KH. Hasanain Juaini, Sosok Kyai Peraih Dua Penghargaan Internasional

Cahaya itu datang dari desa yang jauh di Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Cahaya Dua Tanah Suci, begitu arti nama Pondok Pesantren Putri Nurul Haramain. Nah, pengelolanya, Hasanain Juaini, mendapat penghargaan pejuang kemanusiaan Ramon Magsaysay 2011 karena kepeduliannya terhadap masyarakat melalui pendekatan pendidikan pesantren di Indonesia. Nurul Haramain bukan pesantren biasa. Dalam situs Ramon Magsaysay Foundation, Hasanain dianugerahi penghargaan itu karena dinilai kreatif mempromosikan nilai-nilai kesetaraan gender, kerukunan beragama, pelestarian lingkungan, prestasi individu, dan keterlibatan masyarakat di kalangan komunitas pendidikan.Pesantren itu berdiri pada 1996, meneruskan yang didirikan orang tua Hasanain, Juaini Muhtar, pada 1952. Santrinya datang dari Lombok, Sulawesi, Bali, dan Papua. Pengelola pesantren itu dinilai oleh Ramon Magsaysay berhasil menggerakkan masyarakat menjaga konservasi hutan. Ia mengajak pondok pesantren di NTB melestarikan hutan. Untuk mengerjakan proyek itu, Hasanain juga melibatkan masyarakat. Selain Hasanain, warga Indonesia yang menerima penghargaan Ramon Magsaysay 2011 ini adalah Tri Mumpuni, yang dinilai berjasa menggerakkan sumber energi alternatif. Beberapa tokoh asal Indonesia yang pernah mendapat penghargaan serupa adalah Mochtar Lubis pada 1958 (yang kemudian mengembalikan penghargaan itu karena Pramoedya Ananta Toer juga mendapat penghargaan serupa), Soedjatmoko, tokoh pers Atmakusumah Sastraatmaja, dan lainnya. “Saya tak pernah membayangkan mendapat penghargaan ini,” kata ayah empat anak ini kepada Supriyanto Khafid dari Tempo. Hasanain menyelesaikan program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Mataram lima tahun. Berikut ini wawancara dengannya. Apa makna penghargaan itu bagi Anda? Ini berarti mereka ingin kami bekerja lebih kencang. Kami tak boleh mengecewakan. Saya tidak sebanding dengan orang-orang lain yang pernah menerimanya, seperti Gus Dur, Syafi’i Ma’arif, dan Pramoedya Ananta Toer. Bagaimana prosesnya? Saya tidak tahu. Pernah ada seorang warga Selandia Baru, Michael Harris, datang tapi tak menyebutkan kaitannya dengan Ramon Magsaysay Award. Lalu, ada yang menelepon mengatakan soal penghargaan itu. Tapi, untuk menolaknya, saya bilang kepada penelepon yang mengaku dari Filipina dalam bahasa Inggris : “I’m not crazy. Thank you for mistaken.” Telepon saya terima pada 25 Juli atau tiga hari sebelum diumumkan pada 28 Juli. Waktu itu saya sedang dalam perjalanan di Kabupaten Lombok Timur. Penghargaan ini karena mengembangkan pondok pesantren perempuan Nurul Haramain Putri. Apa keunggulannya? Saya ingin ada perhatian yang lebih kepada perempuan. Apa konsep kesetaraan gender dalam pemahaman Anda? Bagaimana diterapkan di pesantren? Semula karena tradisi. Sejak awal, para orang tua ada yang salah memahami konsep ini. Misalnya, jika hanya memiliki biaya pendidikan untuk seorang anak, maka yang didahulukan adalah laki-laki, tidak untuk anak perempuannya. Demi proteksi, maka sekolah harus memisahkan untuk perempuan dan laki-laki demi kemajuan anak perempuan itu sendiri. Sebab, anak perempuan tidak dapat mengambil bagian yang sama. Demikian pula dengan fasilitas yang lebih untuk perempuan, karena memerlukan lampu yang lebih banyak di kompleks pondok pesantren dan anak tangga yang berbeda dengan laki-laki. Kenyataannya, dengan proteksi tersebut, bisa dihasilkan prestasi menonjol. Contohnya santri putri berkreasi membuat majalah dinding, hasilnya bisa lebih bagus dibanding sewaktu masih dicampur. Sebetulnya pemahaman kesetaraan gender sudah ada sejak zaman Nabi. Perempuan itu belahan laki-laki, dan sebaliknya. Posisinya setara, masing-masing sebagai pakaian satu sama lain. Sering kali agama Islam dianggap sangat maskulin? Keadaan waktu itu begitu. Kalau sekarang, tidak bisa. Jika wanita amat sangat bergantung pada laki-laki, nanti akan menyusahkan laki-laki atau dirinya sendiri. Untuk zaman seperti ini, misalnya, manusia perlu bisa menyetir mobil. Suatu saat laki-laki tidak ada, yang ada perempuan dibutuhkan sopir untuk mengantar orang melahirkan ke rumah sakit. Sekarang ada kebutuhan perempuan untuk menguasai apa yang dulu dianggap tidak pantas. Seperti karate, yang diajarkan di pesantren ini, untuk menghindarkan mereka (dari kejahatan) sewaktu bekerja malam. Harus dibekali untuk melindungi diri mereka sendiri. Bagaimana menumbuhkan tanggung jawab moral masyarakat terhadap lingkungan? Masalah konservasi ditangani para santri sendiri, sehingga jika diuangkan selama lima tahun terakhir mencapai Rp 4,3 miliar. Untuk keperluan masyarakat di Sumbawa, disediakan bibit jati lokal dan jati emas. Untuk di Sekotong Lombok Barat, disiapkan bibit gamelina dan jati putih. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan warga di Nusa Penida, Karang Asem, dan Singaraja, Bali, ada 50 ribu pohon randu alas. Apa tujuan proyek penghijauan kembali ini? Daerah saya ini kan sebenarnya sumber air, tapi terjadi degradasi sangat parah. Itu dasarnya, karena tujuan penciptaan manusia itu untuk memakmurkan alam dan beribadah kepada Allah. Tapi orang tidak bisa beribadah kalau alam enggak lestari. Apa yang menggerakkan Anda memulai proyek ini, dan sejak kapan? Saya memulai pada 2003. Teman-teman LSM selalu mengatakan, “Anda ini orang pesantren selalu mengajak orang (bersuci) pakai air, tapi tidak peduli berkurangnya mata air di NTB.” Maka, lalu saya mengajak 327 pondok pesantren di NTB membuat gerakan dahsyat ini dan sekarang anggotanya sudah 427 pondok. Bagaimana Anda menggerakkan mereka? Waktu itu ada program Gerbang Emas dari pemerintah yang memberikan bujet kepada setiap pondok pesantren sebesar Rp 50 juta. Dari uang itu, tiap pesantren bisa mendapat 100-200 ribu bibit tanaman. Lalu kami mengumumkan, siapa yang ingin menanam silakan ambil bibit tanaman, tapi lahan pondok pesantren diutamakan dulu. Apa manfaat tercepat dari program ini? Setidaknya, sumber mata air yang dulu hilang kini sudah bermunculan kembali. Kalau secara ekonomi? Proyek ini cara paling baik bagi Indonesia keluar dari keterpurukan ekonomi. Dulu, Belanda itu untung besar dari kayu Indonesia. Saya jadi ingat waktu ada pembabatan hutan saat krisis dulu. Gus Dur waktu itu bilang, “Untung masih ada kayu yang dibabat. Kalau enggak, masyarakat bisa babat orang.” Buat saya, secara ekonomi ini akan jauh lebih menguntungkan. Ini nilainya fantastis. Jika setiap hektare ditanam 2.000 batang, maka antartanaman itu akan saling melindungi. Dalam 20 tahun lagi, anggap yang hidup 1.000 pohon, maka nilainya bisa Rp 1 miliar sendiri karena satu pohon bernilai minimal Rp 1 juta Bagaimana cara melibatkan masyarakat dalam gerakan ini? Saya katakan kepada mereka, dalam 20 tahun lagi, secara ekonomi ini akan sangat menguntungkan. Tapi mereka bilang, “Kami kan makan bukan 20 tahun lagi, tapi sekarang.” Akhirnya saya ajak orang-orang kaya, saya pinjam untuk menyediakan sapi yang akan dirawat masyarakat dan hasilnya bisa dibagi dalam enam bulan. Jadi, setiap satu hektare lahan, kami menyediakan lima ekor sapi. Terus mereka bilang lagi, “Kami punya uangnya baru enam bulan lagi, dong.” Lalu saya pinjam lagi dan setiap 1 hektare itu dikerjakan satu kepala keluarga, dan selain saya gaji juga saya bagi 1.000 ekor ayam. Dengan ayam itu, mereka bisa menghidupi keluarga. Saya bilang, ambil tiap hari dua ekor. Satu untuk dimakan, satu untuk dijual lagi dan dibelikan dua ekor piyik untuk mengganti yang dimakan. Terus berkembang, sampai akhirnya mereka datang ke saya, minta enggak usah digaji. Apakah pemerintah membantu program pesantren? Dukungan pemerintah masih kurang. Misalnya, mereka membuat Gerakan Sejuta Pohon. Itu tidak tepat kalau dikatakan secara nasional. Secara teknis, terlalu sedikit. Seharusnya sejuta pohon untuk kabupaten. Apa konsep pluralisme dalam pandangan Anda? Terima atau tidak, sebetulnya sudah jelas, perbedaan itu ada, fakta. Nah, saya kira pertanyaannya bukan mengakui atau tidak pluralisme itu. Mau mengakui atau tidak, itu fakta. Mungkin yang menjadi pertanyaan itu sebetulnya bagaimana cara Anda mendidik anak-anak dalam menanggapi perbedaan. Islam menerima perbedaan, itu adalah fakta. Apakah hal itu diajarkan di pesantren? Mengajarkan cara menghadapi perbedaan itu adalah dengan melihat cara memperlakukan orang-orang asing yang datang dan berada di sini untuk belajar selama beberapa waktu. Kami bekerja sama dengan sekolah-sekolah luar negeri. Berarti mereka lebih banyak nonmuslim. Mereka tinggal di sini, dan santri pergi ke sana, berbulan-bulan. Ada yang ke Jepang, Australia, Amerika Serikat, Swiss. Ada laki-laki dan perempuan. Tergantung mereka, karena berhubungan melalui Internet. Kalau mereka bukan muslim, ya, tidak perlu menggunakan jilbab. Untuk apa menipu kita, dia pakai jilbab tapi dia bukan muslim. Tidak ada gunanya, dan ngapain kita mau ditipu. Dianjurkan untuk mengenakan pakaian yang sopan. Mereka enjoy saja. Di sini orang asing belajar bahasa Indonesia dan memasak. Sebaliknya, santri memperoleh kesempatan tukar tambah berbicara dalam bahasa Inggris. Saya juga punya sahabat yang juga menginap di sini. Itu dilihat sama anak-anak. Persaudaraan internasional. Kami bimbing menghadapi cara yang berbeda. Bagaimana menanamkan kerukunan hidup umat beragama? Kapasitas saya sebagai Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama Kabupaten Lombok Barat dan juga di Provinsi Nusa Tenggara Barat, pertama, membuat peta konflik dan memilah mana kasus yang intra-agama dan mana kasus yang ekstra-agama. Jangan sampai overlapping. Tugas saya adalah menjaga kerukunan antarumat beragama. Kalau intern umat beragama, bukan urusan saya. Berdasarkan peta konflik itu, baru bisa diantisipasi. Misalnya dengan kegiatan-kegiatan kemah bersama antarpemuda. Percuma menyembunyikan fakta seperti itu. Pura-pura tidak ada apa-apa. Padahal ajaran agama itu ada. Misalnya orang Islam melakukan prosesi Nyongkolan (salah satu bagian dari tradisi Sasak) pada saat orang Hindu, Nyepi. Ya, harus dicari titik temunya, komprominya. Yang lain, soal sabung ayam. Jika itu bagian dari ritual Hindu, orang Islam harus bisa maklum. Bagaimana Anda melihat kekerasan yang mengatasnamakan agama, seperti kasus Ahmadiyah di Cikeusik dan Gereja Kristen Yasmin? Itu bagian dari cara menghadapi perbedaan yang tidak pernah diajarkan dan dididik. Kita tidak pernah dilatih seperti petinju yang terbiasa babak-belur. Ketika bertanding, dia tidak mengamuk ketika kalah atau robek matanya. Kapasitas seperti itu hanya mungkin kalau dilatihkan berkali-kali. Karena tidak pernah diajarkan, ya, terjadi seperti itu. Coba latihan dengan cara yang benar, baik, dan diprogramkan, dievaluasi. Latihan untuk menghadapi perbedaan. Tapi ada pesantren yang menjadi tempat pelatihan militer, perakitan bom, dan senjata seperti di Bima? Itu keluar dari khitah pesantren. Sesuai dengan tradisinya, visi dan misi yang dipahami, sebagai lembaga pendidikan agama moral, berbakti kepada masyarakat. Tidak ada kesepakatan umat dan bangsa ini bahwa saat ini masa darurat perang. Lalu, kalau ada pondok pesantren yang tindakannya begitu, aneh, anomali budaya. Peruntukan pesantren secara normal di masa normal, untuk pendidikan agama, character building, akhlak. Soal jihad? Kalau dipreteli, jadi lain, ini terjadi pemerkosaan istilah. Begitu mendengar kata jihad, asosiasi bawah sadarnya langsung lari kepada perang. Segala yang membutuhkan kerja keras sungguh-sungguh, itulah jihad, seperti menyempurnakan akhlak, membersihkan niat, memupuk kasih sayang, melawan sifat iri, pelit, dengki. Mengganti Tasbih dengan Kalkulator 24 Digit Sejak aktif dalam program pelestarian hutan, Hasanain Juaini memandang buah dalam pandangan berbeda. Sebelumnya, saat melihat buah, ia acap membayangkan rasanya. “Sekarang, tiap beli buah, yang kebayang berapa banyak bijinya,” kata pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haramain, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, ini dari seberang telepon, Jumat lalu. Ia juga kini mengganti tasbih, hal yang biasa kita lihat dari penampilan seorang ustad. “Ke mana-mana saya bawa kalkulator,” ujarnya, terkekeh. Mesin penghitung ini untuk meyakinkan masyarakat yang ia ajak dalam program pelestarian hutan. “Saya tidak mungkin menggerakkan orang kalau enggak menggunakan logika. Mereka tidak akan percaya kalau enggak menggunakan hitungan ekonomi,” ujar suami Runiati Ilarti ini. Tak sembarang kalkulator. Hasanain hanya menggunakan kalkulator yang mampu menampung angka hingga 24 digit. “Biar mereka percaya, program saya menguntungkan.” Jika memungkinkan, saat bertandang ke suatu daerah untuk sosialisasi konservasi hutan, ia melengkapi diri dengan laptop atau LCD projector untuk membuka program Excel. Hasanain pernah “diledek” oleh bekas Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Serinata. “Kalau mau baca kitab kuning ini, pergilah ke pesantren. Tapi, kalau mau cari kitab hijau, datanglah ke Hasanain.” Nama Penghargaan Nasional dan Internasional Medali Ashoka International untuk Social Entrepreneur sebagai terobosan inovasi persoalan sosial, pluralisme, dan perspektif gender di ponpes dan kehidupan Islam (2003) Penghargaan dari Bupati Lombok Barat sebagai pengasuh pondok pesantren yang konsisten terhadap kegiatan konservasi hutan dan air (2004) Penghargaan Maarif Award dari Institut Kebudayaan dan Kemanusiaan Maarif Indonesia (2008) Artikel diadopsi dari situs: http://www.malukueyes.com

3 Responses

  1. patut menjadi panutan

  2. […] KH. Hasanain Juaini, Sosok Kyai Peraih Dua Penghargaan Internasional Reblogged from Cahaya Qur'ani: […]

  3. Reblogged this on Hasanain Juaini's Media and commented:
    https://cahayaqurani.wordpress.com/2012/04/19/kh-hasanain-juaini-sosok-kyai-peraih-dua-penghargaan-internasional/

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: