Villa Bukit Tidar; Laboratorium Hidup yang menyenangkan

Oleh Syafaat

Perumahan Villa Bukit Tidar terletak di daerah Merjosari RT. 11, kecamatan Lowokwaru kota Malang. Berada di sebelah barat kampus UIN Malang dan Unisma Malang (3 km),  sebelah timur kota Batu (15 km). Pemandangan gunung Panderman di barat dan gunung Semeru di utara, gemerlap kota Malang di timur dan di selatan menambah keindahan daerah ini. Permukaan tanahnya berbukit-bukit dikelilingi tanaman hijau membentang ke seluruh penjuru mempercantik panorama perumahan ini.

Semenjak saya hijrah ke perumahan Villa Bukit Tidar Agustus 2001, pengalaman hidup berharga banyak saya dapatkan di sana. Sama sekali di luar dugaan banyak orang, komunitas perumahan yang umumnya nafsi-nafsi, egois, pagar rumah menjulang. Ternyata di sana berbeda secara diametral dengan perumahan serupa di tempat lain, satu dengan yang lain saling sapa, kerjasama dan toleransi yang tinggi, hingga memikat siapapun untuk berlama-lama tinggal di sana atau mungkin memilih untuk tinggal selamanya. Bahkan, kerukunan dan keakraban warganya melampaui tradisi kampung, desa atau dusun sekalipun.

Kok bisa? Kegiatan keagamaan begitu marak, ada tahlilan, diba’an, pengajian, muslimatan, banjarian, musik religius. Seakan seminggu penuh lantunan shalawat, ayat al-Quran, dzikir menghiasi atmosfir Villa Bukit Tidar (VBT). Kegiatan sosial juga marak, ada kerja bhakti bulanan, jaga malam keliling, temu warga bulanan. Suasana kondusif seperti ini tidak muncul begitu saja, tetapi memang by design (direncanakan) oleh tokoh-tokoh masyarakat para pendahulu yang mayoritas adalah dosen universitas Islam Malang (UNISMA). Mereka adalah P. Hasan Busri, P. H. Masykuri Bakri, P. M. Amin, P. Ansori, P. Ahmad Tabrani, P. Abdul Basit, P. Pardiman. Kekompakan warga semakin kuat dengan kehadiran beberapa karyawan dan dosen Universitas Brawijaya, UMM dan UIN Malang, mereka adalah P. Amin, P. Abdul Hadi, P. Martono, P. Muwafik, P. Imik, P. Yudi, P. Susilo, P. Ngatiman. Tak kalah dari peran mereka semua, ada P. Imam Ghazali, P. Zis Mujahid, P. Mujani, P. Maskun Bukhori, P. Ahmadi, P. Jalil, P. Gatot (ketua RW) dan teman-teman lain. Budaya kampung dan kentalnya tradisi NU, dilengkapi kematangan intelektual yang melatarbelakangi mereka, membawa mereka pada satu komitmen kinerja dan motto pengabdian yang luar biasa, yaitu “kabeh iku pengeran sing bales” (semua kebaikan akan dibalas oleh Allah, tanpa mengharap pamrih dari orang). Di tangan mereka semua, ketentraman warga terwujud, segala kemaksiatan dibasmi, kerukunan terjalin indah, dan perbedaan melebur menjadi kasih sayang. Kendati developer/owner dari VBT telah mem”bonsai” hak warga untuk mendapatkan fasilitas penting seperti tempat ibadah, ternyata kedermawanan warga dan swadaya masyarakat mampu menghadirkan masjid Nurul Jihad yang megah di tengah-tengah perumahan.

Kini sudah ada empat kavling rumah yang dibeli untuk tempat ibadah, tiga kavling sudah terbangun megah. Selain membangun masjid secara swadaya, masyarakat juga bergotongroyong mewujudkan lapangan volly di depan kantor pemasaran. Pembuatan gapura dan pavingisasi gang juga marak belakangan ini (2010). Warga rela menginfaq-kan rizkinya hingga ratusan ribu per kepala keluarga (KK) sambil dibantu oleh pemerintahan kota Malang via kelurahan Merjosari. Kalau dulu para “mertua” enggan menempatkan “menantu”nya di VBT karena kumuhnya, kini mereka berebut tempat disana karena keindahan, kebersihan dan kerapiannya. Beberapa kali perumahan ini mendapatkan penghargaan bahkan pernah menjadi pilot project kawasan yang bersih dan bebas dari narkoba. Tidak jarang walikota sendiri yang datang ke tempat ini, guna peresmian kegiatan dan pemberian bantuan. Di tempat yang sederhana dan sempit (RSS Tipe 60, atap asbes, dinding batako), di Gang Lowo RT. 05 RW.11 A1-233, saya membesarkan anak saya yang pertama (Nafila Lana Amalia), bahkan anak kedua (Kafa Nasrullah) terlahir di situ. Beberapa anak tetangga juga pernah belajar ngaji al-Quran dan kitab kuning di sana. Beberapa karya buku, penelitian dan proyek lainnya juga Alhamdulillah terselesaikan di tempat itu.

Bagi warga VBT umumnya dan RT 05 khususnya, silaturrahim itu sudah dianggap “fardu” bukan lagi sunnah hukumnya. Setiap tahun diadakan ziarah wali, rekreasi ke tempat wisata. Termasuk takziyah dan berkunjung ke orang sakit, itu biasa dilakukan secara berbondong hingga butuh 2-3 mobil. P. Hasan dan Mbah Hafidz berada di garda terdepan untuk menginformasikan dan mengkoordinir massa untuk bergerak cepat untuk takziyah dan ‘iyadatu marid (kunjung ke orang sakit). Biasanya, selepas takziyah dan iyadah, tidak lupa mereka makan bersama di warung/restoran kesukaan. “Ngerumpi cerdas” menjadi pemandangan warga sehari-hari terutama pengurus takmir. Politik, budaya dan sepakbola menjadi topik yang paling diminati, terutama oleh P. Zainul dan P. Tabrani. Karena bosan ngerumpi di emperan masjid atau di rumah, kadang tempatnya berpindah ke rumah makan P. Sholeh di Karangploso atau di STMJ Kawi. Sekilas, seakan kegiatan semacam ini kurang bermanfaat, namun memiliki dampak sosial dan psikologis positif, laksana lem yang merekatkan ukhuwwah sesama warga, pun laksana narkoba yang mengundang ketagihan untuk bertemu dan bertemu lagi. Selama 10 tahun (September 2001 s.d Juli 2011), pengalaman indahku di VBT ku lalui dengan manis. Mulai dari tidak ada telepon dan angkot hingga keduanya ada, mulai tradisi begadang hingga tradisi istighotsah, mulai kitab Arbain-Nawawi hingga Riyadus sholihin para jamaah mengaji.

Di masjid inilah (Masjid Nurul Jihad) semua rencana kebaikan dan kemaslahatan ummat berawal …………

Memang berat untuk meninggalkan sejuta kenangan, sungguh tidak mudah berpisah dengan hati warga yang sudah tertaut kasih dan sayang. Tapi saya menyadari tidak ada rencana apapun yang luput dari skenario besar Allah, dialah takdir, tak seorangpun bisa lari darinya. Dalam hal ini yang terpenting adalah bila di sini dakwah dan di sana juga harus dakwah, di sini tebar kebaikan di sana juga tebar kemaslahatan. Mungkin tubuh memiliki keterbatasan ruang dan waktu, tapi saya yakin hati dan ketulusan sukma menembus sekat-sekat ragawi dan jasadi. Pepatah Arab mengatakan: idza tafaqatil abdan ta’anaqatil qulub (ketika jasad saling berpisah jauh, semakin hati berpelukan erat). Menjelang perpisahanku dengan warga VBT, hampir semua tetangga dan teman tidak percaya begitu cepatnya perpisahan itu terjadi. P. Masykuri bilang, kalau saya pergi salah satu sayap keseimbangan di masjid menjadi berkurang. P. Tabrani bilang, kalau saya pergi, air penyejuk itu menghilang. P. Yudi (ketua RT) bilang, semua warga yang kurang tertib boleh hilang tapi jangan yang satu ini.

Menanggapi keberatan teman-teman semua, saya hanya mengatakan: Saya tidak pindah hanya bergeser beberapa kilometer ke selatan. Artinya beberapa aktivitas sosial seperti pengajian, khutbah, peringatan hari besar Islam, rekreasi bersama, masih saya jalankan. Sungguh merupakan karunia Allah pada tanggal 20 Juli 2011, ketika saat perpisahan itu tiba dan tasyakuran pindahan rumah dilaksanakan, tidak kurang dari seratus warga VBT berbondong-bondong secara antusias datang memenuhi undangan kami, dan hampir semua warga RT. 05 bertindak sebagai panitia sukses. Tidak terhitung, sumbangan kue dan hadiah mengalir deras dari warga, bahkan ada bantuan satu kambing yang tak terduga. Saking banyaknya undangan, saya menyediakan empat terop. Orang sekitar bilang, ada acara apa ini, mantu atau nyunati? Ternyata acaranya hanya tasyakuran pindahan rumah. Ya Allah ketika engkau memasukkan aku ke VBT, engkau tempatkan aku di tempat terbaik, pun ketika engkau keluarkan aku dari sana, engkau keluarkan aku dalam kondisi terbaik. Robbana adkhilnaa mudkhola shidqin wa akhrijnaa mukhroja shidqin waj’al lanaa min ladunka sulthonan nashiro, semoga doa ini jadi kenyataan. (bersambung). Update 8 Januari 2012

6 Responses

  1. Sebuah teladan yang sangat baik yang perlu dicontoh oleh perumahan yang lain. Selagi ada niat pasti ada kiat.

  2. Salam Ustadz.. lagi baca-baca artikel panjenengan.

  3. ass.wr.wb Bpk.Syafaat, S.Ag, M.Ag

    salam kenal pak, saya browsing tentang villa bukit tidar dan akhirnya menemukan blog bapak, karena saya lg boking di tempat tersebut di B2-241, membaca blog bapak membuat saya senang akan lingkungan perumahan ini, namun bapak sdh pindah tempat, kalau bapak berkenan untuk silaturrahmi dengan saya bisa email ke sohotarakan@gmail.com/081331081262.

    wassalam

    agus sutrisno

    • Wss, wr, wb. Salam kenal jg dr sy utk bpk Agus Sutrisno, sy ikut senang bpk tinggal di sana dan sy msh sering main2 kesana, bahkan setiap ada event penting hampir sy hadir. Sy skrg tinggal di Pesantren Gasek, monggo mampir ke rumah kalau sempat.

  4. siiip… ayo kapan balik lagi tinggal di VBT…????
    ditunggu ustadz…

    • Saya balik ke sana setiap ada momen2 indah dan manis sj, kayak makan2, rekreasi, minimal pas ada tahlilan lah…insyaallah

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: