Filantrofi Ramadhan

Oleh Syafaat


Marhaban ya Ramadhan”, itulah ungkapan yang sering terucap, tertulis bahkan terngiang dalam sanubari setiap muslim menjelang tibanya bulan puasa. Ia bagaikan makhluk hidup yang bergerak merangkak mendekati kita. Ia layaknya seorang idola yang dielu-elukan dengan lambaian tangan dari kejauhan oleh para penggemarnya. Ramadhan telah dipersonifikasi sedemikian rupa oleh kaum muslimin seolah menjadi sosok makhluk yang hidup dan bergerak, sehingga dirasa begitu akrab berharap agar selalu dapat bersua dengannya.

Dalam kehidupan sehari-sehari siapapun pasti merasa betah dan enjoy bergaul dengan sahabat yang filantrofis (dermawan). Di kala susah dia siap membantu, di saat senang pun akan menambah suasana lebih happy. Ibarat manusia, Ramadhan juga hadir dengan sifat filantrofisnya. Betapa tidak, kehadirannya begitu dirindukan siapapun, kebahagiannya memercik ke manapun, keteduhannya menaungi tempat manapun.

Di bulan Ramadhan hampir semua lapisan masyarakat muslim –termasuk sebagian masyarakat non muslim- merasa diuntungkan, mulai dari pedagang asongan, karyawan, mahasiswa, konglomerat, ustadz sampai pejabat, semua diuntungkan dengan kedatangan Ramadhan. Seorang mahasiswa, misalnya, saat masuk bulan puasa, mulai bersuka cita karena ia sudah mengendus aroma liburan panjang di akhir Ramadhan yang akan melepaskan segala kepenatan mereka dalam menjalani tugas belajarnya. Seorang pegawai dan karyawan segera melakukan kalkulasi berapa THR dan parcel yang akan diterimanya. Tak ketinggalan pula, seorang anak jalanan siap mendapatkan buka puasa gratis serta bingkisan lebaran dari para dermawan. Barangkali hanya pengelola tempat-tempat diskotik dan tempat maksiat lainnya yang merasa dirugikan lantaran jam operasinya dibatasi oleh aparat sementara waktu. Hampir semua roda kehidupan masyarakat di bulan Ramadhan mengalami eskalakasi dan akselerasi sesaat, baik aspek ekonomi, sosial, spritual dan keamanan. Roda perekonomian jelas menggeliat bangkit, para pelaku ekonomi, pembeli dan penjual, semua dimanjakan oleh situasi itu. Lihat saja pasar mana yang tidak ramai dikerumuni pengunjung, mulai pagi sampai malam hari. Coba hitung berapa rata-rata kenaikan keuntungan para pedagang di pasar dan supermarket, lebih-lebih pada tujuh hari menjelang hari raya.

Dari aspek pembeli, daya beli dan selera hidup masyarakat jelas naik, inilah yang menjadi salah satu indikator menggeliatnya ekonomi masyarakat. Pada sisi lain, sekat-sekat strata sosial dan kebekuan komunikasi sebagai efek dari konflik kepentingan politik atau bisnis sedikit demi sedikit mulai mencair. Si kaya berderma pada si miskin, si pejabat mau menyapa kalangan miskin papa di lorong-lorong jembatan, terlepas apapun motif di balik filantropi tersebut. Warga satu RW atau bahkan satu desa jadi akrab, hati mereka tertautkan oleh ibadah tarawih dan jamaah rawatib. Semua ibadah dilakukan dengan khusu’ tanpa ada harubiru dari media faktual dan virtual yang memang sudah terkondisikan untuk ikut khusu’ dan (sok) islami. Statemen-statemen politisi yang biasanya membingungkan kini juga ikut “berpuasa” sementara waktu.

Dampak positif dari membaiknya kondisi ekonomi dan sosial, akan merekatkan interaksi antar masyarakat dan tentunya akan mempersolid stabilitas keamanan lingkungan sekeliling. Keamanan lingkungan ini sangat dipengaruhi oleh rapatnya solidaritas sosial yang termanifestasikan dalam sikap saling tegur sapa, empati dan simpati. Kondisi ini pasti akan menguntungkan lingkungan setempat dalam scope kecil, dan negara dalam scope luas, sehingga tercipta ketenteraman dan kedamaian di tengah-tengah masyarakat.

Namun, semua itu barulah filantropi yang terpancar dari Ramadhan, lalu filantropi apa yang akan kita persembahkan untuk Ramadhan tercinta ini? Akankah dengan banyaknya fasilitas Ramadhan tersebut, kita mampu menaikkan derajat kesalehan kita di hadapan Allah swt, ataukah malah justru akan menjerumuskan kita sendiri pada kehinaan? Orang bisa saja dengan alasan kerja berat tidak mau memanfaatkan keberkahan bulan Ramadhan, yang penting buat dia mendapatkan aksesoris Ramadhan, seperi punya baju baru, bisa mudik. Segala aksesoris filantropi Ramadhan jangan sampai menutupi subtansi Ramadhan yang hakiki.

Indahnya panorama pasar malam di mal-mal dan supermarket jangan malah membelokkan hati kita untuk berpaling melakukan ibadah. Nikmatnya bagi-bagi THR seyogyanya ditopang dengan ikhlasnya berbagi dengan sesama. Volume kerja yang berkurang saat Ramdhan hendaknya juga diimbangi dengan produktifitas dan kualitas kerja yang signifikan.

Filantropi subtansial dari Ramadhan bagi seorang muslim, tercermin dalam banyaknya ritual ibadah yang tergolong berat, ternyata mampu dilakukan oleh mayoritas kaum muslimin. Sebagai contoh, di luar bulan Ramadhan begitu sulitnya bangun di tengah malam untuk santap sahur atau qiyamul lail bagi kebanyakan orang, namun saat ia tiba, hal itu berubah menjadi ringan dan mudah. Demikian juga dengan bersedekah, menahan makan minum seharian, menahan nafsu seksual begitu mudah untuk dilaksanakan.

Permasalahan sekarang yang muncul, akankah filantropi tersebut dimanfaatkan secara konsumtif atau produktif? Sebagai ilustrasi, ketika seseorang, misalnya, menerima hibah seratus juta lalu uang tersebut dibelanjakan untuk barang-barang konsumtif seperti makanan, perabot rumah, aksesoris, tidak mustahil dalam kurun waktu tiga bulanan saja akan habis. Lain halnya, bila uang tersebut dibelanjakan secara produktif dengan membeli mesin fotokopi atau sejenisnya untuk buka usaha yang menghasilkan uang. Dalam rentang waktu lima tahun sekalipun, uang itu besar kemungkinan tidak habis atau bahkan bertambah.

Pemanfaatan filantrofi Ramadhan secara konsumtif akan menjebak kita pada sebuah rutinitas ibadah yang sia-sia. Tujuan utama dari puasa adalah membentuk kepribadian muslim yang taqwa (QS.2:183). Taqwa tidak dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu, ia menjadi baju kebanggan setiap muslim yang selalu terpakai di manapun dan kapanpun. Allah swt lewat Ramadhan telah memberikan segala kemudahan dan gairah ibadah yang luar biasa, masa yang singkat tersebut haruslah dijadikan trigger (pemicu) untuk peningkatan ibadah sepanjang hayat, sehingga ia menjadi produktif. Indikatornya, pasca Ramadhan masjid dan mushalla tetap ramai, puasa sunnah dan qiyamul lail tetap dijalankan. Bersedekah menjadi hobi kita sebaliknya menggibah menjadi pantangan/musuh kita. Dalam bahasa Kang Jalal (Dr. Djalaludin Rakhmat) puasa berfungsi sebagai madrasah ruhaniyyah, sekolah pencerahan spiritual kita. Jadi parameternya jelas, spiritualitas kita meningkat atau menurun akan sangat tergantung dari sejauh mana kesungguhan kita bersekolah di madrasah yang bernama  “Ramadhan” ini.

Idealnya, setelah idul fitri ketaqwaan kita meningkat, kualitas hidup kita juga semakin baik, bukan malah terjadi antiklimaks. Setelah idul fitri, sangatlah keliru jika diucapkan: ma’as salamah ya Ramadhan (Godbye, selamat tinggal Ramadhan). Semestinya: ma’as salamah ya ma’ashi (selamat tinggal segala kemaksiatan) atau marhaban ya ramadhan ad-dahr (selamat datang ramadhan sepanjang masa).

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: