Jangan Jadi Orang Keempat

Oleh Syafaat

Ketika seseorang berada dalam kesendirian di ruangan yang sunyi, hakekatnya dia berdua dengan Allah dan baginya berlaku etika personal. Artinya dia tetap dituntut untuk menjalankan tugas ubudiyyah kepada Allah. Bukankah Allah memberi label “ulul albab” itu hanya pada orang yang senantiasa berdzikir baik saat berbaring, berdiri, dan duduk, tanpa diketahui orang lain. Di kala seseorang berada di tengah orang banyak atau sedang berinteraksi dengan orang lain, juga baginya berlaku etika sosial. Dalam prakteknya, terkadang kita susah membedakan kapan dan dimana, menerapkan dua macam etika tersebut.

Pemimpin yang otoriter sebetulnya adalah orang yang gagal menerapkan etika sosial di kala dia bersentuhan dengan orang lain. Dia meyakini bahwa antara saya, kalian dan mereka, itu tidak ada bedanya. Saya bisa, kalian atau mereka juga harus bisa. Kegagalan inilah yang menghalangi orang untuk mampu hidup bersama secara elegan.

Dalam al-Qur’an, Allah mengabadikan ucapan Nabi Syuaib tentang pentingnya kebersamaan ragawi dan kebersamaan ide, dalam membentuk keharmonisan dalam masyarakat. Beliau mengatakan:

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ (هود 88)

Saya tidak ingin berbeda dengan kalian terkait larangan saya pada kalian, saya hanya melakukan perbaikan semampu saya

Betapa Rasulullah juga menjunjung tinggi kebersamaan, dalam sejarah terukir bahwa beliau bersama para sahabatnya membuat parit menjelang pecahnya perang khandaq, mengangkat batu, menggali tanah, tanpa menghiraukan posisinya sebagai Rasul. Juga saat pulang dari peperangan. Beberapa berebut peran untuk memasak kambing bersama Rasul. Sebagian ingin menjadi juru masak, sementara yang lain menawarkan diri untuk menyembelih dan menguliti kambing hingga siap dimasak. Di luar dugaan, rasulullah juga menawarkan diri untuk mencari kayu bakar. Salah seorang dari mereka berkata: “Rasulullah, kami saja cukup yang mencari kayu!” Rasul menjawab: Allah tidak suka hambanya yang diistimewakan dari yang lain.

Seringkali para pemimpin kita, lebih mengedepankan telunjuk dan lidah daripada tenaga dan hati. Padahal sedikit saja pemimpin itu menirukan apa yang dilakukan bawahannya, maka bawahan merasa senangnya bukan main. Misalnya, seorang rektor sesekali ngobrol dengan tukang sapu dan sesekali juga berakting seperti tukang sapu meski tidak sampai berkeringat, pasti sang rektor itu akan dicap sebagai pemimpin yang pro wong cilik dan sebagainya.

Kebersamaan yang dibutuhkan itu adakalanya juga kesamaan ide dan pandangan. Dukungan atas sebuah ide atau usulan, subtansinya merupakan penghargaan kita pada orang lain. Berbeda pandangan itu lazim terjadi dalam rangka memunculkan dinamika berpikir. Demikian juga kritik itu membuat orang menyadari akan kelemahannya. Hanya saja, kerap terjadi dan hampir ditemukan pada setiap komunitas, adanya orang atau kelompok yang secara apriori memposisikan sebagai penentang. Hal-hal kecil yang tidak subtantif sering kali diangkat untuk menghalangi ide besar yang pro pada kepentingan banyak orang. Rapat yang semestinya membahas beberapa hal dalam waktu singkat, menjadi berlarut-larut dan tak menentu akibat ulah segelintir orang.

Rasulullah mengingatkan hal itu dalam bahasa yang berbeda:

اغد عالمًا أو متعلمًا أو مستمعًا ولا تكن الرابع فتهلك (رواه السيوطي في الجامع الكبير)

Pergilah (jadilah) engkau sebagai orang alim (mengerti), atau muta’allim (orang yang belajar) atau mustami’ (pendengar) dan jangan menjadi orang keempat, niscaya engakau akan hancur.

Hadis di atas mensiratkan perlunya kita menyadari potensi kita, apabila memang layak jadi pemimpin maka jadilah pemimpin. Sebaliknya bila kapasitasnya hanya layak jadi bawahan, jadilah bawahan yang baik. Bila keduanya juga tidak jadilah pengamat yang baik dan jangan menjadi orang keempat, yaitu orang yang tidak menyadari posisinya sekaligus menjadi ‘destroyer’ dalam kelompok. Semoga kita masuk dalam tiga kelompok pertama, amin.

(Materi pengajian, disampaikan pada tgl 5 Januari 2010 jam 12.00 di Masjid Al-Hikmah UM)

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: