Tradisi Mudik; Puncak Histeria Spiritual

Fenomena mudik yang ditandai dengan membludaknya penumpang kendaraan umum adalah budaya khas setiap tahun masyarakat muslim Indonesia dalam menyambut datangnya Idul Fitri, yang populer dengan sebutan lebaran. Di setiap terminal, pelabuhan, stasiun, bahkan bandara selalu tampak membludak manusia, seolah-olah mudik lebaran merupakan bagian ”ritual” puasa. Itulah kenapa mendiang Nurcholish Madjid dalam buku Islam Kemodernan dan Keindonesiaan (1998) pernah berkomentar bahwa ”mudik lebaran adalah puncak pengalaman sosial-keagamaan umat Islam di Indonesia.”

Dengan semangat yang kurang lebih sama, Jalaluddin Rakhmat dalam buku Islam Aktual (1997) mengungkapkan, mudik lebaran merupakan corak manis tentang bagaimana idiom-idiom Islam diterjemahkan secara kreatif ke dalam budaya Indonesia, khususnya budaya Melayu. ”Hanya di Indonesia, kita akan menemukan arus mudik, penumpang yang berdesakan, wajah-wajah yang terseok kelelahan, tentengan yang berat, dan mata yang berbinar-binar karena kembali ke kampung halaman”. Menurut dia, lebaran tidak sama persis dengan Idul Fitri. Lebaran hanyalah sejenis Idul Fitri, di antara berbagai jenis Idul Fitri di dunia.

Karena itulah, bagi orang Melayu di perantauan, ”Idul Fitri” dan ”mudik” tidak dapat dipisahkan dari segi bahasa yang sama-sama bermakna ”kembali”. Kata Idul Fitri lebih banyak mengarah pada konteks ketuhanan. Menurut ahli tafsir, M Quraish Shihab dalam buku Wawasan Alquran (1999), Idul Fitri berarti kembalinya manusia pada keadaan suci atau keterbebasannya dari segala dosa dan noda. Sementara mudik, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002), salah satunya berarti pulang (kembali) ke kampung halaman. Dalam ranah sastra, misalnya, Mustofa W Hasyim pernah menulis cerpen berjudul Mudik (1997). Cerpen itu bercerita tentang kehidupan menjelang lebaran di perumahan kumuh di pinggiran rel kereta di Jakarta. Pengarang menggambarkan bagaimana penghuni rumah-rumah di sepanjang rel merasa gelisah setiap kereta melintas ke arah timur. Mereka seperti didorong-dorong demikian kuatnya untuk meninggalkan Jakarta menuju ke tempat asal yang lebih damai dan tenteram. Seakan ada yang bergerak-gerak dalam dada, dan seperti terdengar teriakan yang memberi peringatan bahwa mereka memiliki tanah asal, punya masa lampau, kerabat yang sedang menunggu.

Oleh karena itu, mudik lebaran, dalam tradisi Melayu, tak ubahnya laku ziarah atas ruang dan waktu, kembali pada roh masa lalu demi menemukan kesadaran tentang kefitrahan manusia, betapapun kaburnya konsep ”kefitrahan” itu. Mudik lebaran di kampung halaman hadir sebagai sesuatu yang berkaitan dengan asal usul setiap orang. Dalam masyarakat Melayu sendiri, ada sebuah tradisi Pulang Basamo (pulang bersama), yang biasanya digelar beberapa hari setelah lebaran. Selain digelar pertunjukan kesenian, dalam acara tersebut juga diadakan musyawarah besar para perantau dengan orang kampung dan yang terpenting pengumpulan dana untuk pembangunan kampung.

Dari sini, boleh dikata bahwa prosesi mudik lebaran adalah manifestasi dari keinginan diri untuk merenungkan dan menelusuri asal muasal diri, yang dibarengi dengan kesadaran akan nasib yang akan tiba di kemudian hari. Kampung halaman dengan demikian menyimpan berhampar makna simbolis bagi setiap orang yang hendak mencari dan menemukan kembali jejak-jejak awal sejarah dirinya.

Di kampung halaman inilah manusia dapat kembali bersahabat dengan ”ruang” dan ”waktu”. Ruang betul-betul menjadi lokus di mana manusia urban kembali menghayati waktu dalam bentuknya yang utuh dan komplit dalam tiga dimensi; masa lalu, masa kini, dan masa datang. Manusia urban dapat kembali menapaki tetapak masa silam yang telah terlewat dan yang telah membentuk sebagian besar kediriannya. Di titimangsa itulah kemudian masa kini hadir sebagai sebuah persambungan sejarah, di mana setiap orang dapat mengukur kembali segenap laku hidupnya: sudahkah cita-cita dan harapan yang dianyam sejak dahulu itu tercapai?

Bila kita simak kadar sosial dari mudik lebaran tahun ini, yang sangat terasa adalah masih kentalnya rasa kebersamaan masyarakat Melayu. Rasa kebersamaan inilah yang menyebabkan orang Melayu di perantauan, merasa perlu untuk pulang ke kampung, sekurangnya sekali setahun, dan momen yang paling ideal adalah pada hari lebaran. Pada hari lebaran ini semua sanak keluarga orang Melayu yang bertebaran di berbagai kota besar, berkumpul di kampung halaman dan saling mengisahkan perjalanan hidup mereka setelah setahun tidak bertemu.

Keterikatan dengan kerabat atau serumpun Melayu merupakan salah satu dorongan kuat yang membuat mereka bertekad untuk mudik saat lebaran. Selain bersilaturahmi, berkumpulnya kerabat di kampung halaman juga dapat dijadikan kesempatan untuk mencari kehidupan yang lebih baik di kota. Barangkali ada kerabat yang dapat membantu mengangkat kehidupan mereka ke arah yang lebih baik. Bila itu terjadi, keterikatan dengan kerabat dan kampung halaman akan semakin kuat. Dan mudik lebaran yang menjadi tradisi orang Melayu menjadi tidak terelakkan.

Itulah sebabnya, prosesi mudik lebaran pasti ditingkahi kegiatan yang meleburkan para pemudik dengan sebuah himpunan bernama puak, semacam aktivitas mengumpulkan tulang yang terpisah; bertemu kerabat dan ramai-ramai ziarah ke makam leluhur. Hal ini menyiratkan bahwa mudik lebaran bagi orang Melayu merupakan sebuah upacara besar yang tidak hanya melibatkan semua orang yang masih hidup, tetapi juga mengikutsertakan semua elemen kemanusiaan; dari yang tampak maupun tidak, dari yang hidup hingga yang telah wafat.

Pada segi ini, mudik lebaran lebih condong menjadi peristiwa budaya masyarakat Melayu tradisional yang tidak ingin tercerabut dari akar budayanya. Meskipun peristiwa itu sendiri secara ritual dapat berbeda penghayatannya, namun pada prinsipnya sama saja, yakni ingin tetap berada pada akar budayanya, meskipun pada kesehariannya senantiasa bergesekan dengan budaya asing yang mungkin bertolak belakang dengan yang mereka inginkan.

Dari uraian di atas, kita dapat memetik makna sosial dari mudik lebaran, yakni tumbuhnya kesadaran orang Melayu akan ikatan tradisionalnya, seperti tidak melupakan begitu saja orang tua yang tinggal di kampung halaman. Selain itu, mudik lebaran juga dapat dijadikan sarana untuk mempererat tali persaudaraan orang Melayu yang mulai genting, akibat kehidupan kota yang individualistis. Bagaimanapun manusia tetap membutuhkan kekerabatan yang intim dan dapat saling mengisi. Karena dalam kehidupan di kota besar orang sering melupakan prinsip kekerabatan itu, maka ketika berkumpul di kampung halaman itulah simpul-simpul kekerabatan orang Melayu dapat dipererat kembali.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: