Mengenang sosok sejuk KH. Sufyan Tsauri Kaliwates Jember

Oleh Syafaat

Tulisan hanyalah sekelumit dari sekian banyak keindahan hidup saat menjadi santri dan berkhidmat di PP. Miftahul Ulum yang diasuh oleh Alm. KH. Sufyan Tsauri. Meski hanya  tiga tahun saja (1990-1992) saya  “ngangsu kaweruh” kepada beliau, tapi energi positipnya masih saya rasakan hingga kini. Beliau telah menanamkan pada saya dan para santri yang lain akan pentingnya barokah atau adanya aspek supranatural dalam kemanfaatan ilmu. Menurut beliau ilmu yang banyak dan mendalam tidak menjadi jaminan kemanfaatan ilmu tersebut kalau tidak dibarengi dengan ketakwaan. Saya masih ingat betul beliau berpesan: “Ingatlah, masa muda cepat berakhir” dan “laisal jamal jamalul ilmi, wa innamal jamal jamalul adab“ (ketampanan hakiki bukanlah terletak pada wajah, melainkan pada akhlaq).

Di pesantren ini saya berupaya mengejar semua cita-cita saya. Di sini saya menghafal beberapa juz al-Quran dengan tanpa guru khusus, mendalami nahwu sharaf, serta mengembangkan seni baca dan tulis al-Quran secara mandiri. Meskipun terseok-seok dan tambal sulam, dalam tiga tahun saya bisa menghafal empat juz. Satu hal yang tak terlupakan, setelah sedikit ngobrol dengan mas Tohe (sekarang dosen UM Malang dan Mahasiswa S3 Chicago Amerika). Saya dan dia sama-sama termotivasi untuk menghafalkan Al-Quran dan berjanji untuk bangun tengah malam guna menjalankan sholat malam dan menjalankan ritual menulis ayat Al-Quran di piring dengan spidol hitam. Lalu dimasukkan air ke piring tersebut dan diminum oleh kita berdua. Itulah awal saya menghafal Al-Quran untuk juz satu. Namun, dalam perjalanan berikutnya dia lebih memilih mendalami bahasa Inggris, Fisika dan lain-lain. Berbeda dengan dia, saya meneruskan cita-cita tersebut sambil mendalami bahasa Arab dan kitab kuning.
Selain itu, saya juga harus mengikuti program-program Madrasah Aliyah seperti mengikuti pelajaran sekolah jam 07.00 – 12.00, mengikuti workshop elektronika jam 13.00 – 17.00. Setelah itu mengikuti pengajian rutin dan mengajar Diniyah di Pesantren mulai 18.00 – 21.00 dan seterusnya. Memang kegiatan saat itu merupakan kegiatan yang sangat melelahkan, meski demikian saya masih dapat meluangkan waktu untuk berolahraga di lapangan (satu kilometer sebelah selatan pesantren) sambil menikmati pemandangan sungai, gunung dan persawahan yang terhampar luas.More...

Entah apa yang terjadi, pada tahun kedua, saya diberi kepercayaan pengasuh pesantren untuk memimpin beberapa ritual pesantren seperti pembacaan tahlil, surat al-mulk (tabarok), imam shalat dan pembelajaran tajwid. Di luar itu, saya, ust. Toha, ust. Taufiqur Rahman, alm. Ust. Nasrullah setiap sore mengisi tadarrus yang didengarkan dan dihadiri seluruh santri.

Suatu ketika, pengasuh memanggil saya dan salah satu santri yang meler (nakal). Beliau katakan: “kelak anak ini (sambil mengarahkan tangannya ke arah saya) akan sukses, berbeda dengan kamu (sambil menoleh ke teman saya tadi)”. Selepas itu sambil marah-marah, teman saya tadi ingin membuktikan bahwa kelak siapa yang paling sukses diantara kita berdua? Sampai dengan tulisan ini saya buat (2011) saya belum mendengar berita teman dari Macan Putih Banyuwangi itu setelah 21 tahun berlalu. Lebih dari itu saya dipercaya untuk mengajarkan kitab Jurumiyah pada putra-putri beliau di rumah pengasuh. Bahkan saat bapak pengasuh meninggal dunia pada tahun 1992, saya diberi mandat memimpin tahlil sampai hari ke 40 yang kadang dihadiri para ulama se Jember dan sekitarnya.

Beberapa tahun sebelum meninggal, kesibukan beliau sebagai penceramah kondang bertambah dengan adanya kepercayaan lembaga “pagar nusa” Nahdlatul Ulama pusat yg waktu itu diketua bapak Pendekar Suharbilla dan KH. Mutawakkil alallah. Hampir tiap hari di pondok dipadati ratusan orang untuk belajar bela diri dan tenaga dalam, sehingga mau tidak mau beliau disibukkan dengan banyaknya tamu yang datang untuk minta ijazah “asmaul husna, ya hayyu ya qayyum, bismillah, halilintar”. Meski kesaktian beliau sudah kondang seantero nusantara, ketawadluan beliau terus terpancar dari wajah dan gerak gerik tubuhnya.

Di mata para santri, beliau sosok yang “awas” (tahu segala hal tentang santri). Suatu ketika beliau bepergian ke Yogyakarta, para santri mendengar berita itu menjadi berbunga-bunga sebab pengajian akan libur dalam waktu sekitar seminggu atau minimal pengawasan kepada santri menjadi longgar. Tapi beliau berpesan agar semua santri tetap mengaji sebagaimana biasa, dan akan memberikan sangsi bagi yang melanggar dengan skors atau orangtuanya dipanggil. Namun, tetap saja sebagian santri keluar malam untuk nonton film, lihat balapan motor (trek-trekan) malam, sehingga pengajian rutin yang disampaikan ustadz Jufri dan ustadz Misbah menjadi agak sepi. Ketika beliau datang, langsung memanggil sekitar 25 santri untuk diberi sangsi. Beliau mengatakan; meski saya tidak ada di tempat ini, tetapi radar saya tetap beredar, buktinya tanpa memakai mata-mata dari pengurus beliau mengetahui siapa saja dari para santri yang melanggar.

Lebih hebat lagi, beliau tahu santri-santri yang belum datang ke masjid ketika shalat jamaah akan dimulai. Beliau berdiri di pengimaman sambil pegang mikropon dan memanggil: Si najib di kamar 4b silahkan turun ke masjid, ayo si Firman jangan tidur-tiduran saja di kamar. Ternyata orang-orang yang beliau sebut itu benar masih di kamar, padahal jarak dari masjid ke kamar-kamar santri sekitar 50 M dan tidak ada jendela tembus dari pengimaman ke kamar santri. Subhanallah…. Beliau memulai shalat biasanya agak lama antara 10-15 menit, konon selama masih ada santri yang belum ke masjid, di pikiran beliau tergambar santri yang lalu lalang dari kamar mandi ke kamar santri dan seterusnya, sehingga beliau tidak bisa cepat takbiratul ihram.

Di pesantren itu saya juga meluangkan waktu untuk ikut membersihkan masjid dan halaman pondok serta halaman rumah pengasuh bersama beberapa teman tanpa ada perintah maupun jadwal. Di kalangan teman-teman saya dianggap “jago nggendok (jago masak)”. Bukan saya pinter masak, tapi karena rajinnya saya memasak hampir tiap hari bahkan kadang dua kali sehari meski hanya dengan lauk sambal atau kerupuk. Ini terjadi mungkin karena bekal dari orang tua sangat minim, yaitu hanya 30 ribu perbulan dan beras 10 Kg. Lagi pula untuk pergi ke warung nasi jaraknya agak jauh. Warna-warni pengalaman saya di pesantren ini membuat saya begitu betah tinggal di sana. Sampai-sampai menjelang boyongan (berhenti belajar di pesantren), seakan tak kuasa meninggalkan tempat itu.

(Mohon para alumni yang punya pengalaman khusus dengan beliau KH. Sufyan, sudi menambah tulisan ini).

3 Responses

  1. aslinya bnyak sekali hal – hal indah dan menarik yang didalamnya mmberikan manfaat bgi kami,bgaimana seorang guru yang selalu sabar dalam memberikan ilmunya kepada kita meskipun muridnya dulu itu ………..(sensor)
    tpi skrang kami sudah merasakan bgaimana rasanya kebarokahan ilmu tersebut.
    meskipun kami tidak pernah di ajar secara langsung oleh beliau ( K.H. sofyan Tsauri),alhamdulillah kami jga sdkit bsa merasakan ilmu dri gus ipung,dmna beliau pastinya juga pernah diberikan ilmu dan di trnsferkan ulang kepda kmi.

    alhamdulillah dan terima kasih guru…

  2. sebagai sesama alumni menjadi slah seorang yang kerap di panggil kyai di absen waktu ngaji pagi menjadi sesuatu yang khas di pondok kita….. apapun hasilnya PP Miftahul Ulum telah membentuk karakter sanbtri yang tangguh dan siap pakai, buktinya sampai hari ini banyak alumni yang masih bisa bersaing di dunia luar tak lain dan tak bukan karena tempaan di Pondok dulu……

    • Benar, sekecil apapun pasti PP. Miftahul Ulum punya saham atas kesuksesan para santrinya. Ingat sukses pasti ingat PP MU.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: