Kuliah Eksklusif “Qiroah Sab’ah” tahun ke VII Dimulai Kembali, Mari Bergabung!


Oleh Syafaat

Sejak awal al-Quran diturunkan kepada Rasulullah SAW dengan gaya bahasa atau dialek yang tidak tunggal. Perdebatan antara Umar bin Khattab dengan Hisyam bin Hakim mengenai bacaan salah satu ayat pada surat al-Furqan, menjadi hujjah kesahihan multi-dialek dalam al-Quran. Terlebih lagi, ada 21 sahabat yang meriwayatkan hadis tentang sab’atu ahruf (tujuh dialek al-Quran) tersebut, sehingga ia tidak hanya shahih tapi juga mutawatir.

Tiga ratus tahun berikutnya, muncul sosok jenius yang ingin menyelamatkan al-Quran dari berbagai pemalsuan tulisan dan cara baca, sekaligus mengkonservasi berbagai variasi bacaan yang berasal dari Rasulullah, dialah Syaikh Imam Ibnu Mujahid. Dialah tokok yang berjasa memilah dan memilih ribuan dokumen dan cara baca menjadi hanya tujuh bacaan saja (al-Qiraat as-Sab’/Sab’ul Qiraat). Ijtihad tersebut dilakukan dengan menggunakan tiga parameter, (1) adanya sanad yang sambung sampai ke Rasulullah, (2) kesesuaian suatu bacaan dengan rasm utsmany, dan (3) kesesuaian suatu bacaan dengan kaidah bahasa Arab (nahwu-sharaf).

Buah ijtihad dari sang fenomenal tersebut, ternyata di”amini” oleh para ulama generasi tabiin dan generasi berikutnya, hingga sekarang ini. Lihat saja di buku-buku ulum al-Quran (studi al-Quran) dari klasik sampai kontemporer, pasti memasukkan bab Qiraat Sab’. Bahkan, seorang mujtahid sekelas Imam Nawawi berfatwa dalam bukunya “at-Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran” bahwa seorang imam shalat akan dianggap batal shalatnya, jika membaca al-Quran di luar dari ketentuan qiraat sab’.

Bacaan tujuh tujuh itu mengacu pada bacaan tujuh imam. Mereka memiliki silsilah terpercaya (sanad) yang sampai pada Rasulullah. Mereka adalah (1) Imam Nafi’, (2) Imam Ibn Katsir, (3) Imam Ashim, (4) Imam Abu Amar, (5) Imam Ibn Amir, (6) Imam Hamzah, dan (7) Imam Ali Kisa’i.  Umumnya masyarakat muslim di Asia, terutama Indonesia, lebih cenderung mengikuti Imam Ashim dari perawi Hafs, meski mayoritas mereka tidak menyadarinya.

Sebelas abad pasca era Ibn Mujahid, rupanya kajian-kajian al-Quran semacam ini semakin meredup. Padahal, untuk mengetahui cara baca yang benar, dibutuhkan satu keilmuan yang disebut dengan ilmu qiraat. Bagaimana mungkin qari’ mampu membaca isymam, tashil, imalah dll yang terdapat dalam al-Quran, secara benar tanpa belajar ilmu ini? Akankah kita mereduksi warisan bacaan Rasulullah yang terrepresentasi dalam qiraat tujuh tersebut menjadi satu saja? Kalau para ulama’ Islam klasik banyak mengeksplorasi teori-teori bahasa dan istinbath hukum dari ilmu qiraat tersebut, bagaimana dengan kita sekarang?

Untuk itu, sebagai kelanjutan dari perjuangan para kyai yang konsern bidang qiraat seperti Alm. KH. Arwani Amin Kudus, Alm. KH. Yusuf Masyhar Jombang, KH. Mustain Syamsuri Malang dll, HTQ (Hai’ah Tahfidz al-Quran) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, ingin menyambung tradisi sekaligus menggali mutiara-mutiara ilmu qiraat tersebut melalui kegiatan: “Kajian Qiraat Sab’ah dan Gharaibul Qiraat”. Kajian tersebut telah dirintis sejak tahun 2004 dan masih berlangsung hingga sekarang.

Pada tahun 2011 (kajian tahun ke VII) ini, pelaksanaan kegiatan kuliah “Qiroah Sab’ah” ini akan menggunakan pola yang sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni dititik beratkan pada pemahaman kaidah “Qiroah Sab’ah”, terutama untuk juz I dan mengurangi porsi latihan/praktik ayat per ayat. Pola ini ditempuh, sebagai antisipasi kejenuhan peserta yang harus mengulang satu ayat berkali-kali (sesuai 7 imam, 21 rowi), disamping waktu mereka sangat terbatas untuk mendalami praktiknya. Maklum, semuanya mahasiswa/i yang disibukkan juga oleh aktifitas akademik (PPL, skripsi, tugas bulanan dsb) dan aktifitas tahfidz. Penguasaan kaidah ini penting sekali untuk membantu calon guru-guru (Tajwid) Al-Quran memahami macam-macam bacaan aneh/gharib yang terdapat dalam bacaan Imam Ashim Riwayat Hafs dan mengetahui rahasia dibalik bacaan tersebut.

Bagi para mahasiswa/i, dosen, santri, masyarakat umum, terutama anggota HTQ (Hai’ah Tahfidz Al-Quran) UIN Malang, ASC (Al-Quran Study Club) UM Malang, mahasiswa program S2 kader Ulama (Hukum Islam) Unisma Malang, yang berminat untuk mengikuti acara tersebut, bisa hadir setiap Sabtu Sore (jam 16.00 – 17.30) di Masjid Ulul Albab UIN Maliki Malang. Kegiatan tahap VII ini akan dimulai pada hari Sabtu, tanggal 12 Maret 2011 dan akan diasuh oleh tim pembina HTQ UIN (Ust. Syafaat, Ust. Adnin, Ust. Syamsul Ulum). Peserta tidak dipungut biaya apapun alias gratis. Buku yang dipakai dalam pembelajaran adalah; (1) kitab Faidlul Barakat karya alm. KH. Arwani Amin, dan (2) Al-Budur az-Zahirah karya Syeikh Abdul Fattah al-Qadli.

Bagi yang berminat silahkan menghubungi koordinator kajian, mas Alif (08563412245) atau mas Rouf (085730990773).

cahayaqurani.wordpress.com/syafaat

3 Responses

  1. ana mau daftar belajar Qiroat sab’ah
    gimana caranya dong

    • Gampang sekali, langsung saja datang saat kajian, kemudian lapor ke koordinatornya mas Adib, bisa ikut dech.

  2. […] Alhamdulillah, bertambah semangat ana. Why? Ana menemukan blog yang berisi konsultasi tentang tahfidz. Blog ini dikelola oleh seorang hafidz sekaligus dosen Bahasa Arab di sebuah universitas di MALANG. Di sana terdapat beberapa pertanyaan seputar tahfidz yang dijawab oleh beliau. Selain itu, juga ada artikel-artikel yang berkaitan dengan tahfidzul qur’an. Artikel terbaru ketika tulisan ini ditulis adalah tentang “Qiro’ah Sab’ah“. […]

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: