18 Alasan Teoritis Menghafal Al-Quran

Oleh Syafaat

Bagi mereka yang pernah menghafal, baik hingga selesai maupun berhenti di tengah perjalanan, pasti mempunyai motivasi-motivasi tertentu, atau paling tidak, ada mitos-mitos yang menggerakkan hati dan pikiran untuk menghafal. Adakalanya mereka termotivasi oleh adanya pemuliaan, penghormatan dari masyarakat, kemudian tergerak hatinya untuk meraih ‘prestise’ tersebut. Atau juga karena tergiur dengan predikat sebagai calon penghuni surga yang kelak bila meninggal jasadnya akan tetap utuh. Bisa juga termotivasi oleh hidup “glamour”nya para hafidz yang sering mendapatkan job “khataman” serta pulang dengan membawa berkat dan amplop tebal.

Patut disyukuri memang, gara-gara motivasi dan mitos di atas, banyak dari mereka yang akhirnya bisa hafal al-Quran dengan baik. Hanya saja, secara normatif-etis mitos-mitos itu jelas tidak bisa dibenarkan secara aqidah sebab lebih mendahulukan li ajlin naas-nya daripada li ajlillaah. Ini berbahaya, al-Quran yang semestinya sebagai al-huda, al-furqan, adz-dzikr telah dimanipulasi menjadi sumber penghasilan (ma’isyah), atau sebagai wahana unjuk kehebatan dan kesalehan. Biarlah, yang sudah terjadi biarlah berlalu, selanjutnya ditata kembali  dengan niat yang lebih ikhlas.

Sebenarnya yang paling esensi dari al-Quran adalah pesan yang dikandungnya. Ibarat secarik kertas yang berisi route perjalanan bagi seorang musafir. Kalau kertas tersebut hanya dibaca keras dan tidak berusaha difahami isinya, sangat mungkin orang itu akan tersesat. Demikian halnya seorang muslim yang hanya menjadikan al-Quran sebagai mantra, jimat, ornamen, dan tidak memposisikannya sebagai pesan ilahi, oleh Allah ia laksana keledai yang dipundaknya dipenuhi buku-buku, kamatsalil himar yahmilu ashfara.

Konsekuensi dari motivasi yang salah tersebut, sering seorang hafidz itu menonjolkan performance inklusif agar dimuliakan orang lain atau dia enggan bekerja ‘kasar’ sebagaimana orang kebanyakan, khawatir akan menurunkan kredibilitas kehafidzannya. Lebih-lebih lagi, na’udzubillah, ada hafidz yang mempromosikan diri supaya diundang khataman, sambil melakukannya dengan bacaan hadr (super cepat) dan membayangkan berapa honor yang akan diterimanya. Bisa jadi, akhirnya dia pulang menggerutu,  bila ternyata bisyarah yang diterimanya lebih kecil dari yang terbayang. Tidak sedikit pula, hafidz yang ‘malas’ memahami isi kandungan al-Quran, bahkan isi surat-surat pendek pun tidak tahu artinya, meski sudah hafal puluhan tahun.

Hendaknya yang dijadikan target utama dari menghafal adalah kemamampuan memahami al-Quran. Kompetensi hafalan merupakan wasilah (media) efektif untuk lebih memahami al-Quran secara holistik (menyeluruh). Tidak sebaliknya, sesuatu yang semestinya sebagai media dijadikan tujuan (ghayah).

Lalu mengapa al-Quran itu dihafal? Untuk meluruskan penyelewengan motivasi di atas, berikut ini disajikan 18 alasan dan motivasi-motivasi (bukan mitos) menghafal, berdasarkan al-Quran dan Sunnah Nabi.

1. Al-Qur’an sebagai pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi yang membaca, memahami dan mengamalkannya.

ااقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ (رواه مسلم)

Bacalah al-Quran karena kelak ia akan menjadi penolong bagi pembacanya

2. Al-Qur’an menjadi hujjah (pembela) bagi pembacanya dan sebagai pelindung dari azab dunia dan akherat.

وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ (رواه ابن ماجه)

Dan al-Quran merupakan hujjah atau pembelamu kelak

3. Pembaca al-Qur’an, khususnya penghafal al-Quran yang kualitas dan kuantitas bacaannya lebih tinggi, akan bersama malaikat dan selalu melindunginya dan mengajak pada kebaikan.

مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ (رواه البخاري)

Perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Quran dan menjaganya, akan ditemani para malaikat yang mulia dan baik

4. Penghafal al-Qur’an akan mendapatkan fasilitas khusus dari Allah, yaitu terkabulkannya segala harapan tanpa harus memohon/berdoa.

يَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ وَذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ (رواه أحمد)

Allah berfirman (dalam Hadis Qudsi: Barang siapa yang disibukkan oleh al-Quran dan mengingat Allah sehingga lupa memohon, maka aku akan memberinya sesuatu yang terbaik

5. Penghafal al-Qur’an yang membiasakan mujawwad atau murattal akan ditinggikan derajatnya di sisi Allah dan menempati posisi tertinggi di surga nanti.

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا ُ(رواه الترمذي)

Dikatakan pada pembaca al-Quran, bacalah, naiklah dan tartilkanlah bacaanmu sebagaimana engakau mentartilkan di dunia, karena kedudukanmu di surga sesuai dengan ayat terakhir yang engkau baca

6. Penghafal al-Qur’an berhak untuk diprioritaskan menjadi imam atau pemimpin, bahkan sampai ia mati kelak.

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ (رواه مسلم) وفي حديث آخر ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ (ص) كَانَ يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ ثُمَّ يَقُولُ أَيُّهُمَا أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ فَإِذَا أُشِيرَ إِلَى أَحَدِهِمَا قَدَّمَهُ فِي اللَّحْدِ (رواه البخاري)

Yang berhak menjadi imam shalat adalah orang yang paling baik bacaannya (banyak hafalannya) (HR. Muslim), Rasulullah pernah mengumpulkan dua korban perang Uhud dalam satu kain kafan, lalu berkata: siapa dari keduanya yang paling banyak hafalannya? Setelah ditunjukkan, beliau mendahulukannya untuk dimasukkan di liang lahat (HR Bukhari).

7. Penghafal al-Qur’an paling layak untuk menjadi teladan atau idola.

لَا حَسَدَ إِلَّا عَلَى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَقَامَ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَرَجُلٌ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يَتَصَدَّقُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ (رواه البخاري) وفي حديث آحر،  إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ (رواه أبو داود)

Tidaklah hasud dibolehkan kecuali pada dua orang; (1) orang yang dikarunia kemampuan al-Quran dan membacanya sambil qiyamul lail dan (2) orang yang dikarunia harta lalu dia bersedekahsiang dan malam (HR. Bukhari), Diantara wujud pengagungan pada Allah adalah memuliakan orang tua muslim dan penghafal al-Quran yang tidak melampaui batas serta memuliakan raja yang adil (HR. Abu Dawud)

8. Penghafal al-Qur’an, berpotensi untuk mendapatkan pahala yang banyak.

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ َ (رواه الترمذي)

Barang siapa membaca satu huruf dari al-Quran maka dia mendapatkan satu kebaikan dan satu kebaikan bernilai 10 kebaikan, seperti alim lam mim masing-masing bernilai 10 kebaikan.

9.  Penghafal al-Qur’an bisa membaca dan memahami al-Qur’an di manapun dan dalam situasi apapun, dia tidak selalu tergantung dengan mushaf, tempat, waktu, dan posisi tertentu, sehingga di kantor, di kendaraan, di pasar, bahkan sambil tiduran pun ia bisa membaca dan memahami al-Quran. Juga aktivitas otak yang tidak terganggu oleh konsentrasi melihat (mushaf), semakin mudah melakukan tadabbur dengan al-Quran.

10. Penghafal al-Qur’an punya daya nalar argumentatif yang komprehensif dan mendalam. Sebagai al-huda (petunjuk), al-Qur’an sarat dengan nilai-nilai moral, kebenaran ilmiah, inspirasi untuk berkreasi, terutama dalil-dalil hukum Islam.  Dengan demikian, dia sangat lihai mengulas maksud dari sebuah ayat, dan mensintesiskan ayat dengan teori serta mengelaborasikan korelasi antar ayat.

11. Menghafalkan al-Qur’an hukumnya wajib kifayah, menurut Imam Zarkasyi, Assuyuthi dll, sebab ia bisa menjaga Al-Quran dari kesalahan bacaan dan penulisan,  sehingga orisinalitas Al-Quran tetap terjaga dari berbagai upaya tahrif (pemalsuan, perubahan). Jadi, keberadaan penghafal al-Quran adalah sebagai penggugur kewajiban dan dosa umat muslim di kawasan tertentu.

12. Penghafal al-Qur’an menghabiskan sebagian besar waktunya (umurnya) untuk mempelajari dan mengajarkan sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ibadah, hal itu menjadikan hidupnya penuh keberkahan dan Allah memposisikannya sebagai manusia terbaik.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ  (رواه البخاري)

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan al-Quran

13. Penghafal al-Qur’an dijaga dari godaan nafsu, sebab kesibukan dzikir pada Allah (termasuk baca al-Quran) akan menghalangi syetan untuk menguasai nafsunya.

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ( الزخرف : 36(

Barang siapa lalai dari ingat Allah, akan kami kuasakan atasnya syaitan yang menemaninya

14. Penghafal al-Qur’an termasuk dalam tujuh golongan yang diberi naungan Allah ketika tidak ada lagi tempat bernaung di akherat dari dahsyatnya panas neraka.

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ …. وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ ُ (رواه البخاري)

Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah, (diantaranya) pemuda yang tumbuh besar dalam suasana ibadah pada Allah dan seorang laki-laki yang hatinya selalu bergantung pada masjid.

15. Penghafal al-Qur’an adalah manusia pilihan Allah yang akan dititipi ilmu di dadanya.

بَلْ هُوَ ءَايَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ (العنكبوت : 29)

Bahkan al-Quran merupakan kemukjizatan yang nyata yang dititipkan Allah di dada orang yang berilmu

16. Membaca al-Qur’an merupakan obat stress, depresi dan lain-lain.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (طه : 24)

Barang siapa yang berpaling dari mengingat aku, maka kehidupannya akan sempit dan kami kumpulkan di hari kiamat dalam keadaan buta

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (الرعد : 28)

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah, ingatlah bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenang

17. Penghafal al-Qur’an selalu berlatih untuk kerja keras dan disiplin. Menghafal al-Quran butuh kerja keras, disiplin, istiqamah selama satu tahun lebih, kebiasaan disiplin dan konsisten ini menjadi modal penting dalam menggapai kesuksesan hidup.

18. Al-Qur’an mudah dihafal oleh orang tua, muda, anak-anak dan  oleh orang yang tidak faham bahasa Arab sekalipun.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ (القمر : 22)

Dan sungguh kami mudahkan al-Quran untuk diingat adakah orang yang mau mengingat?

Jadi, pertama kali yang harus diperhatikan oleh orang yang ingin menghafal Al-Quran adalah mengikhlaskan niatnya hanya untuk Allah semata. Dengan niat ikhlas, Allah akan membantu menjauhkan kita dari rasa malas dan bosan. Suatu pekerjaan yang diniatkan ikhlas, biasanya akan terus berlangsung. Berbeda kalau niatnya hanya untuk mengejar materi atau hanya ingin ikut musabaqah, atau karena hal lain. Hendaknya ia melakukan shalat Hajat dengan memohon kepada Allah agar dimudahkan dalam menghafal Al-Quran. Waktu shalat hajat ini tidak ditentukan dan doa’anya pun diserahkan kepada masing-masing pribadi. Hal ini sebagaimana diriwayat Hudzaifah ra, yang berkata :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا حزبه أمر صلى (رواه أبو داود)

Bahwasanya Rasulullah saw jika ditimpa suatu masalah beliau langsung mengerjakan shalat. “

Memperbanyak do’a untuk menghafal Al-Quran. Do’a ini memang tidak terdapat dalam hadis, akan tetapi seorang muslim boleh berdo’a menurut kemampuan dan bahasanya masing-masing. Mungkin anda berdo’a seperti ini :

اللهم وفقني لحفظ القرآن الكريم وارزقني تلاوته أناء الليل وأطراف النهار على الوجه الذي يرضيك عنا يا أرحم الراحمين

Ya Allah berikanlah kepadaku taufik untuk menghafal Al-Quran, dan berilah aku kekuatan untuk terus membacanya siang dan malam sesuai dengan ridha dan tuntunan-Mu, wahai Yang Maha Pengasih “.

Malang, 6 November 2010

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: