Hikmah Puasa dalam Tinjauan Teori Maslow

Oleh Syafaat

Maslow adalah seorang pakar psikologi terkenal berkebangsaan Amerika Serikat, dia lahir di New York. Teori Maslow yang banyak dikutip adalah hirarki kebutuhan manusia; (1) kebutuhan fisiologis (lapar, haus, mengantuk, biologis), (2) kebutuhan rasa aman, (3) kebutuhan untuk memiliki dan mencintai, (4) kebutuhan harga diri (kompetensi, status dan prestasi), (5) aktualisasi diri (memiliki karya monumental), dan (6) kebutuhan rasa ingin tahu dan memahami.

Perintah puasa Ramadhan didasarkan pada al-Quran surat al-Baqarah 186 “kutiba alaikumus shiyam” (diwajibkan atas kalian berpuasa).

Kata “shiyam” dan “shaum” sebenarnya dalam bahasa Arab memiliki beberapa arti. Misalnya, mogok bicara, mogok jalan, angin yang tak berhembus. Namun, para ulama mendefinisikan kata “shiyam” tersebut sebagai “upaya pengendalikan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual”. Imam Ghazali mengkatagorikan puasa yang semacam itu ke dalam puasa umum. Dalam teori Maslow juga demikian bahwa basic needs semua manusia adalah makan, minum dan sex. Karenanya, banyak problem kemanusiaan diakibatkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhan dasar tersebut.

Perampokan, pencurian, perkosaan, pembunuhan hampir semua dimotivasi tuntutan “perut” dan “bawah perut”. Pada dasarnya sifat manusia tidak jauh berbeda dengan sifat binatang, yaitu memiliki sifat rakus, serakah, menguasai hak orang lain. Dalam filsafat behaviorisme, sifat ini disebut  zoon politicon. Di sinilah peran Islam untuk menetralisir sifat kehewanan ini dengan puasa. Manusia “dipaksa” oleh Allah melalui puasa untuk tidak makan, minum dan berhubungan suami istri meskipun sebenarnya semuanya halal baginya. Dengan demikian, manusia akan terlatih membatasi dirinnya dari perkara yang halal, lebih-lebih dari perkara yang diharamkan.

Dari aspek linguistik, Allah membuat redaksi yang sebenarnya kurang lazim, yaitu “kutiba alaikumus shiyam”. Kata “kutiba” tertulis dalam bentuk pasif padahal jelas subjeknya adalah Allah. Hal ini memiliki rahasia makna tersirat yang luar biasa. Seakan-akan yang memerintahkan manusia untuk berpuasa itu tidak hanya Allah tapi juga diri kita sendiri, lingkungan sekitar, dan alam. Ketika orang jatuh sakit, dokter sering menyarankan untuk mengatur makanan bahkan berpuasa agar cepat sembuh.

Puasa merupakan ibadah yang paling ‘privat’, tak seorangpun secara pasti bisa mengetahui orang lain itu puasa atau tidak, sehingga Allah sendiri mengakui puasa sebagai milik-Nya dan dia sendiri yang akan membalasnya. Ibadah yang lain selalu melibatkan kontrol dan interaksi sosial. Shalat, misalnya, akan lebih afdhal jika dilakukan dengan berjamaah, zakat juga dibayarkan melalui amil atau langsung ke mustahiq yang menjadikan entitas sosial. Puasa yang privat inilah yang akan bisa menyentuh subtansinya, yaitu agar mrenjadi orang yang taqwa.

Puasa di samping sarana untuk menjalin hubungan yang harmonis antara makhluk dan penciptanya, juga berfungsi sebagai madrasah ruhaniyyah, yaitu sarana men ‘servis’ dan menempa moral. Manusia adalah makhluk yang diberi potensi sekaligus dalam dirinya, potensi baik dan jahat. Ketika dia mengembangkan potensi jahatnya dengan melakukan kejahatan maka martabatnya merosot bahkan lebih jahat dari syaitan atau binatang. Sebaliknya apabila potensi baik yang terus dipupuk dengan pendidikan agama dan disiram dengan keikhlasan niscaya dia akan nenjadi lebih mulya dari malaikat.

Barangkali kita semua sudah jenuh mendengar berita-berita sadisme pembunuhan, korupsi para pejabat Negara, meluasnya pornografi, belum lagi pergaulan bebas di kalangan remaja. Berbagai problematika di atas kalau ditelusuri akar masalahnya, akan diketemukan kurangnya pendidikan orang tua, tipisnya keimanan, merebaknya budaya instan dan hedonis. Untuk mengatasi “penyakit sosial” di atas dibutuhkan terapi psikologis dan sosiologis yang luar biasa sulitnya.

Datangnya bulan suci Ramadlan ini, rupanya akan menjadi karunia yang agung bagi mereka yang mau menfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Dalam konteks pemberantasan “penyakit sosial” di atas, bulan Ramadlan merupakan wahana untuk melakukan terapi moral secara efektif dan mujarab atau bisa disebut madrasah ruhaniyyah (sekolah terapi moral).

Setidaknya ada tiga alasan, Ramadlan disebut madrasah ruhaniyyah. Pertama,  ada kondisi yang terpadu untuk mencapai tujuan di mana semua  orang, media informasi, peraturan pemerintah mendukung pelaksanaan ibadah puasa. Kedua, tujuan akhirnya jelas, yaitu membentuk jiwa taqwa. Ketiga, kurikulumnya, materi juga jelas, ada puasa, tarowih, sahur di tengah malam, zakat fitrah, idul fitri. Di samping itu ada fasilitas laboratorium, yakni miniatur kedermawanan, kesederhanaan, saling menolong.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: