Keharusan bermadzhab dalam Qiraat al-Quran

Oleh Syafaat

Istilah madzhab dalam bidang fiqh (ibadah), tidak asing lagi bagi para santri, mahasiswa muslim dan orang  awam sekalipun. Mereka akan secara refleks menyebutkan madzhab Hanafi, Maliki,  Syafii dan Hanbali. Namun hal yang berbeda dijumpai ketika ada pertanyaan tentang madzhab dalam bidang-bidang yang lain seperti aqidah, tasawwuf, qiraat al-Quran. Secara common sense dipahami bahwa istilah madzhab itu hanya untuk bidang fiqh sehingga over generalisasi berdampak pada terbentuknya mindset  bahwa bidang  qiraat al-Quran pun dianggap berkiblat pada madzhab empat tersebut.

Fenomena ini diperkuat oleh fakta (hasil pengamatan penulis dalam berbagai event) bahwa 95% ustadz/ah para pengajar TPQ tidak mengetahui adanya madzhab dalam ilmu qiraat (bacaan al-Quran). Padahal kalau kita mau buka-buka beberapa kitab ulumul Quran seperti Al-Itqan fi Ulumul Quran, Manahil Al-Irfan, Mabahitas fi Ulumul Quran, disana pasti dicantumkan bab khusus tentang Al-Qiraat Assab’u yang di dalamnya memuat nama-nama dari imam-imam qiraat yang berjumlah tujuh, beserta nama-nama perawi dan contoh bacaannya.

Penggunaan istilah madzhab ini perlu dipopulerkan dalam bidang qiraat, agar banyak kaum muslimin yang menyadari pentingnya bermadzhab dalam bidang ini. Orang yang bermadzhab biasanya akan berupaya keras memahami ajaran dari shahibul madzhab sebelum mengamalkannya. Para ulama’ sepakat bahwa belajar membaca al-Quran itu tidak boleh dilakukan secara otodidak/tanpa guru, melainkan harus dilakukan secara musyafahah/talaqqi dari guru ke murid, agar tidak terjadi keterputusan orisinilitas cara membaca al-Quran yang sesuai dengan praktek Rasulullah saw.  Prasyarat untuk membaca al-Quran tidak sekadar mengetahui cara baca huruf, kata, kalimat, tetapi mutlak diketahui juga riwayat-riwayat kata, kalimat yang mendapatkan perlakuan khusus dari sisi cara baca. Misalnya huruf ra’ pada kata “majraha” dalam riwayat Hafs dibaca miring (imalah). Artinya antara bentuk tulisan dengan cara  baca tidak selamanya sama (linier). Dalam hal ini, masing-masing imam/madzhab memiliki kaidah tersendiri. Lebih-lebih kaidah mereka bukanlah hasil ijtihad sebagaimana pada fiqh. Semua kaidah itu memiliki sandaran sanad yang tembus hingga Rasulullah. Meniru bacaan Rasulullah mustahil dilakukan via membaca buku tajwid semata, sebab entitas suara dan tulisan jelas berbeda, mirip dengan belajar pronunciation bahasa Inggris. Bedanya segala rekaman audio maupun video sudah dibuat sehingga otodidak pun bisa. Sementara bacaan Rasulullah belum pernah didokumentasi dengan piranti audivisual tersebut.

Sebelum kita belajar qiraat al-Quran pada orang yang bersanad, susah ditentukan bahwa bacaa kita mirip imam/madzhab siapa? Meskipun bacaan Imam/madzhab ‘Ashim riwayat Hafs dan Thariq Ubaid bin Shabah paling mendekati dengan bacaan al-Quran dari masyarakat muslim di Asia Tenggara. Mirip saja belum cukup, perlu lebih dari itu, yaitu secara definitif kita memilih salah satu dari 7 imam itu dengan haqqul yaqin tanpa keraguan sedikitpun. Hal itu bisa didapat dengan mengkaji kitab khusus misalnya Haqqut Tilawah atau Shafahat fi Ulumil Qiraat, disamping juga musyafahah (tatap muka) dengan guru mulai awal hingga akhir al-Quran.

Dengan tegas al-Quran sendiri mewajibkan kita untuk membacanya secara tartil dan Yatlunahu haqqa tilawatih (membacanya secara sungguh dan dengan cara terbaik). Ilmu tajwid dan ilmu qiraat sengaja disusun agar kita bisa mempraktekkan itu semua secara maksimal. Jangan sampai al-Quran justru melaknat bacaan kita, na’udzubillah. Terutama akhir-akhir ini bermunculan kajian-kajian nahwu al-Quran yang kadang membolehkan pembacanya memilih bentuk i’rab apapun asalkan dibenarkan oleh gramatika Arab. Padahal sama sekali manusia tidak diberi wewenang untuk intervensi bacaan al-Quran yang sudah terriwayatkan secara turun temurun dan berkesinambungan. Secara nahwu bisa saja lafadz “bismillahirrahmanir rahimi” dibaca dengan “bismillahirrahmanar rahima” (dengan memfathah nun dan mimnya), sementara dalam riwayat qiraat tujuh hanya ada satu alternatif saja, yaitu dengan mengkasrahkan nun dan mimnya.

Bagi rekan-rekan yang ingin mendalami Qiraat Tujuh dan mendapatkan sanad al-Quran silahkan belajar ke: PP. Yanbu’ul Qura Kudus, PP. Darul Quran Singosari Malang, PP. Asy-Syadzili Sumber Pasir Malang, PP Sunan Pandan Aran Yogyakarta, HTQ UIN Malang.

(Malang, 10 Oktober 2011)

2 Responses

  1. assalamu’alaikum….ustadz, adakah guru al qur’an bersanad di daerah Lampung..???tolong infonya…jazakumullah

    • Mohon maaf, sampai skrg saya msh blm punya info tentang ustadz maupun pesantren yg membina tahfidz di Lampung, insyaallah kalau sdh ada, segera akan saya informasikan.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: