulya” (agar citra dan realitas Islam menjadi superior). Fakta berbicara bahwa “jihad” yang dilakukan oleh orang-orang frustasi dalam hidup ataupun dalam berdakwah justeru akan mencemarkan citra Islam sendiri dan menghambat pergerakan dakwah yang sudah berjalan secara evolutif.

Kebudayaan kita lebih membutuhkan orang yang berani hidup syahid, yang mengasihi sesama, saling menolong, dan saling melindungi. Kemiskinan, dan orang-orang tak berdaya, sangat banyak jumlahnya, dan luar biasa mengenaskannya. Mengurus mereka merupakan panggilan keagamaan yang sangat sentral kedudukannya. Hidup harus dipertahankan. Kita mainkan peran keduniaan semaksimal mungkin agar kita tampak lebih bermartabat, baru kemudian bicara hak-hak kelangitan. Hidup yang “belum jadi” ini harus dibikin agak mendekati titik ”jadi”. Banyak hal, banyak sifat dan watak, sikap, dan tingkah laku politik di masyarakat kita yang dipengaruhi atau bahkan ”dibentuk” oleh kepentingan politik dan duit. Sering kita hanya bersandiwara dan membohongi publik. Banyak orang berteriak membela agama, padahal tujuannya mencari kemakmuran duniawi. Ada lembaga yang mewakili kepentingan rohani, tetapi merusak rohani dan kebersamaan yang nyaman dan alami.

Jadi hubungan kemuliaan dan kesyahidan adalah kausalitas, hubungan timbal balik. Artinya kalau di dunia banyak berbuat pada sesama, bermanfaat pada orang lain, maka tetntu Allah memberi gelar syahid (disaksikan oleh Allah, para malaikat dan shalihin).

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: