MARI KITA KEMBANGKAN ADVERSITY QUOTIENT

Nama Paul G Stoltz banyak dikenal karena konsep tentang Adversity Quotient (AQ) yang diciptakannya. AQ mengacu pada kemampuan yang dimiliki oleh setiap orang dalam mengatasi kesulitannya, biasanya dikaitkan dengan teori-teori kepemimpinan dalam dunia kerja.  Dengan konsep AQ yang dibuatnya, Stoltz membuat penggolongon bagaimana seseorang berespon dalam menghadapi kesulitan. Pertama, Quitter yaitu orang yang mudah menyerah.

Kedua, Camper yaitu orang yang bekerja keras, menggunakan potensinya untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi, dan kemudian merasa puas dengan apa yang didapatkannya. Ketiga adalah Climber, yaitu orang yang terus mendaki, terus berusaha dengan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk mengatasi kesulitannya dan mencapai potensi maksimalnya. Climber akan terus berusaha, terus belajar dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang diraihnya.

Mengubah Masalah Menjadi Berkah menggabungkan teknik kepemimpinan serta riset revolusioner Stoltz yang telah terbukti dan kisah serta kebijaksanaan yang dimiliki Erik. Erik, adalah seorang tunanetra yang berhasil mendaki tujuh puncak gunung tertinggi. Setiap puncak di setiap benua. Erik bukan orang yang terlahir dalam keadaan tunanetra. Dalam musim panas antara kelas delapan dan Sembilan, perlahan-lahan ia kehilangan penglihatannya. Tidak mudah bagi Erik untuk menerima kondisi ini, ia sempat mengira kalau dunianya akan segera hancur. HIngga suatu hari ia menyaksikan sebuah acara TV berjudul That’s Incredible. Untuk dapat menyaksikan acara itu, Erik harus menjulurkan lehernya hingga hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari layar televise, hidung menempel di layar televisi dan mata yang terus berair.

Bukan tanpa alasan, Erik menyaksikan acara tersebut. Acara itu menampilkan seorang atlet bernama Terry Fox. Terry kehilangan satu kaki karena kanker dan ketika belum diperbolehkan pulang dariu rumah sakit, ia membuat keputusan untuk berlari dari ujung timur ke ujung barat Kanada. BErkilo-kilo meter jarak yang ditempuh membuat penderitaan yang tak terkira pada kaki yang diamputasi dan kaki palsu sederhana yang dikenakan Terry. Terry terus berlari terpincang-terpincang berkilo-kilo meter melawan rasa sakit karena kulit yang melepuh dan telanjang, sesekali menggunakan tongkat penopang untuk mendorong maju badannya. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan kelelahan sedikitpun, dan tampak sangat bercahaya. Ada semangat dari dalam diri Terry yang terus membakar fisiknya hingga ia terus berlari. Saat memandang wajah Terry inilah, ada semangat baru yang muncul dalam diri Erik. Ada keyakinan besar dalam dirinya bahwa hidupnya belum berakhir. Erik menyadari bahwa badai kesulitan yang sanagt hebat sekalipun dapat diubah menjadi sebuah kekuatan yang akan membuat dirinya menjadi lebih baik dan lebih kuat.

Dalam perjalanannya untuk mendaki tujuh puncak gunung tertinggi di dunia, Erik belajar lebih banyak hal tentang kehidupan, belajar tentang keuntungan medapatkan kesulitan dalam hidup. Dan, Erik adalah contoh nyata seorang  climber.
Erik dan Stoltz kemudian berkolaborasi dalam penulisan buku. Menguraikan bagaimana sebuah kesulitan dapat diubah menjadi sebuah keberhasilan. Cerita perjuangan Erik menaklukkan tujuh puncak gunung tertinggi, dipadukan konsep adversity quotient Stoltz. Keduanya menggunakan symbol gunung, sebagai perumpamaan untuk sebuah puncak yang harus ditaklukkan, sebagai sebuah hambatan yang harus diubah menjadi sebuah peluang. Kesulitan itu ada bukan untuk melemahkan, tetapi untuk membuat mereka yang menghadapinya menjadi lebih kuat.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: