Kisah sukses Steve Jobs (Steven Paul Jobs)

Adakah kiranya diantara kita yang belum mengenal sosok Steve Jobs dewasa ini? Sebagian mungkin mengenal, entah sebagian yang lain. Mungkin kenal, mungkin tidak. Siapa sebenarnya orang ini sampai patut untuk kita ketahui? Ah, pasti akan lebih mudah kalau kita sebut saja tiga perusahaan ini. Apple Inc. (pereka cipta Komputer Apple dan generasi iPod), NeXT (perusahaan perangkat teknologi tinggi), dan Pixar Animation Studio (studio animasi).

Sedikit lebih jelas sekarang. Ketiganya, paling tidak sudah menjadi pengakuan siapa Steve Jobs. Ia yang akan kita bicarakan adalah sosok dibalik kisah sukses ketiga industri raksasa tersebut. Namun yang mengukuhkannya bukan itu semua. Melainkan perjalanan hidup Jobs dari nol. Maka akan kita awali perjalanan kita lewat kalimat pembuka Jobs dalam sebuah ceramah singkatnya yang luar biasa. Itu tentang hidupnya. “Saya merasa sangat bangga berada di tengah kalian saat ini, yang akan segera lululs dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya, tidak pernah selesai kuliah.” Kisah Pertama : Menghubungkan titik – titik Jobs keluar dari Reed College setelah semester pertama ia kuliah, meskipun ia masih berkutat di sana sampai kira-kira satu tahun sebelum ia benar-benar berhenti kuliah. Mengapa Jobs sampai DO? Kisahnya berawal sebelum ia dilahirkan. Ibu Jobs (Joanne Simpson) mengandung Jobs –saat masih mahasiswi- karena sebuah “kecelakaan”.

Ibu Jobs memberikannya pada seseorang intuk kemuudian di adopsi. Mulanya ia bertekad agar Jobs di adopsi oleh keluarga sarjana. Dan ketika itu Jobs telah akan diadopsi oleh keluarga pengacara, sampai akhirnya ketika Jobs lahir, mendadak mereka menginginkan anak perempuan. Jobs batal di adopsi. Ibunya lalu mencari orang tua lain untuk mengadopsi Jobs. Namun akhirnya ia di adopsi oleh orangtuanya sekarang yang berasal dari Mountain View. Awalnya Ibu kandung Jobs menolak, karena ternyata ibu angkat Jobs tidak selesai kuliah dan bahkan ayahnya tidak pernah lulus SMA. Mereka bernama Paul dan Clara Jobs –Steven Paul Jobs yang terlahir di Fransisco, California, Amerika Serikat tanggal 24 Februari ini mendapatkan namanya dari mereka. Ibu kandung Jobs -setelah sekian- lama akhirnya luluh juga setelah orang tua Jobs berjanji akan menyekolahkan Jobs sampai perguruan tinggi.

Dan 17 tahun kemudian Jobs benar-benar kuliah, di Reed College, yang malangnya hampir sama mahalnya dengan Standford saat itu. Orangtua Jobs –yang hanya pegawai rendahan- telah menghabiskan seluruh tabungan mereka untuk membiayai kuliah Jobs. Setelah enam bulan ia sendiri tidak melihat manfaat kuliahnya. Sama sekali. Ia merasa telah menghabiskan seluruh tabungan hidup orangtuanya dan ia tidak tahu bagaimana kuliah membantunya menemukan jalan hidupnya. Ia pun memutuskan berhenti kuliah, berharap itu yang terbaik. Ia berhenti mengikuti kelas wajib yang tidak ia minati dan beralih mengikuti kuliah yang ia sukai. Masa-masa itu tidak selamanya menyenangkan. Ia harus tidur menumpang di lantai kamar kos teman-temannya karena ia tidak memiliki kamar kos. Ia mengembalikan botol Coca-cola untuk membeli makan dan berjalan 7 mil melintasi kota setiap minggu malam demi makan gratis di biara.

Selama masa itu, Jobs mengalami banyak pengalaman berharga. Reed College saat itu adalah universitas terbaik di Amerika Serikat dalam hal kaligrafi. Karena Jobs telah menyandang status DO dan tidak lagi wajib mengikuti kuliah wajib, ia memutuskan mengambil kelas kaligrafi. Kemudian ia terkesan dengan apa yang ia pelajari disana, tentang sains dan cita rasa seni yang berbaur dalam kombinasi huruf. Ia terpana. Tak ada manfaat yang ia rasakan saat itu sampai sepuluh tahun kemudian ketika ia dan timnya mendesain komputer Macintosh pertama, ia baru merasakan apa yang ia pelajari sangat bermanfaat. Mac menjadi komputer pertama di dunia dengan beragam jenis huruf yang sangat cantik dengan tipografi lengkap. Seandainya ia tidak pernah DO, ia tidak akan bertemu kelas kaligrafi dan Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak jenis huruf seperti sekarang. Kemudian Windows menjiplak Mac. Kita tidak akan dapat merangkai titik-titik dengan melihat ke depan melainkan dengan merenung ke belakang. “Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimanapun akan terangkai di masa mendatang.” Kisah Kedua : Cinta dan Kehilangan Jobs bagaimana pun adalah pemuda yang sangat beruntung karena ia tahu apa yang ia sukai sejak masih muda. Ia dan Woz (Steve Woz) mengawali Apple dari garasi orangtuanya ketika ia berusia 20 tahun.

Berkat kerja keras mereka, Apple yang hanya berawal dari dua orang kini menjadi perusahaan dengan 4000 karyawan dengan aset $ 2 milyar hanya dalam waktu 10 tahun. Ia menjadi CEO Apple Inc. Ketika ia berusia 30 tahun, satu tahun setelah Apple mengeluarkan Macintosh, ia dipecat. Ya, dipecat. Jobs, CEO Apple Inc. itu bukan mengundurkan diri, melainkan dipecat. Bagamana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan sendiri? Itulah yang terjadi. Awalnya mereka –Jobs dan Apple- merekrut seseorang yang mereka anggap berkompeten untuk ikut bersama mereka menjalankan perusahaan. Namun di tengah jalan ia dan Jobs berbeda visi dan tidak dapat lagi diselaraskan.

Komisariat perusahaan setuju mengeluarkannya. Jadilah Jobs dipecat dari Apple. Semua tujuan dan harapannya serta merta hancur berantakan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia merasa telah mengecewakan banyak orang dan hamper-hampir ia berpikir untuk meninggalkan kediamannya di Silicon Valley. Namun perlahan semangatnya kembali. Sedikit demi sedikit “Apa yang terjadi di Apple sedikitpun tidak mengubah saya.” Jobs tetap menyukai pekerjaanya. “Saya ditolak tetapi saya tetap cinta. Maka saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.” Kejadian itu mengantarkannya pada sebuah masa.

Periode paling kreatif dalam hidupnya. Lima tahun kemudian ia bangkit, ia mulai mendirinkan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar dan pada waktu yang sama ia jatuh cinta pada seorang wanita istimewa yang kini menjadi istrinya. Pixar kemudian menjadi perusahaan pembuat film animasi komputer pertama , Toy Story, dan kini menjadi studio animasi paling sukses di dunia. Tak lama kemudian Apple membeli NeXT dan Jobs kembali ke Apple. NeXT kemudian menjadi teknologi paling berperan dalam kebangkitan Apple. Ia yakin bahwa kejadian menekjubkan yang ia alami tidak akan terjadi jika ia tidak dipecat dari Apple dan berhenti di tengah jalan. “Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadang kehidupan melemparkan batu ke kepala Anda. Jangan hilang kepercayaan.” Dalam hidupnya, Jobs meyakini bahwa kepuasan bukan untuk kepuasan itu sendiri. Kepuasan sejati diraih hanya ketika kita melakukan apa yang kita sukai dan membuatnya bermanfaat bagi lingkungan dimana kita berada. Kesuksesan akan membuat Anda terlihat hebat. Namun Anda bias menjadi hebat manakala Anda melakukan apa yang Anda cintai. “Teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.” Kisah Ketiga : Tentang kematian Suatu ketika, Jobs yang berumur 17 tahun membaca sebuah ungkapan Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar. Ungkapan itu sangat membekas dalam dirinya. Dan selama 33 tahun terakhir semenjak itu, setiap pagi ia selalu bercermin, menatap wajahnya sendiri dan mulai mempertanyakan kepada dirinya sendiri. Jika hari itu hari terakhir ia hidup, akankah hidupnya hari itu akan sama seperti sebelumnya?

Beruntunglah karena ia selalu memiliki jawaban “tidak”. Dan ia tahu sejak itu ia harus berubah. Ia tahu bahwa apapun bertekuk lutut di sini dan segalanya menjadi tidak bernilai dihadapan kematian. Jobs divonis mengidap kanker pankreas. Ia sendiri tidak tahu apa itu pankreas dan tiba-tiba hidupnya divonis tidak lebih dari 3-6 bulan. Naas. Dokter menyarankan Jobs pulang dan membereskan segalanya. Ia paham maksudnya adalah agar ia bersiap untuk mati. Ia kemudian menjalani hidupnya dengan diagnosis itu. Ia berjalan menuju kematian. Dan tidak terbersit keputusaan apapun saat ia mengetahuinya. Ia hanya menjalaninya. Suatu ketika dokter memasukkan jarum ke dalam pankreasnya dan mengambil contoh sel kankernya. Ternyata itu kanker pankreas yang langka dan bisa diatasi dengan operasi. Kejadian itu adalah kejadian paling dekat antara ia dengan kematian. Jobs bersyukur pernah mengalaminya. “Kematian membuat hidup Anda berputar.” “Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan hidup Anda dengan menjalani hidup orang lain.” “Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengarkan kata hati Anda.” Steve Jobs mengajari kita bahwa hidup adalah kenyataan yang harus kita jalani; kemarin, hari ini atau esok hari. Apapun ; nikmatilah dan bersyukurlah. “Jangan hilang kepercayaan.” Kedua, bahwa buruk di awal tidaklah membawa akhir yang selalu sama. Jangan patah semangat. Dalam banyak hal, kegigihan melahirkan kepercayaan diri dan kerja keras berperan lebih besar dalam kesuksesan dan melahirkan hal-hal besar ketimbang mengandalkan titel dari bangku pendidikan. Tidak terkecuali Steve Jobs, CEO Apple Inc. yang tidak pernah selesai kuliah itu. Ia besar karena kegigihannya. “Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan hidup Anda dengan menjalani hidup orang lain.” “Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengarkan kata hati Anda.” “Jadi teruslah mancari sampai ketemu. Jangan berhenti.” Bagi saya, Steve Jobs adalah motivator hidup. Sya belajar menjadi pekerja keras dan menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah khususnya dalam meraih cita-cita. Orangtua saya adalah sosok sederhana dengan kemampuan ekonomi sangat pas-pasan.

Namun demikian, orangtua saya -meskipun pontang panting- mendukung sepenuhnya saya untuk dapat bersekolah di sekolah terbaik di daerah saya. Oleh karenanya saya menghabiskan waktu saya pergi bersekolah yang berjarak 6 km dengan bersepeda. Selama 6 tahun. Alhamdulillah saya menyukai bersepeda dan saya menikmatinya. Saya kagum dengan Jobs saat pertama kali berkenalan dengannya lewat sebuah buku. Sejak itu saya menjadi lebih percaya diri dan mulai terinspirasi karena orang yang “tidak memiliki” dan “tidak berpendidikan” seperti Jobs pun bisa menjadi besar berkat kegigihan, dan saya yakin saya adalah orang yang selanjutnya. Dari Jobs, saya belajar, bahwa mimpi dan cita-cita bukan hanya untuk di tulis, diucapkan atau sekedar di angankan, tetapi untuk dikerjakan mulai saat ini dan dengan penuh ketekunan. Dan saat ini saya tengah menjemput cita-cita saya di Teknik Penerbangan untuk menjadi seorang desainer pesawat. Steve Jobs bisa, saya pun bisa.

One Response

  1. Inspiratif, Gus…
    *salam dari Ujung Ngalah :)

    http://ayikngalah.wordpress.com

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: