Tuntas dan Lancar Menghafal 30 Juz dalam Satu Tahun, Bisakah?

Syafaat

Banyak pertanyaan muncul seputar durasi menghafalkan al-Quran. Ternyata jawaban dari pertanyaan tersebut sangat bervariasi mulai dari yang super cepat (kurang dari 10 bulan) sampai yang paling lambat di atas 10 tahun, bahkan tidak jarang berakhir dengan kegagalan. Jika jawabannya bervariasi, maka penghafal pemula dihadapkan pada kebingungan membuat target waktu. Kebingungan tersebut membuat gamang untuk melangkah, kegamangan membuat langkah menjadi tertatih-tatih. Terlebih sekarang ini banyak orang tua yang menginginkan anaknya segera melanjutkan sekolah atau kuliah seusai mereka tuntas menghafal.

Animo masyarakat muslim terutama di perkotaan untuk menghafal al-Quran kian besar dan tak terbendung, sementara pada saat yang sama mereka dihadapkan pada tuntutan hidup faktual (bekerja, menikah, membesarkan anak, meniti karir, melanjutkan studi, berorganisasi). Lagi-lagi, persoalan yang muncul adalah cukupkah dalam waktu terbatas (1 tahun, 2 tahun dst) semua keinginan itu berjalan simultan.

Menghafal al-Quran termasuk kategori Extra Ordinary Memorization (EOM), proyek menghafal yang luar biasa banyaknya, sekitar 600 (full) halaman dengan ratusan kata yang mirip dan ratusan kata non Arab di dalamnya. Dibutuhkan kolaborasi antara psikis, fisik, transeden yang kokoh untuk melakukannya. Ketenangan psikis dibutuhkan agar kerja otak untuk proses menghafal tidak terganggu, fokus dan stabil dalam jangka waktu yang panjang. Fisik yang sehat ikut juga berkontribusi menjaga stabilitas psikis, kinerja mekanis tubuh. Menggerakkan mulut untuk membaca, tangan membuka mushaf dibutuhkan kinerja mekanis tubuh yang sehat. Peran transendental (keyakinan/keimanan), meski kerja di belakang layar, adalah mengatur harmoni psikis dan fisik sekaligus mensupplay tenaga yang maha dahsyat. Seringkali aspek transedental ini mendominasi dan mengambil alih peran psikis dan fisik. Contoh banyak sekali orang buta yang hafal al-Quran, tidak jarang orang yang berbaring sakit sukses menghafal.

Pengalaman membuktikan bahwa perencanaan yang baik dalam menghafal dapat mempercepat tuntasnya hafalan. Beberapa orang beranggapan jika menghafal dalam waktu yang lama, akan lama juga hilangnya, sebaliknya jika cepat selesainya, cepat juga hilangnya. Anggapan ini lebih banyak salahnya daripada benarnya, kenapa? Rata-rata mereka yang hingga tahun ke 4 belum tuntas, berakhir dengan kegagalan, sebab motivasi internal yang pada tahun pertama menggelora (100 %), mungkin pada tahun ke 4 tersisa tinggal 50% saja. Lebih-lebih bertubi-tubi desakan datang dari keluarga, teman, lingkungan untuk menyelesaikan, sehingga bisa jadi menghimpit syaraf dan itu rentan terjangkit stress. Seperti gadis usia 30 tahun belum laku, pasti kesana kemari akan dihujani pertanyaan, ledekan bahkan cibiran yang terkait dengan pernikahan.

Kalau kita disuruh memilih antara menghafal satu tahun seusai kuliah lalu bekerja atau langsung kerja sambil menghafal sedikit demi sedikit. Mayoritas akan memilih yang kedua, mungkin untuk meminimalisir resiko (kehilangan waktu setahun). Padahal kalau jernih berpikir, pilihan kedua itu justru akan memperpanjang beban dan mengambang antara menghafal dan kerja. Artinya kerja kurang fokus, menghafal juga kurang fokus. Dan ini butuh waktu yang lama dan konsentrasi yang tidak mudah. Sebaliknya pilihan pertama (libur dari semua aktifitas, hanya fokus menghafal), berat di awal (pertimbangan usia, keluarga kurang setuju dll), tetapi happy ending (indah di akhir, insyaallah).

Satu tahun adalah waktu yang panjang bila dimanfaat secara efektif, sebaliknya satu tahun adalah waktu yang cepat bila disia-siakan. Dua orang yang sama-sama lulus kuliah kemudian bertemu lagi dalam kurun waktu setahun, akan mendapatkan pengalaman, penghasilan, ilmu dan kulitas hidup yang berbeda. Mungkin satunya selama setahun dia bisa mengumpulkan uang hingga 10 juta, sementara yang lain memiliki keuntungan non materi yang abstrak, yaitu hafal al-Quran 30 juz. Tentunya keduanya memiliki bobot kulitas yang berbeda. Satu tahun yang bermakna akan mengukir keindahan hidup selamanya, sebaliknya satu tahun yang hanya numpang lewat tanpa aktifitas bermakna hanya menambah jumlah bilangan usia dan mengurangi bilangan umur.

Pertanyaan berikutnya, bisakah dalam 1 tahun seseorang dapat tuntas menghafal al-Quran? Jawabannya tidak hanya “bisa”, tapi “sangat bisa sekali”. Berbicara tentang menghafal 1 tahun berarti kita berbicara tentang lama waktu (12 bulan, 365 hari, 24 jam x 365) dan kesiapan fisik-psikis (untuk mengisi waktu tersebut seefektif dan seefisien mungkin), serta stabilitas konsentrasi dan fokus (istiqamah).

Terkait dengan calon penghafal, kelancaran membaca, fashahah, tajwid sudah tidak ada persoalan bagi mereka, demikian juga segala tanggungan finansial/tugas keseharian non tahfidz harus benar-benar bebas serta kenyamanan tempat dan ketepatan ustadz/kyai tidak diragukan lagi. Inilah prasyarat yang mutlak dipenuhi sebelum menyelam dalam samudera hafalan.

Sebelum memulai, harus dibuat perencanaan yang matang secara matematis dan aplikatif. Misalnya: kalau targetnya 12 bulan, maka perencanaannya harus dibuat 10 bulan sebagai antisipasi waktu yang terbuang.  Hasil bagi dari 10 bulan dengan 30 juz sama dengan 3 juz perbulan atau 1 juz per 10 hari.

Biasanya mushaf yang dipakai adalah mushaf pojok (setiap pojok bawah adalah akhir ayat) baik terbitan Menara Kudus, maupun terbitan dari Timur Tengah. Dalam satu juz umumnya terdapat 10 lembar/20 halaman. Jadi minimal perhari, harus menambah hafalan baru minimal 1 lembar/2 halaman. Untuk lebih aman sebaiknya ditambah 1 halaman lagi agar dalam waktu 20 hari sudah dapat 3 juz, sehingga ada sisa waktu antara 9-10 hari (dalam tiap bulan) untuk rileks atau melancarkan ketiga juz tersebut. Kegiatan semacam ini berlangsung terus tanpa jeda, tanpa mengenal hari libur kecuali idul fitri dan idul adha saja. Seandainya melakukan perjalanan jauh, pun tidak boleh putus menambah hafalan baru meski di atas kendaraan. Jadi dibutuhkan kedisiplinan tinggi dan istiqamah tanpa kompromi. Sekali saja teledor atau malas, akan mengundang kemalasan berikutnya.

Hal yang tidak kalah penting dengan menambah hafalan baru adalah muraja’ah (mengulangi seluruh hafalan lama). Jika input hafalan barunya banyak maka murajaahnya juga harus banyak (seimbang). Jumlah juz yang dimurajaah dalam sehari minimal 1/7 dari hafalan keseluruhan. Misalnya sudah menghafal 14 juz maka minimal perhari 2 juz, sehingga dalam seminggu mengalami satu kali putaran. Berbeda dengan juz terakhir/terbaru yang dihafal, wajib dimurajaah setiap hari hingga lancar. Setiap hafalan baru wajib diperdengarkan (tasmi’) kepada ustadz/kyai yang sudah hafal. Akan lebih juga bila satu juz terakhir atau juz-juz lainnya yang belum lancar juga ditasmi’.

Ke semua proses di atas membutuhkan pikiran dan tubuh yang fit dan fresh terus. Bila sakit bagaimana? Selama dalam kondisi sakit itu masih mampu (meski tidak optimal) menghafal, maka lakukan semampunya. Perlu juga memperhatikan kesehatan dan kebugaran selama menghafal. Harus disisipkan waktu dalam sehari sekitar 1 jam untuk berolahraga (jalan, lari, senam, fitness dll) dan refreshing otak (dengan melihat pemandangan alam dll), serta 1 jam untuk tidur siang dan mandi. Lakukan keseimbangan antara berhenti dan bergerak, antara duduk dan berdiri dalam keseharian agar peredaran darah dan sensorik syaraf berjalan normal. Hindari makan terlalu banyak karena membuat orang mengantuk, dan hindari  kurang makan yang akan mengganggu konsentrasi menghafal. Biasakan tiap rakaat shalat membaca 1 halaman al-Quran, dan juga biasakan murajaah sirri (tanpa sirri) dalam keramaian, termasuk di atas kendaraan.

Kalau semua proses di atas berjalan sukses, maka 10 bulan sudah khatam 30 juz dan sisanya (2 bulan) dipakai untuk pemantapan dan tashih mendalam. Murajaah pada dua bulan terakhir harus lebih banyak, minimal 2 hari sekali khatam. Dan genap 1 tahun, si penghafal sudah tuntas menghafal dan mengkhatamkan sebanyak 30 khataman. Inilah yang disebut dengan tuntas dan lancar. Selanjutnya dia sudah bisa melanjutkan kuliah, kerja, atau mengejar cita-cita yang lain. Dalam kondisi ini, tentu murajaah tidak boleh berhenti hingga ajal menjemput, hanya saja porsinya dikurangi minimal 2 minggu sekali khatam. Buatlah komunitas kecil untuk murajaah bersamaan (bergiliran) secara rutin mingguan atau bulanan. Sekali-kali ikutlah musabaqah dengan niat semata ingin memperbaiki kulitas hafalan dan mendapatkan bimbingan intensif, pasti bacaan dan hafalan kita lebih baik. Keikhlasan menjadi baju keseharian, ketawadluan menjadi desah nafas, khidmat ilmu menjadi lahan perjuangan tiada henti.

Bagi calon penghafal putri yang berminat bisa membaca link ini. Semoga Allah ikut mengintervensi langsung cita-cita kita yang mulia ini sehingga berlangsung lancar dan bekualitas. Amin. La haula wa la quwwata illa billah.  (Malang, 6 September 2012)

25 Responses

  1. Assalamu’alaikum …
    Ustadz,sya pengen bgt hafal al_qur’an,tp dlam kondisi bejerja apa nya ?
    mau mondok faktor uang gk bsa bantu orang tua ustadz tlong pnjelasannya ustadz.

    • Waalaikumussalam, kalau kondisinya sprt itu silakan menghafal sambil kerja, tp ambil target minimal sj agar tercapai, sprti juz amma.

  2. jika kita menghafal pasti butuh keistiqomahan yang tinggi, ane paling sulit untuk melakukan hal ini,, apa tips ustdz untuk melatih istiqomah itu?
    kemudian ane juga tanya, ane pernah dengar bahwa jika kita tidak mempunyai wudhu, kita bleh memegang mushaf yang bahasa indonesianya lebih banyak, jika lebih banyak arabnya tidak di perbolehkan memegangnya, menurut ustadz hukum yang sebenarnya itu bagaimana?

    • Istiqamah itu muncul dari niat dan langkah awal, lalu langkah awal tsb dipertahankan hingga menjadi kebiasaan, kebiasaan itulah yg disebut istiqamah, Jd istiqamah adlh sebuah proses panjang yg berat dan penuh tantangan. Para ulama sepakat bahwa al-Quran yg dicampur dg terjemah/tafsir yg lbh dominan bukanlah al-Quran. Ibarat truk yg memuat 1 muhaf al-Quran dan 100 buku, si sopir tdk hrs berwudlu krn dia tdk membawa al-Quran melainkan membawa buku, sdg al-Quran hanya nunut (ikutan). Sebaliknya jika bukunya 1 dan al-Qurannya ada 100, maka sopir hrs wudlu krn membawa al-Quran dan buku hanya ikutan sj. Jd boleh memegang terjemahn al-Quran dg tanpa wudlu, meski demikian tetap lbh etis/afdol dg wudlu.

  3. assalamu’alaikum…
    Ustadz… terimakasih pencerahannya….
    Petunjuk Allah datang lewat blog Antum…
    dari kemarin, saya bingung meneruskan masa depan saya Setelah Kuliah….

    Antara Kerja dan Tahfidz Qur’an…
    Penjelasan Ustadz membuka pemikiran saya yang tadinya “buntu”…
    “Kalo Mondok Tahfidz, Takut KETUAAN Kerjaanya, Nikahnya, dll”…

    Desakan demi desakan saya rasakan, dari keluarga yang tidak setuju saya ke pesantren, sampai2 “kekasih” yang gak setuju saya mondok tahfidz krn dibilang “gak serius sama hubungan”….

    Tapi apalah arti larangan mereka jika Panggilan Allah untuk saya menghafal Quran sudah kuat, mungkin saya takan menjadi kebanggaan keluarga saya di dunia, tapi saya berharap menjadi kebanggan mereka di akhirat,,, “kekasih” demi menghafal saya relakan, karena menghambat saya dalam menghafal, Jika memang Jodoh maka Allah pasti Satukan, jika bukan maka Allah pasti gantikan yang lebih baik, karena saya merelakan demi menegakkan Agama dan menjaga Quran…

    Petunjuk Allah lewat tulisan Ustadz melepaskan ikatan (desakan) mereka yang menghambat saya untuk menghafal, Syukron katsiiron tadz…

    Mohon doanya semoga Allah memberi Jalan kepada saya…. ^_^ aamiin

    • Berjuang terus, semoga sukses

  4. jazakallah khoiron katsiiron

  5. Assalamu’alaikum… Ustadz tlng kirimin saya murottalnya anda dong, format mp3. Syukron Katsir. Nurohman Depok Jabar.

    • Wss, maaf sy blm pernah rekamaan murottal kecuali surat al-Fatihah sj, lbh baik anda buka: mp3quran.net, disana ada ratusan murottal bagus2 drpd suara saya yg tdk sebagus mrk.

  6. Assalamualaikum..,di Malang pondok khusus yang menerapkan metode hafalan quran kurang dari dua tahun di mana ustadz, trus syarat2nya apa dan batas usianya berapa..,??

    • Wss, memang blm ada pesantren yg mentarget hafalan santri (semoga di masa mendatang akan ada pesantren yg seperti itu), tp itu sgt tergantung pd santri sendiri, bbrp org mampu membuat target sendiri dan bs selesai dlm kurun wkt 1 s.d 2 thn, yg penting suasana pesantren nyaman dan kondusif, pasti bisa.

  7. kalo pengalaman ustadz sendiri, hafal al-qur’annya berapa bulan dan tahun berapa? trus waktu yang baik untuk menghafal al-qur’an itu kapan saja.

    • mulai agustus 1993 s.d juli 1994. Waktu terbaik menjelang shubuh, setelah shubuh, setelah sarapan dan mandi jam 08.00, setelah makan siang dan shalat Dhuhur jam 12.00, setelah tidur, mandi, shalat Ashar jam 15.30, setelah shalat maghrib dan makan malam jam 18.00.

  8. Ustadz, tipsnya biar mudah ngafal gmana ya? Saya kok kadang susah, kadang jg gampang dalam nghafal,.

    • Tolong diingat kembali “kondisi jiwa” saat mudah menghafal, kalau sudah mohon ditulis dan terapkan ketika mengalami kesulitan. Biasanya mudah menghafal itu dalam kondisi lingkungan sekitar sangat tenang, badan dan pikiran sedang sehat dan tdk ada masalah, sedang menghafal ayat yg tahu artinya atau sering dibaca. Upayakan sebelum menghafal, mencermati dulu susunan kata dan kalimat , sambil mencoba memahami arti dan alur ceritanya, baru kemudian dihafal. Semoga sukses

  9. Asw Tad,
    ana dr Bengkulu, ikut mahad tahfizh udah hampir dpt 5 juz
    dg kondisi kerja sekarang yg bnayk mnyita waktu, hampinya lama sekali udah hampir 3 bulan, ana bingung krna murojaah nya ketinggalan, skrang bnyak ke murojaah aja, seperti hapalan baru
    gmna ya Tad

    • Waalaikumussalam, gk apa2 fokus ke murajaah dulu, tp hrs jelas targetnya sampai kpn? Kalau blm serius, 1 thn pun blm bisa lancar. Kuncinya lancarkan 5 juz itu dlm waktu 1 bln dg serius, stlh itu buat 3 hr sekali khatam (5 juz), sambil nambah hafalan baru. Semoga lancar semuanya.

  10. subkhanallah tmbh smangat ja ne tadz?
    tp bgmn ya..biar g cpt jenuh .c0z hmpir stp hari bca ayat al qurn truz.

    • Membaca al-Quran mirip orang makan butuh variasi, supaya gak jenuh coba ganti lagunya, atau cara tempat yg nyaman atau pahami tafsirnya.

  11. sangat memotivasi . terima kasih ya ustadz

  12. sangat memotivasi.terima kasih ustadz

  13. Mantap artikelnya…1 tahun pertama memang semangat yang tinggi..
    Ustad… bagaimana kalo kondisi kita blum memungkinkan mondok? apa bisa 1 tahun ya ustad menghafal sendiri atau hanya ikut program tahfidz yang seminggu sekali??

    apakah bisa memanfaatkan 1 tahun waktu kuliah kita untuk juga efektif menghapal,, karena tentu berbeda keletihan karena kuliah dan kerja..

    apakah kalau kita mau meghafal quran harus menjauhi TV mengingat banyaknya tayangan/gambar yg aneh2…dan juga musik ustad?? tp terkadang jenuh

    • Betul sekali, utk bs selesai dlm setahun harus mondok atau situasinya seperti itu, tdk mondokpun sebetulnya bisa namun sangat, sangat, sangat sulit sekali, apalagi sambil kuliah/kerja. Drpd coba2 dan mengahbiskan waktu banyak, mending mondok sj lbh fokus. Fokus yg sy mksd di sini adalah meninggal semua aktifitas (TV, FB, internet, musik, radio dll) yg tdk terkait lgsg dg hafalan dan tdk berbahaya bila ditinggalkan, kalau sekadar iseng (utk menghilangkan kejenuhan) seminggu sekali, tdk apa2, cuma khawatirnya keasyikan lupa tujuan utamanya.

  14. assalammu’alaikum… ijin copas ustadz…

    • Silahkan, smg bermanfaat

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: