Kado Pernikahanku yang Terindah


Oleh Syafaat

Saya merasa terenyuh ketika dua orang curhat via blog ini bahwa mereka baru saja memulai mendayung bahtera rumah tangga dengan satu komitmen yang tak lazim bersama istri mereka masing-masing. Biasanya di malam pertama perkawinan, hal yang disepakati kedua mempelai adalah seputar rencana jumlah momongan, bulan madu yang indah, serta rencana jangka menengah seperti kepemilikan rumah dan kendaraan sendiri.

Komitmen mereka dengan istri masing-masing justru berupa janji untuk “menghafal al-Quran” bersama-sama. Komitmen tersebut tentu tidak hadir dalam ruang hampa, pasti ada hukum kausalitas yang melatarbelakanginya. Pada saat para santri yang tak kunjung selesai hafalan, sudah mulai putus asa, dan ketika semangat para mahasiswa yang menggebu-gebu untuk cepat hafal sudah mulai antiklimaks, kok justru ada sepasang suami istri bertekad menghiasi horizon rumah tangganya dengan aura qurani. Padahal, katanya orang yang berumah tangga itu pasti menemui aneka gelombang ujian, meski demikian mereka siap menghadapinya sekaligus ditambah dengan beban menghafal al-Quran, sungguh luar bias, subhanallah!

Jelas itu sebuah komitmen hidup yang mahal tiada tara, rizki non materi yang tak ternilai. Tidak semua orang mendapatkannya, dan kalaupun mendapatkannya, tidak semuanya mampu berkomitmen untuk melaksanakannya. Kalaupun berkomitmen, tidak semuanya sanggup melaksanakannya. Tentu butuh ikhtiyar maksimal, di samping adanya hidayah dan ma’unah dari Allah swt.

Efek domino dari komiten tersebut tentu meluas dan melebar pada aspek lain. Seisi rumah akan bertaburkan cahaya qurani. Alunan kalamullah akan menggema hingga ke lorong-lorong hati calon janin. Pantulan wahyu ilahi berresonansi kuat hingga mampu menembus dinding-dinding rumah bahkan menggetarkan arsy Allah swt. Nafsu dan keserakahan terhegemoni oleh pancaran kedamaian nur al-Quran. Sakinah, mawaddah dan rahmah menjadi keniscayaan  hidup surgawi bagi mereka para ashabul quran ini. Menit demi menit, mereka habiskan untuk mentransfer aliran quran hingga ke sel-sel tubuh, hingga ke serabut syaraf dan DNA tubuh. Pada gilirannya nanti akan ada pertemuan qurani antara alam semesta, syaraf, sel, DNA, arsy, semuanya akan membentuk senyawa baru yang dahsyat dan saling berinteraksi secara harmonis.

Mereka mendambakan buah hati seperti Husein Thabathabai Iran, Abdur Rahman Farih Al-Jazair (yang hafal al-Quran di usia kanak-kanak), mereka juga ingin mengulangi kesuksesan keluarga Bapak Mutammimul Ula Bekasi dan Ibu Adibah Malang (yang semua putra putrinya hafal al-Quran). Sebuah keluarga yang jauh dari budaya tawuran, geng motor pembawa petaka maupun narkoba dan seks bebas pembawa maut sebagaimana terjadi di kota-kota metropolis.

Mereka sangat sadar bahwa belaian qurani yang mereka sentuh dan bisikkan pada anak-anak tersayang, kelak akan menggerakkan dan membasahi mulut orang tuanya dengan ikrar “lailaha illallah” kala ajal menjemput, mereka juga akan menjelma menjadi cahaya terang di dalam kubur ketika orang tuanya telah berpulang ke hadiratnya. Sedekah dzikir dan bacaan al-Quran dari keturunan dan ahli warisnya kelak, senantiasa akan menjadi pahala yang terus mengalir sampai hari kiamat tiba.

Para suami yang menghadiahkan rumah megah dan kendaraan mewah pada isitrinya, hanya memberikan kebahagiaan duniawi sesaat bila mereka jauh dari keimanan. Harta dan kemewahan yang mereka tinggalkan pada ahli waris, kerap memicu konflik keluarga berkepanjangan. Sebaliknya, para suami/istri yang dalam syaraf, mindset, prilaku, sikapnya  teraliri frekwensi qurani, mereka ibarat menghadiahkan kado perkawinan terindah, yang tak lekang oleh lipatan ruang dan tak lapuk oleh peredaran zaman.

Kado perkawinan terindah itu kerap menghipnotis, merubah kerasnya zaman menjadi lembutnya persaudaraan. Kondisi ekonomi yang sulit terkonversi menjadi keagungan syukur dan ketulusan qanaah. Harta yang melimpah tidak selamanya mampu membeli kebahagiaan yang immateri, sebaliknya kesalehan keluarga bisa memborong habis kekayaan materi dan immateri sekaligus.

Selamat menempuh hidup baru, bagi para pasangan yang baru saja mempersembahkan kado terindahnya untuk bekal kebahagian dunia dan akherat. Ya Allah jadikan rumah tangga mereka bagai alam surgawi (baituhu jannatuhu). Amin

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: