Manajemen Hidup Ala Qur’ani

Oleh Syafaat

A. Pendahuluan

Al-Qur’an bagi seorang muslim tidak saja berfungsi sebagai sumber hukum dan pedoman moral, melainkan juga sumber inspirasi yang menawarkan konsep-konsep alternatif tentang berbagai aspek kehidupan. Al-Qur’an memiliki dua kekuatan sekaligus, sentripugal dan sentripetal, ia mampu menarik perhatian para cendekiawan untuk menggali ‘tambang’ pengetahuan yang tak pernah habis. Pada saat yang sama al-Qur’an juga memancar energi ke luar untuk memberikan corak atas konsep pengetahuan, budaya, sosial yang mampu bersaing dengan konsep produk manusia.

Rasulullah saw pada abad ke 6 Masehi telah mampu membuktikan hegemoni al-Qur’an atas peradaban besar masa itu seperti peradaban Romawi, Persi dan sebagainya. Mulai dari konsep politik, pola interaksi dengan berbagai strata sosial, sampai masalah ekonomi terinspirasi oleh pesan moral al-Qur’an. Aisyah pernah ditanya tentang deskripsi akhlaq Rasulullah dalam hadis riwayat Ahmad.

(عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامٍ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ أَخْبِرِينِي عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ  (رواه أحمد في مسنده)

Saad bin Hisyam pernah bertanya pada Aisyah tentang bagaimana gambaran dari akhlaq Rasulullah, ia menjawab bahwa semua akhlaq Rasulullah bersumber dari al-Qur’an

Salah satu aspek kehidupan yang juga bisa didekati dengan konsep al-Qur’an adalah manajemen. Secara definisi dapat dijelaskan bahwa manajemen adalah proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran (Tim Diknas, 1994:623). Setiap muslim pasti memimpikan sebuah kehidupan yang qurani, sebuah pola kehidupan yang sarat akan nilai-nilai al-Qur’an, gema al-Qur’an setiap saat memancar ke seluruh lorong rumah dan relung hati semua anggota keluarga. Untuk merealisasikan idealisme tersebut diperlukan sebuah manajemen khusus, yaitu manajemen al-Qur’an itu sendiri. Manajemen al-Qur’an meliputi bagaimana sebuah kehidupan qurani direncanakan (planning), diorganisir (organizing) dan kemudian dikendalikan (controlling) agar terus eksis.

 

B. Manajemen al-Qur’an dalam kehidupan kampus

Merupakan prasarat bagi seorang muslim yang ingin menggapai derajat tertinggi di sisi Allah bahwa ia harus memiliki pengetahuan memadai apapun disiplin ilmunya (QS. Al-Mujadilah:11). Al-Qur’an ansich belum menjadi sebuah disiplin ilmu, akan tetapi masih berupa bahan mentah yang perlu dikelola lebih lanjut. Jadi, semata-mata menguasai al-Qur’an (apalagi baru tahap membaca dan menghafal) saja,  belumlah dapat dianggap sebagai orang yang berilmu (‘u:tul ‘ilm) atau cendekiawan (ulul albab) selama belum ditopang oleh disiplin ilmu agama seperti tafsir, hadis, ushul fiqh, ulum al-Qur’an dan lain-lain. Akan lebih ideal lagi, bila diperkaya dengan disiplin ilmu umum seperti matematika, astronomi, sosiologi, linguistik dan seterusnya.

Proses belajar yang panjang haruslah bermuara pada ‘khasyatullah’ (QS. Al-Fathir:28), yaitu hadirnya sebuah kesadaran bahwa setinggi apapun ilmu seseorang tetap saja belum seberapa dibanding ilmu Allah, akibatnya muncul rasa tunduk dan takut pada sang pencipta, Allah Azza wa Jalla.

Tidak semua orang yang menuntut ilmu di perguruan tinggi sukses, sebaliknya tidak sedikit orang yang hanya berpendidikan dasar atau menengah saja bisa sukses, baik sukses dalam keimanan dan kehidupan maupun sukses dalam kemulyaan. Kuncinya adalah ketaqwaan (QS. Al-Baqarah:252) dan motivasi (QS. Al-Kahfi:101). Tidak sulit bagi Allah untuk memasang atau mencabut ilmu pada diri seseorang (QS. Ali Imran:26), demikian juga sangatlah mudah bagi-Nya untuk memberi kemanfaatan atau menghilangkan keberkahan dari ilmu yang sudah diberikan pada seseorang. Namun, belum cukup ketaqwaan dan motivasi untuk menggapai prestasi ‘al-ilm an-nafi’ tanpa kerja keras (QS. Al-Ankabut:69) dalam proses transfer ilmu, baik dari sumber belajar maupun dosen.

Membaca merupakan proses vital dalam implementasi tranfer ilmu. Wahyu yang pertama kali turun (QS Al-Alaq:1) mengisyaratkan bahwa membaca menjadi entry point untuk memahami pesan-pesan agama. Di sini membaca tidak dibatasi pada lembaran kertas, melainkan juga membaca fenomena-fenomena alam dan seluruh jagat raya (QS. Fussilat:52). Pengalaman leadership dalam organisasi intra maupun ekstra kampus ikut menjadi bagian penting dari proses membaca yang akan memperkaya khazanah keilmuan kita.

Perencanaan yang harus dilakukan mahasiswa dalam hal ini yaitu menghimpun informasi dan motivasi sebanyak-banyaknya kemudian melakukan internalisasi niat dan membangun komitmen sesuai yang dicita-citakan. Selanjutnya komitmen tersebut diorganisir dengan menyesuaikan kondisi kemampuan yang dimiliki serta kondisi lingkungan sekitar. Setelah tahapan tersebut terlampaui, harus ada pengawalan sampai target terpenuhi. Tidak mustahil, akan muncul rintangan silih berganti dari internal maupun eksternal. Di sinilah letak ujian terberat dari sebuah proses menuju tangga sukses, untuk itu dibutuhkan usaha ‘all out’ untuk menaklukkannya.

 

C. Manajemen al-Qur’an dalam bermasyarakat

Dalam bermasyarakat, modal utama yang harus dimiliki adalah terjalinnya kerjasama positif dengan segala unsur masyarakat (QS. Al-Maidah:2). Jargon ‘berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah’ sangatlah baik diterapkan dalam hidup di tengah-tengah masyarakat. Sikap eksklusif (menjaga jarak) dengan masyarakat lantaran memiliki keunggulan tertentu atau kesalehan dalam keberagamaan justru akan merugikan diri kita sendiri, sebab beberapa peran yang seharusnya dimainkan menjadi tidak berfungsi maksimal. Peran-peran tersebut adalah (1) peran dakwah (QS. Ali Imran:104), (2) peran sosial (QS. At-Taubat:122), dan (3) peran kekhalifahan (QS. Hud:61).

Peran dakwah dituntut oleh agama untuk menjamin kesinambungan implementasi agama di masa-masa mendatang sekaligus menjaga kualitas moral umat agar tetap dalam koridor akhlaqul karimah dan ridla Allah. Mustahil dakwah dapat dilaksanakan dalam kondisi antara kita dan masyarakat bersikap nafsi-nafsi (QS. Ali Imran:103). Pesan dakwah lewat suara mungkin saja dapat dilakukan dengan mengetuk telinga pendengar, tapi untuk menembus hati amatlah sulit.

Perencanaan yang harus dilakukan dalam konteks ini yaitu pandai-pandailah kita bergaul dan bersosialisasi dengan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan masyarakat. Selanjutnya mengorganisir misi dan visi kita sebagai insan qurani, untuk berkiprah maksimal dalam mensyiarkan pesan-pesan al-Qur’an di tengah-tengah masyarakat. Tahapan berikutnya adalah memonitor secara kontinyu kelemahan-kelemahan dakwah kita untuk kemudian diperbaiki. Ingatlah kesuksesan kita untuk membentuk komunitas qurani akan sangat tergantung komitmen dan konsistensi kita disertai ketulusan semata karena Allah.

 

D. Manajemen al-Qur’an dalam dunia kerja

Sejarah telah membuktikan bahwa para nabi ternyata bekerja keras (QS. Al-Furqan:20) untuk kelangsungan hidup mereka. Mereka tidak memanfaatkan dakwahnya untuk meraih keuntungan duniawi (QS. Yasin:21), sehingga tercipta kemandirian dan ketangguhan secara ekonomi. Bahkan, sebaliknya tidak sedikit para sahabat Nabi mengorbankan hartanya demi kelancaran dakwahnya.

Kita sebagai insan qurani, seyogyanya tidak menggantungkan hidup (rizqi) dari belas kasihan orang atau memanfaatkan keahlian kita membaca/menghafal al-Qur’an (QS. Ali Imran:199). Al-Qur’an tidak diturunkan ke dunia ini dalam konteks untuk dijadikan komoditas ekonomi, tapi untuk memberikan petunjuk dan pedoman hidup demi kebahagiaan dunia sampai akherat (QS. Al-Isra’:9). Justru Al-Qur’an banyak memotivasi kita untuk kerja keras dan menafkahkan rizki kita untuk umat yang lemah (QS. Al-Baqarah:3).

Perencanaan yang harus dilakukan dalam konteks ini yaitu mengenali potensi dan keterampilan yang kita miliki. Setelah itu bertekad untuk tidak akan menggantungkan hidup pada orang lain atau mengandalkan penghasilan dari al-Qur’an yang kita baca. Kita organisir wilayah kerja kita, kapan kerja untuk kerja, kapan kerja untuk amal, dan kapan kerja untuk dakwah. Kebiasaan insan qurani berdisiplin dalam belajar keras perlu ditindak lanjuti dengan kerja keras. Dalam bekerja lupakan seluruh atribut qurani agar tidak gamang dalam mengais rizqi dari jalan apapun selama Allah ridla.

 

E. Manajemen al-Qur’an dalam keluarga

Keluarga merupakan miniatur sebuah bangsa, baik tidaknya suatu bangsa tergantung kualitas individu dan keluarga. Allah memberi warning agar orang tua tidak meninggalkan keturunan yang lemah fisik maupun psikis (QS. An-Nisa’:9). Keberadaan anggota keluarga memang satu sisi menjadi ‘bunga hidup’, di sisi lain bisa juga menjadi musuh terberat bagi keluarga (QS. At-Taghabun:14). Untuk itulah diperlukan pendidikan agama dan al-Qur’an yang akan menyejukan keluarga (QS. Ar-Ra’d:28).

Upaya menciptakan keluarga sakinah dimulai dari pemilihan pasangan hidup,  Al-Qur’an menganjurkan pasangan yang sepadan (QS. An-Nur:26). Dalam konteks ini yang terpenting adalah sepadan dari segi kualitas agamanya. Bila keluarga yang kehendaki itu keluarga yang qurani, maka semua unsur keluarga harus dikondisikan untuk target tersebut sejak semula.

Perencanaan yang harus muncul dalam konteks ini yaitu kebulatan tekad untuk hidup dibawah lindungan al-Qur’an. Berbagai aktifitas kita bersama keluarga disetting dengan skenario qurani. Mulai terbit fajar sampai malam hari harus disempatkan memperdengarkan al-Qur’an pada keluarga dan berinteraksi dengan mereka juga menerapkan etika qurani.

 

F. Penutup

Allah swt mengingatkan pada kita agar al-Qur’an mendarah-daging dalam tubuh dan perilaku keseharian kita. Allah berfirman :

بَلْ هُوَ ءَايَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ

Al-Qur’an adalah ayat-ayat penjelas yang terpatri dalam hati para kaum cendekiawan

Jejak mendalami al-Qur’an yang kita tapaki sekarang, hakikatnya adalah bagian dari jejak menuju surga, lantaran banyak fasilitas yang Allah karuniakan kepada ‘shahibul qur’an’. Sebagaimana sabda Nabi :

حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ  (رواه مسلم)

Bacalah al-Qur’an karena ia kelak akan datang dengan memberi syafaat di hari kiamat

 

Akhirnya, semoga jejak langkah kita menuju kebaikan senantiasa mendapat kemudahan dari Allah swt.

 

SUMBER RUJUKAN

1. Mushaf al-Qur’an al-Karim

2. Shahih Muslim

3. Musnad Imam Ahmad

4. Kamus Besar Bahasa Indonesia 1994

 

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: