Menghafal di Usia Dewasa, Siapa Takut?

Oleh Syafaat

Belakangan ini saya sering ditanya beberapa teman perihal keinginan mereka untuk menghafal al-Quran di usia dewasa (sekitar 20 – 50 tahun). Fenomena ini cukup marak belakangan ini, sampai-sampai salah seorang dosen saya di S3 UIN Malang dengan usia di atas 50 tahun, padahal selama ini dipandang berpikiran liberal, mengatakan:  “saya sekarang menghafalkan al-Quran, berapapun dapatnya tidak masalah, sebab Allah menghargai proses bukan hasil. Cita-cita saya sebelum meninnggal, kalau bisa semua ayat al-Quran sudah pernah dihafal.” Demikian juga salah seorang pembantu rektor di Universitas Negeri Malang, secara implisit bertanya pada saya tentang tata cara menghafal dan menjaga al-Quran di usia dewasa.

Dua tahun yang lalu, saya mengikuti acara khataman di rumah P. Asrukin (pegawai Perpustakaan UM), di sana bertemu orang “sepuh” dari Kepanjen Malang yang sedang menghafal al-Quran sejak usia 55 tahun, waktu itu baru dapat menghafal 25 juz. Di Pesantren Darul Quran Singosari Malang, juga pernah kedatangan santriwati berusia 50-an tahun dari Jember.

Cerita di atas menggambarkan betapa ada banyak orang yang ingin menghabiskan sisa usianya untuk berkhidmat pada Allah melalui Al-Quran. Saya sendiri pernah merenung, saat baru lulus dari Madrasah Aliyah dulu: “apa kelak yang akan saya lakukan ketika mata sudah tak jelas memandang, ketika tenaga tak lagi kuat untuk bekerja, ketika semua kebutuhan materi dan cita-cita sudah terpenuhi, dan ketika hidup sudah diintip maut? Saya teringat pesan guru bahwa orang yang banyak hafalan al-Quran tidak akan pikun di usia senja dan tak akan pernah kesepian dalam situasi apapun. Lalu terbersit dalam pikiran, saya harus menghafal selagi masih diberi kekuatan, tuntutan kuliah dan nikah antri dulu di belakang. Apa yang saya renungkan, mungkin juga sama dengan renungan banyak orang sehingga usia tidak lagi halangan untuk mulai menghafal al-Quran.

Hafal al-Quran adalah sebuah anugerah agung yang tak ternilai dengan apapun. Segala unsur pendukungnya juga anugerah seperti niat/motivasi untuk menghafal. Tidak semua orang dikarunia keinginan (Himmah) untuk itu. Himmah inilah yang akan mengobarkan api semangat dalam jiwa, ia akan mengalahkan kepentingan apapun. (bersambung)

Kekhawatiran kadang muncul seiring keinginan untuk menghafal. Khawatir tidak bisa tuntas lantaran daya ingat dan daya fisik menurun. Khawatir tidak memiliki banyak waktu untuk menuntaskan hafalan. Khawatir tidak mampu menjaga usai hafal, dan seterusnya. Sebagai orang beriman, kita harus yakin bahwa setiap ada kemauan di situ akan ada jalan, Allah berfirman (QS. Al-Ankabut:69):

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Dan mereka yang bersungguh-sungguh di jalan kami, maka akan kami tunjukkan jalannya.

Allah juga akan selalu memantau upaya (proses) kita untuk menciptakan kebaikan itu dan bukan hasil dari upaya. Hasil akhir dari semua upaya manusia itu disebut qadar, dan itu menjadi hak prerogatif Allah semata.

Berbekal keyakinan di atas, baru kita melangkah untuk mengikis kekhawatira lainnya. Daya ingat seseorang memang mendukung kecepatan dan ketahanan hafalan. Sepanjang pengamatan saya, kecerdasan dan kekuatan hafalan seseorang seringkali tak berarti bila tidak dibarengi dengan semangat dan istiqamah. Anak kecil rata-rata memiliki hafalan yang baik dibanding orang dewasa. Tapi jangan lupa orang dewasa punya kelebihan dalam pemahaman dan manajemen konseptual. Kekuatan hafalan dan keluasan pemahan merupakan dua unsur pendukung dalam hafalan.

Misalnya dalam menghafal surat al-Baqarah 1-10, anak kecil bisa menghafal lafadz apa adanya. Sementara orang dewasa mampu menangkap pesan pokok dari tiap-tiap ayat. Orang dewasa mampu membuat kaitan antar ayat berdasarkan alur cerita. Ayat 1-5 menceritakan ciri-ciri orang taqwa, diikuti kemudian dengan ciri-ciri orang kafir dan orang munafiq. Paparan di atas merupakan ilustrasi bahwa tidak selamanya daya ingat yang menurun itu menghalangi upaya menghafal.

Adapun daya (kekuatan) fisik diperlukan, sepanjang mendukung kekuatan konsentrasi dan daya tahan berpikir. Ternyata yang terpenting di sini adalah kekuatan pikiran. Mereka yang berusia 40 tahunan, sebetulnya dari aspek fisik tidak ada masalah, selama masih terjaga kesehatannya.

Terkait dengan kekhawatiran berikutnya, yaitu terbatasnya waktu bagi orang dewasa untuk menghafal, hal ini logis dan bisa diterima. Alasannya, umumnya seseorang yang berusia 30 tahun itu telah memiliki pekerjaan rutin, disamping ada beban tugas rumah tangga (mengurus anak, istri/suami). Dengan kata lain, jam kerja orang dewasa jauh lebih banyak dibanding remaja. Hanya saja, jam kerja orang dewasa tidak selalu identik dengan aktifitas, melainkan tanggungjawab dan problematika keluarga yang menyita perhatian dan pikiran. Kendati demikian, kondisi ini masih memungkinkan untuk menghafal al-Quran, tentu dengan manajemen yang tertata baik.

Manajemen waktu itu didasarkan pada target yang ingin dicapai. Misalnya, dalam sebulan harus dapat satu juz, maka minimal dalam sehari harus menghafal 3/4 halaman, sehingga dalam kurun waktu 2,5 tahun telah tuntas semua al-Quran. Untuk menambah hafalan 3/4 halaman rata-rata memakan waktu satu jam perhari. Tetapi, menambah hafalan saja belum cukup, dibutuhkan juga waktu untuk muraja’ah (pengulangan) dan tashih (pembetulan di depan guru).

Baiklah, berikut ini gambaran pembagian waktu tahfidz (hafalan) untuk orang dewasa.

No Waktu Kegiatan
1 04.30 – 06.00 Menambah hafalan baru dan tashih
2 06.00 – 07.00 Membantu keluarga/menyiapkan anak sekolah
3 07.00 – 15.00 Kerja
4 15.00 – 16.30 Istirahat
5 16.30 – 17.30 Mengulangi hafalan baru (satu juz terakhir)
6 17.30 – 19.00 Mengulangi hafalan lama (Muroja’ah)
7 19.00 – 21.00 Relaksasi bersama keluarga
8 21.00 – 04.30 Istirahat

Dari tabel di atas, dapat digambarkan bahwa ternyata orang dewasapun dalam batas tertentu masih memiliki waktu cukup untuk menghafalkan al-Quran. Tabel di atas memang masih merupakan gambaran kasar, bisa jadi sesuai atau bisa jadi tidak dengan orang yang bersangkutan.

Bila anda memutuskan menghafal al-Quran pada usia dewasa, konsekwensinya harus melakukan pengetatan waktu (disiplin waktu). Kebiasan ngerumpi, ngobrol, berlama-lama nonton TV mulai direm dan dikurangi. Mesti juga anda konsisten dengan waktu yang telah ditetapkan selama sekian jam perhari dan selama sekian tahun. Ketahanan menjaga komitmen waktu inilah yang sulit. Di sini perlu diwaspadai kebiasaan menunda dan malas dengan alasan apapun. Kadang karena alasan capek sedikit saja,  waktu yang sudah tertata dibuat berantakan dengan tidur, refreshing berlebihan.

Dalam tradisi menghafal, semakin banyak hafalan harus dibarengi disiplin tinggi. Pasalnya, selama masa menghafal hendaknya tidak mendiamkan hafalan lebih dari seminggu. Misalnya, ketika anda sudah hafal 14 juz maka kewajiban murajaah dua juz perhari agar dalam seminggu semua tuntas terbaca. Di saat mendekati khatam, minimal harus murajaah 4-5 juz perhari. Akibatnya, jadwal waktu harian seperti contoh di atas harus disesuaikan.

Kekhawatiran berikutnya yang sering muncul adalah adanya pobia tentang susahnya menjaga atau hilangnya hafalan yang berdampak pada hukum “dosa” atau “maksiat”. Perlu diketahui bahwa lupa yang diharamkan menurut Imam Nawawi dalam kitab “At-Tibyan fi Adab Hamalat al-Quran” apabila ada unsur sembrono, menyepelekan hafalannya seperti tidak membacanya dalam kurun satu bulan lebih. Betapa Allah sudah memilih dia menjadi penghafal al-Quran, tetapi itu tidak disyukuri, dia tidak memurajaahnya dalam waktu yang lama sehingga banyak ayat yang lupa. Sebaliknya kalau upaya maksimal dalam menjaga al-Quran sudah dilakukan, namun tetap saja banyak yang lupa maka itulah lupa yang ditolerir oleh syara’.

Sejak awal seyogyanya para penghafal al-Quran itu belajar menikmati bacaan atau hafalannya sebagai firman Allah yang indah. Tidak menganggap murajaah itu sebagai beban dan semata diniati memelihara al-Quran. Segala sesuatu yang diniati secara positif akan ringan untuk dijalani, sebaliknya hal yang diniati secara negatif akan berat dijalani. Jangan sampai kita niat menghafal itu untuk hafalan itu sendiri. Artinya kita ingin menjadikan hafalan itu sebagai media dan bukan tujuan. Yakni hafalan itu kita jadikan sebagai media untuk memperbanyak bacaan al-Quran kita. Atau dengan hafalan, kita bisa mengokohkan struktur keilmuan islam yang kita miliki.  Dengan hafalan, kita mampu menggali syariat Islam langsung dari sumbernya dan dengan hafalan pula, kita mudah mengkaitkan berbagai fenomena kehidupan dengan ayat al-Quran secara tepat dan tidak sepotong-sepotong.

Pertanyaan berikutnya, adakah metode khusus menghafal bagi orang dewasa. Secara umum metode menghafal untuk anak, remaja dan dewasa itu sama, yaitu repetisi (pengulangan), sorogan ( melafalkan hafalannya di depan guru), tadabbur (memahami makna dan urutan kisah), BHT (baca hafal tulis; menulis semua yang dihafal sebelum ditashih), rabath (pengikatan akhir ayat), tasmi’ (mendengar kaset murattal), tilawatus safar (menghafal di atas kendaraan) dan tilawatusshalah (menghafal dalam shalat). Hanya saja, untuk mereka yang super sibuk bisa memilih dua metode terakhir, yaitu metode tilawatus safar dan tilawatusshalah. Dalam kondisi yang sangat sulit meluangkan waktu untuk menghafal, bisa dipilih waktu-waktu yang pasti orang melakukannya terutama muslim. Misalnya, diasumsikan setiap rakaat dalam shalat sunnah rawatib kita membaca satu halaman mushaf al-Quran, maka paling tidak satu juz bisa dibaca, dengan rincian 8 rakaat qabliyyah dan ba’diyyah dhuhur, 2 rakaat qabliyyah ashar, 4 rakaat qabliyyah dan ba’diyyah maghrib, 4 rakaat qabliyyah dan ba’diyyah Isya’ serta 2 rakaat qabliyyah Shubuh (8+2+4+4+2=20 rakaat). Rata-rata satu juz itu berisi 20 halaman (10 lembar), jadi dalam shalat saja kita bisa istiqamah satu juz perhari. Belum lagi ditambah 8 rakaat shalat Dluha, 11 rakaat qiyamul lail, maka genap 2 juz.

Juga metode alternatif bagi yang sibuk, adalah tilawatus safar. Yakni mengulangi hafalan saat berada di atas kendaraan. Umumnya orang tidak ada aktifitas saat mengendarai motor atau mobil, kecuali konsentrasi dalam mengendarai itu sendiri. Atau kadang sambil dengar musik atau kaset murattal. Konon, almarhum KH. Mufid Mas’ud (dari Sunan Pandan Arang Yogyakarta) setiap mengunjungi santri-santrinya yang ada di Malang mengkhatamkan al-Quran di atas kendaraan dengan waktu tempuh sekitar 8 jam. Kalau waktu tempu dari rumah ke kantor sekitar 30 menit, sangat mungkin sekali kita mengulangi hafalan/membaca rutin 1 juz  untuk pulang pergi, belum lagi sambil mengantar anak-anak sekolah atau menemani istri belanja dan sebagainya.

Satu hal lagi yang sangat mendukung hafalan adalah handphone yang terinstal program pocket al-Quran. Di mana saja kita bisa membaca atau mengecek kebenaran hafalan atau mendengarkan bacaan murattal. Alhasil, tidak ada kata sulit dalam menghafal dan tidak ada kata menyerah dalam menanam kebaikan. Selamat menghafal semoga sukses.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: