Islam dan Rasa Aman

Oleh Syafaat*
Sejak terlahir ke dunia ini, setiap anak manusia telah dibekali hardware sekaligus software agar ia kelak mampu berinteraksi dengan alam dan lingkungannya. Software yang terinstal itu diantaranya gharizah al-baqa’ (naluri untuk bertahan hidup dan memperoleh rasa aman). Islam mensyariatkan jihad dalam rangka memenuhi kebutuhan naluri, berupa perlindungan terhadap nyawa yang tak berdosa (hifdz an-nafs) dan kebebasan menjalankan agama (hifdz ad-Diin). Pun demikian, perekrutan jutaan polisi dan tentara oleh negara semata untuk penciptaan suasana kondusif dalam kehidupan beragama dan bernegara.
Rasa aman sangat berharga bagi setiap orang bahkan penjahat sekalipun, buktinya mereka masih sembunyi-sembunyi, sebelum dan setelah melakukan tindakan kriminal. Pakar psikologi modern asal Amerika, Abraham Maslow, menempatkan kebutuhan manusia akan rasa aman ini di urutan kedua setelah kebutuhan fisiologis (kebutuhan makan, minum, tidur, seks). Menurutnya rasa aman itu jauh lebih penting dibanding kepemilikan harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, serta gelar nan prestisius, bahkan ia lebih urgen daripada kesehatan. Orang yang sakit biasanya masih bisa tertidur pulas, asalkan kondisi psikisnya terjaga, sebaliknya orang yang sehat akan kesulitan tidur manakala hidup dalam tekanan dan ancaman.
Jadi begitu pentingnya rasa aman bagi umat manusia, sampai-sampai Al-Quran secara eksplisit menyebutkan kata “amanahum min khauf (aman dari ketakutan)” di QS. Al-Quraisy ayat 5. Logikanya, kalau Allah yang mencipta dan memelihara kita saja telah menjamin rasa aman, maka sungguh hina dan dlalim bila ada orang yang menebarkan rasa takut dan permusuhan pada manusia yang lain, padahal sedikitpun ia tidak memiliki kontribusi atas penciptaan dan pemeliharan manusia tersebut. Rasulullah juga menyebut bahwa orang yang mendapatkan keamanan dan kecukupan materi seakan telah memiliki dunia seisinya (HR. Bukhari).
Jadi, begitu peduli dan konsennya Islam terhadap rasa aman tersebut. Namun, realitas di masyarakat ternyata pengamalan ajaran agama tidak seindah normativitas ajarannya. Peristiwa penculikan beberapa mahasiswa oleh ormas dan gerakan tertentu, serta teror bom yang menggunakan dalih agama, masih terus mengusik ketenangan masyarakat Indonesia. Teror itu adakalanya berbentuk kekerasan fisik, bisa juga berbentuk ancaman psikis. Pengiriman paket bom buku ke sejumlah tokoh dan artis beberapa waktu lalu, jelas merupakan teror fisik. Lontaran kata “kafir” dan “sesat” kepada seorang yang pernah bersyahadat, terlebih pada orangtua sendiri, merupakan bagian dari teror psikis.
Apakah benar Islam meligitimasi teror-teror semacam itu? Pasti tidak, dari aspek etimologis, Islam berasal dari kata: aslama – yuslimu – islaman yang berarti damai, selamat, pasrah. Maka tidak heran ketika Abdullah bin Salam (sahabat Rasulullah yang sebelumnya pemuka Yahudi) dengan mudah memenuhi ajakan Rasulullah untuk memeluk Islam lantaran tak berdaya dan kagum atas pidatonya yang pertama kali ia dengar, yaitu Ayyuhannas Afsyus salam…….. (wahai manusia tebarkan salam atau perdamaian). Berdasarkan hadis diriwayatkan Abdullah bin Umar, Kata “takfir (mengkafirkan orang lain)” itu memiliki efek pantul yang harus diwaspadai, kalau tidak mengena pada si penuduh ya si tertuduh yang mendapatkan pantulan liar dari senjata boomerang yang bernama takfir itu.
Keinginan kelompok-kelompok tersebut sebenarnya baik, yakni menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, hanya saja beberapa terminologi al-Quran yang terkait dengan strategi berdakwah diabaikan yaitu al-hikmah (kebijaksanaan), al-mauidhah al-hasanah (keteladanan), al-mujadalah al-hasanah (diskusi yang baik). Patut disayangkan memang bila perbedaan pandangan dalam masalah furu’ (fiqih) lebih dikedepankan, sementara masalah ushul dan keagungan akhlak dikorbankan. Dalam bukunya Mafahim Yajibu an-Tushahhah, Sayyid Alwi Al-Maliki mengenakan istilah “adhimatan nakra’ (dosa yang luar biasa)” pada orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan mengajak orang lain melakukan sesuatu yang secara fiqh masih “mukhtalaf fih” (diperselisihkan) seperti hukum mendirikan negara Islam dan membunuh pelaku dosa besar, lalu mereka menolak dan si pendakwah tersebut dengan serta merta melontarkan kata kafir pada mereka yang menolak tersebut.
Dalam dunia pesantren, tidak asing bagi para santri yang pernah belajar kitab “sullam at-taufiq” karya Syeik Abdullah bin Husein Ba Alwi, bahwa kekafiran itu justru akan kembali kepada orang yang dengan sadar menuduh saudaranya yang masih muslim dengan sebutan “ ya kafir, ya nashrani, ya yahudi , ya ‘adim ad-diin”. Oleh karena itu, sangat sulit bagi mereka yang perna ditempa pendidikan pesantren untuk bersikap dan berlaku radikal semacam itu.
Kelompok yang mudah mengkafirkan (takfir) kelompok lain biasanya mudah juga memerangi dan membunuh (qatl) orang yang mereka klaim telah keluar dari Islam. Tragedi terbunuhnya khalifah Ali bin Abi Thalib, tidak keluar dari maraknya paradigma takfir dan qatl saat itu. Adalah Khawarij, kelompok yang tidak puas dengan keputusan Ali menghentikan penumpasan terhadap Muawiyah, lalu menebarkan takfir pada semua pengikut Ali. Pasca takfir ternyata ada episode baru, eksekusi pembunuhan (qatl) yang dilakukan Abdurrahman bin Muljam yang notabene merupakan seorang muslim yang sangat taat beragama.
Bom bunuh diri di medan Jihad yang oleh Syeikh Yusuf al-Qaradlawi dibolehkan, belakangan ini disalahgunakan dengan menghancurkan fasilitas publik bahkan tempat-tempat ibadah, korban sipil muslim tak berdosa juga ikut berjatuhan. Anehnya mereka dengan bangga berdalih atas nama jihad fi sabilillah.
Usamah bin Yazid (pejuang muslim era sahabat) pernah ditegur oleh Rasulullah lantaran membunuh orang dari suku Juhainah di daerah Huraqah setelah mengucapkan “lailaha illallah”. “Betapa teganya engkau wahai Usamah membunuh orang yang menyerah dengan mengucap lailaha illallah? kata Rasulullah. Dengan ringannya Usamah berkilah: “si korban itu hanya berpura-pura membaca kalimat lailaha illallah supaya tidak dibunuh”. Padahal kaum Ansor yang kebetulan bersama Usamah, seketika itu pula menghentikan perlawanan usai mendengar kalimat tahlil tersebut. “Sudahkah engkau membelah dada orang itu, sehingga engkau tahu bahwa dia berpura-pura atau tidak?” tanya rasulullah. Usamah terdiam dan menyesali perbuatannya seraya mengatakan: “seakan aku masih belum Islam, sebelum kejadian itu” (HR. Bukhari dari Abu Dhabyan).
Pengkafiran sesama kelompok atau ormas itu bagaimanapun juga harus dihentikan karena hanya akan memperkeruh dan menodai ukhuwwah yang selama ini terjalin baik khususnya di Indonesia. Seandainya hal itu harus dilakukan, menurut Ijma’ ulama, predikat tersebut hanya boleh diberikan kepada orang yang: (1) tidak mempercayai keberadaan tuhan, (2) melakukan perbuatan syirik yang nyata (bukan dugaan), (3) mengingkari adanya nabi/rasul, (4) mengingkari kewajiban agama yang umum diketahui seperti yang tertera dalam rukun Islam, dan (5) mengingkari apa yang menjadi kesepakatan ulama dan diketahui secara luas seperti jumlah rakaat shalat, orisinalitas al-Quran mushaf Ustmany dll.
Meskipun ada alasan jelas untuk mengkafirkan orang, hendaknya lidah kita tetap dijaga untuk tidak “obral” mengeluarkan kata-kata tersebut dengan mempertimbangkan dampak dan kemaslahatan yang akan terjadi. Dalam hal ini, ucapan Ali bin Abi Thalib layak dicontoh saat ditanya tentang posisi keimanan kaum khawarij (yang jelas-jelas mengkafirkan Ali dan pengikutnya, bahkan membunuh sebagian). Apakah mereka kafir? Jawabnya: “Bukan, mereka masih muslim”. Apakah mereka munafiq? Jawabnya: “Bukan, mereka rajin berdzikir, sedangkan orang munafik jarang berdzikir”. Lalu mereka siapa? Jawabnya: “Ashabathum al-fitnah fa ‘amu wa shammu (mereka termasuk orang yang sedang diuji Allah lalu mereka buta dan tuli dari kebenaran). Apalagi kita menggunakan dalil yang tertuang pada akhir setiap ayat dari QS. Al-Baqarah 113, Yunus 93, An-Nahl 124, As-Sajadah 24, Al-Jatsiyah 17, bahwa kelak di hari qiyamat Allahlah yang memutuskan mana yang benar dari persoalan yang sedang diperselisihkan, tentu kita akan lebih berhati-hati dalam mengambil alih wewenang tuhan tersebut.
Pasca tumbangnya orde baru, ketika kran demokrasi dibuka lebar-lebar dan hak untuk berkumpul berserikat dijamin oleh undang-undang, muncul banyak kelompok/aliran keagamaan baik yang lokal maupun transnasional. Untuk itu kita sekarang dituntut untuk peka dan kritis terhadap gerakan-gerakan keislaman yang seakan menawarkan oase surgawi ditengah kegersangan religi dan problema sekularitas. Mana yang harus dipilih? Dalam konteks ini kita, terutama mahasiswa, harus memilih organisasi/pergerakan Islam yang: (1) tidak menyulut perseteruan dengan sesama muslim, (2) tidak mudah membid’ahkan dan mengkafirkan kelompok lain, (3) memberikan porsi yang besar untuk kajian ilmu yang fardlu (akhlaq, fiqh, tafsir, hadis), (4) tidak memprovokasi orang untuk keluar/makar terhadap NKRI, (5) memberikan apresiasi positif terhadap jasa para ulama penyebar Islam di nusantara, (6) memberikan rasa aman dan pengayoman pada semua orang. Semoga ke depan keberagamaan kita semakin aman dan nyaman.
* Dosen Sastra Arab Universitas Negeri Malang (UM)
(syafaat.um@gmail.com/cahayaqurani.wordpress.com)

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: