Menciptakan Suasana Qur’ani dalam Keluarga

Oleh Syafaat

Umat Islam Indonesia yang merupakan komunitas muslim terbesar (secara kuantitas) di dunia patut kita banggakan, namun besar secara kuantitas belum diikuti oleh besar secara kualitas. Dari sekitar 90% penduduk muslim, berapa prosentase dari mereka yang bisa membaca Al-Quran dengan baik? Berapa prosentase yang bisa baca dan mengerti isi kandungan Al-Quran? Berapa prosentase muslim yang bisa baca, mengerti, dan menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk, benteng dalam kehidupan sehari-hari? Tanpa harus melakukan research, kita semua bisa menjawab pertanyaan tersebut, melalui self reading atas kita dan orang di sekeliling kita.

Penulis sendiri sering mengamati kemampuan membaca al-Quran mahasiswa muslim di beberapa perguruan tinggi di Malang. Dalam satu kelas maksimal 20% mahasiswa saja yang bisa membaca al-Quran. Kalau di kalangan masyarakat terpelajar saja begitu langka yang mampu baca al-Quran, lalu bagaimana dengan masyarakat non terpelajar?

Kondisi ini sangat memprihatinkan kita semua sebagai seorang muslim.  Perhatian masyarakat muslim di era modern lebih banyak dicurahkan untuk hal-hal yang pragmatis (kepentingan sesaat) daripada memikirkan hal-hal yang religius. Mereka lebih bangga bila putra-putri mereka menguasai bahasa Inggris daripada mereka mampu memahami al-Quran dan tafsirnya. Untuk tujuan kursus/privat pelajaran mingguan saja mereka rela merogoh koceknya ratusan ribu perbulan. Sementara, Taman Pendidikan al-Quran (TPQ) yang hanya mewajibkan infaq 10 ribu saja perbulan untuk belajar setiap hari, terkadang kurang begitu menggiurkan.

Keluarga merupakan miniatur sebuah bangsa, baik tidaknya suatu bangsa tergantung kualitas individu dan keluarga. Allah SWT mengingatkan para orang tua agar kelak tidak meninggalkan keturunan yang lemah fisik maupun psikis (QS. An-Nisa’:9). Kelemahan yang berupa keterbatasan membaca al-Quran dan memahami ajaran agama, bahayanya melebihi kelemahan-kelemahan yang lain. Menurut Al-Ghazali, kehadiran putra/putri di tengah-tengah keluarga memang di satu sisi menjadi raihanah (bunga yang harum) atau syarik (mitra setia) dalam keluarga, namun, di sisi lain bisa juga mereka menjadi ‘aduww (musuh terberat) bagi keluarga (QS. At-Taghabun:14). Untuk itulah diperlukan pendidikan agama dan al-Qur’an yang akan menyejukan keluarga (QS. Ar-Ra’d:28). Apakah orang tua akan mengarahkan anaknya menjadi raihanah atau ‘aduww, masing-masing ada konsekwensi dan ongkos yang harus dibayar mahal. Jangan sampai terjadi, akibat kelalaian mendidik akhlaq anak, lantas anak akan mencabik-cabik harkat dan martabat keluarga. Anak yang terlanjur terjerumus pergaulan bebas, narkoba, kekerasan, adalah ongkos yang harus dibayar mahal oleh keluarga.

Menurut pakar pendidikan Islam, Dr. Athiyyah Al-Abrosyi, tahapan pendidikan anak harus diawali dari pembelajaran al-Quran. Hal ini sesuai dengan pesan al-Quran (QS. Ali Imran: 164) bahwa tahapan pendidikan anak adalah (1)  membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah (pembelajaran al-Quran), (2) membersihkan jiwa mereka (pembelajaran akhlaq), dan (3) mengajarkan kepada mereka ilmu dan kebijaksanaan (pembelajaran segala ilmu).

Ironisnya, banyak kurikulum pendidikan usia dini yang tidak “pro al-Quran” baik di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), Play Group, maupun di TK. Tren sekarang adalah pengenalan komputer, internet, bahasa Inggris sejak dini, sehingga hal yang lebih familiar di telinga dan mata kita adalah jargon semacam English for Kids, Computer for Kids dll, dengan kemasan yang menarik. Padahal segudang potensi bahaya akibat komputer dan internet telah menghadang mereka. Kekhawatiran kita kalau budaya semacam ini terus dikembangkan, akan muncul generasi “moslem in name” yaitu generasi dimana predikat muslim hanya sebatas nama, shalat hanya semata ritual, doa hanya sekadar  mantra, mushaf al-Quran hanya asesoris, ansich.

Solusinya, sejak hari ini niatkan dan bangun komitmen dalam diri setiap kita bahwa keluarga kita tidak boleh “buta huruf” al-Quran, semua pilar keluarga (ayah, ibu) harus support maksimal dari aspek materi (dana, buku) dan immateri (tauladan, doa, pemberian motivasi), serta ciptakan tradisi membaca al-Quran setiap hari di rumah kita. Banyak pengalaman membuktikan, ketika al-Quran dipelajari dan dibaca secara kontinyu, muncul efek positif pada kepribadian dan sifat dari orang yang mempelajari dan membacanya. Sampai-sampai, ada ulama yang memberi nasehat: “Kalau ingin kita mendidik putra putri tentang akhlak dan tatakrama, ajarilah mereka al-Quran niscaya al-Quran sendiri –bi idznillah- yang akan merubah akhlaq mereka menjadi lebih baik.”

Berikut ini fakta yang awalnya penulis sendiri hampir tidak percaya, yaitu adanya satu keluarga yang mampu mengantarkan ke sepuluh putra-putrinya menjadi penghafal al-Quran dan berprestasi di sekolah masing-masing. Setelah melihat foto-fotonya dan deskripsi prestasi mereka, baru meyakininya 100%.

Adalah keluarga dari Bapak Mutammimul Ula (Beliau anggota DPR RI komisi III dari Fraksi PKS 2004-2009) yang dikarunia 11 putra-putri (1 meninggal). Keluarga harmonis ini layak diberi gelar “Lasykar Al-Quran”. Pasalnya, kesepuluh anak tersebut, semuanya sudah dan sedang menghafal al-Quran sejak usia dini. Hebatnya lagi, subhanallah, kesepuluh anak tersebut berprestasi di sekolahnya masing-masing. Berikut ini profil dari kesepuluh anak tersebut:

1. Afzalurahman, 21 tahun, semester 6 Teknik Geofisika ITB, Hafal Quran usia 13 tahun, sekarang masuk Program PPDMS, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB, Peserta Pertamina Youth Progamme 2OO7 dari ITB.

2. Faris Jihady Hanifa, 2O tahun, semester 4 Fakultas syariah LIPIA, hafal Quran usia 1O tahun Predikat mumtaz (exellence), Juara 1 lomba Tahfidz 3O Juz yang diselenggarakan Kerajaan Saudi Arabia, Juara 1 Lomba Olimpiade IPS tingkat SMA 2OO3

3. Maryam Qonitat, 18 tahun, semester 2 Fakultas Ushuluddin Univ Al Azhar Kairo, hafal Quran usia 16 tahun. Lulusan Terbaik Husnul Khotimah 2OO6

4. Scientia Afifah, 17 tahun, kelas 3 SMU 28, hafal 1O Juz, pelajar teladan MTs Al Hikmah 2OO4

5. Ahmad Rosikh Ilmi, 15 tahun, kelas 1 MA husnul Khotimah, hafal 6 Juz, pelajar Teladan SDIT Al Hikmah 2OO2, Lulusan Terbaik MTs Al Kahfi 2OO6

6. Ismail Ghulam Halim, 13 tahun, kelas 2 MTs AlKahfi, Hafal 8 Juz, Juara Olimpiade IPA tingkat SD se-Jaksel 2OO3, 4 penghargaan dari Al Kahfi, Tahfidz Terbaik, Santri Favorit, Santri Teladan, dan Juara Umum

7. Yusuf Zaim Hakim, 12 tahun, kelas 1 MTs Al Kahfi, hafal 5 Juz, rangking 1 di kelasnya

8. Muh Saihul Basyir, 11 tahun, kelas 5 SDIT Al Hikmah, hafal 25 Juz

9. Hadi Sabila Rosyad, 9 tahun, kelas 4 SDIT Al Hikmah, hafal 2 Juz

1O. Himmaty Muyasssarah, 7 tahun hafal 1juz.

Terkait itu, Rektor UIN Malang, Prof. DR. Imam Suprayogo  (Januari 2010) pernah ceramah di PP Al-Munawariyah Bululawang Malang. Beliau mengatakan ternyata empat tahun berturut-turut lulusan terbaik dengan nilai IPK tertinggi wisudawan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang diraih oleh mahasiswa dan mahasiswi yang hafal al-Quran 30 juz. Hal senada juga terjadi di Kel. Rogonoto Singosari Malang. Di sana terdapat keluarga alm. KH. Amir yang ke enam putra-putri hafal al-Quran dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Putra ketiganya, Agus Silahul Hawa, meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan formal, beliau mampu mengarang banyak buku, menguasai komputer dan memiliki kemampuan orasi bagus.

Di  Kel. Kacuk Kebonagung Malang, juga terdapat keluarga Ibu Adibah yang keempat putra putrinya hafal al-Quran dan berprestasi di bidang akademik. Putra pertama dan kedua sama-sama berprestasi dalam musabaqah tafsir al-Quran berbahasa Arab dan Inggris baik di tingkat regional maupun nasional. Keluarga KH. Syadzili di desa Sumberpasir Pakis Malang, juga keempat putra putrinya hafal al-Quran dan berprestasi. Agus Abdul Mun’im misalnya, pernah menjadi delegasi Indonesia mengikuti Lomba Tafsir al-Quran di Iran dan meraih juara III internasional.

Penulis juga teringat tulisan Syeikh Abdul Daim al-Kaheel yang menceritakan pengalaman kesuksesannya. Sebelum ia hafal al-Quran dia susah sekali memahami sebuah tulisan dan mudah lupa. Namun, setelah hafal al-Quran ia merasa mendapatkan kemukjizatan yang luar biasa. Dengan mudahnya kini memahami jenis tulisan apapun, bahkan sekarang mampu menulis ratusan artikel kemukjizatan al-Quran yang tertuang dalam buku dan situs pribadinya.

Berikut ini kesaksian (testimoni) beliau yang lain yang tertulis dalam situs pribadinya www.kaheel7.com:

“Melalui al-Quran Anda bisa mendapatkan hasil luar biasa serta tak terduga yang dapat mengubah hidup. Anda benar-benar seperti yang terjadi pada diri saya sebelumnya. Apa yang harus Anda lakukan adalah  mendengarkan pembacaan Alquran sebanyak yang Anda dapat setiap saat: di pagi hari, sore hari, di malam hari, ketika Anda sedang tidur, ketika Anda bangun dan sebelum tidur. Yang Anda butuhkan untuk mendengarkan Alquran adalah memiliki media seperti Laptop, tape recorder, sebuah iPod atau mp3 dengan headphone, TV, radio atau perangkat lain. Bunyi bacaan Alquran  memiliki gelombang suara dengan frekuensi tertentu dan panjang gelombang tertentu. Gelombang ini menyebarkan medan  gelombang  yang mempengaruhi otak secara positif dan mengembalikan keseimbangannya. Ini  mendukung kekebalan tubuh yang kuat untuk melawan penyakit atau bahkan penyakit seperti kanker. Kanker adalah suatu kelainan pada kinerja sel, sehingga menperdengarkan Alquran berarti memprogram sel layaknya komputer yang penuh virus yang “diformat ulang” dan di-install dengan program-program baru agar dapat bekerja efektif. Inilah  program buatan yang manusia lakukan untuk komputer.

Terus-menerus mendengarkan bacaan Alquran memberi Anda hasil berbuah nyata berikut: (1) meningkatkan kekebalan tubuh, (2) meningkatkan  kreativitas, (3) meningkatkan kemampuan konsentrasi, (4) menyembuhkan penyakit kronis dan tak tersembuhkan, (5) mengubah perilaku dan memungkinkan orang untuk berkomunikasi dengan lebih baik dan mendapatkan kepercayaan, (6) menciptakan kedamaian dan menyembuhkan ketegangan saraf, (7) menyembuhkan kegelisahan, dan iritasi, (8) meningkatkan kemampuan mengambil keputusan yang tepat, (9) mengurangi rasa takut dan ragu-ragu, (10) meningkatkan dan memperkuat kepribadian, (11) menyembuhkan penyakit normal seperti alergi, sakit kepala, flu, dll, (12) meningkatkan kemampuan pidato, (13) melindungi dari penyakit seperti kanker dan sebagainya, (14) mengubah beberapa kebiasaan buruk seperti makan berlebihan dan merokok.

Hal-hal yang saya sebutkan di atas adalah hasil yang saya sendiri punya: Aku ingat, aku adalah seorang perokok berat dan tidak bisa membayangkan pernah berhenti merokok, tapi setelah terus-menerus mendengarkan Alquran ternyata aku berhenti merokok tanpa usaha. Aku benar-benar terkejut “bagaimana hidupku berubah dan mengapa? Tapi setelah saya membaca tentang teknik terbaru dalam penyembuhan, salah satunya adalah terapi oleh suara dan frekuensi suara, aku tahu rahasia ini perubahan besar dalam hidup saya. Itu adalah mendengarkan bacaan Alquran. Apa yang saya lakukan adalah hanya sekadar mendengarkan Alquran terus menerus. Fakta tersebut mendapat rasionalisasinya secara ilmiah dalam hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan barat, seperti yang ditulis dalam beberapa buku;  Brain cells tune in to music, Brain wave therapy, Revolutionary nanotechnology illuminates brain cells at work dll.” Demikian testimoni dari Syaikh Abd Daim al-Kaheel semoga menginspirasi kita.

Dari beberapa contoh tauladan di atas, rata-rata kesuksesan mereka diawali dari pendidikan al-Quran dalam keluarga. Ada beberapa prinsip yang mereka terapkan, diantaranya:

1. Mengajarkan Al Quran sejak usia 4 tahun. Doktrin keluarga kepada semua anaknya adalah bahwa Al Quran merupakan kunci kebahagiaan dunia dan akhirat

2. Jangan terlalu mengandalkan sekolah, sebab 2/3 keberhasilan Pendidikan itu ada di rumah dan keberhasilan itu hasil integrasi kedua orang tuanya.

3. Peran ayah dalam mendidik anak-anaknya harus lebih menonjol dibanding ibu. Imam Syafi’I ditinggal wafat ayahnya ketika berusia 6 tahun.

4. Kekayaan keluarga adalah anak dan buku. Setiap liburan, selalu mengajak anak anak ke toko buku.ada 4OOO buku di rumah.

5. Mengurangi ketergantungan anak pada televisi

6. Setiap hari diperdengarkan bacaan murottal

7. Peran ayah/suami harus lebih dominan

8. Tiga Fase interaksi dengan Anak menurut Imam Ali, 7 tahun pertama perlakukan ia seperti raja, 7 tahun kedua  perlakukan ia seperti tawanan perang dalam kedisiplinan

9. Bakda maghrib dan Bakda subuh adalah waktu interaksi dengan Al Qur an.

10. Memagari anak anak dari pengaruh negatif.

Dari papan di atas, dapat disimpulkan bahwa al-Quran tidak hanya menempa otak menjadi baik dan cerdas, tetapi juga memperbaiki kualitas sikap dan kepribadian yang berakhlaqul karimah. Tidak ada kata terlambat bagi kita semua untuk mengubah hidup menjadi lebih baik dengan mengawalinya melalui belajar al-Quran. Apabila seorang ayah telah mentradisikan membaca dan memahami al-Quran, pastilah seisi rumah akan mengikutinya. Alangkah indahnya jika seisi rumah kita bertaburkan aura dan cahaya qurani. Betapa bahagianya kelak, kubur kita dan orang tua kita bertaburkan cahaya dan kesejukan, sebagai buah dari bacaan al-Quran kita dan anak-anak kita yang masih hidup di dunia.

Materi (harta) itu penting untuk pendidikan anak-anak kita, tapi niat, doa, motivasi, perhatian dan kesungguhan orang tua melebihi segalanya. Tugas kita adalah berikhtiyar dan berusaha, Allahlah yang merealisasikan semuanya sesuai kadar kesungguhan kita. Allah akan menilai dan memberi pahala sesuai proses yang kita jalani bukan hasil yang didapatkan, semoga keluarga ditakdirkan Allah menjadi keluarga qurani yang bahagia di dunia dan akherat, Amin.

(Malang, 2 April 2010)

One Response

  1. Patut diterapkan dalam keluarga pak…

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: