Alangkah Bahagianya Orang Tua Ketika Putra-Putrinya Belajar di Pesantren

santri1

Oleh Syafaat

Suatu ketika ada seorang ayah sedang menangis tersedu-sedu di sudut pesantren kampus UIN Malang, lantas datang P. Imam Suprayogo (rektor UIN saat itu). “Bapak, kenapa menangis, apa yang terjadi?” Tanya beliau sambil mengelus pundaknya. Begini pak, saya menangis karena saya terharu melihat akhlak anak saya yang berubah drastis saat masuk di pesantren dan kampus ini, sang bapak menjelaskan. Perubahan apa pak? Tanya P. Imam.

Lantas beliau menjelaskan: “Anak saya semasa di SMA begitu sulitnya diarahkan untuk shalat lima waktu apalagi belajar al-Quran, bahkan sering membantah perintah orang tua. Terkadang keluar rumah tanpa pamit selama berhari-hari pergi entah ke mana. Saya dan istri seakan sudah kewalahan, lalu mengarahkannya untuk kuliah di sini dan Alhamdulillah mau. Dan pada hari ini untuk pertama kalinya saya menjenguknya. Tadi siang, saya melihat langsung dia sedang belajar dan membaca al-Quran bersama kawan-kawannya di masjid, terlihat begitu khusyu’.

Usai mengaji, saya menghampirinya tanpa diduga dia berbicara dengan “boso” (memakai bahasa jawa halus) dan begitu sopannya berbicara, padahal sebelumnya tidak begitu. Cara berpakaiannya pun berbeda dengan dulu, kini ia sering pakai kopiah, kain panjang dan sarung, terlihat begitu sopan. Yang lebih mengharukan lagi, kata temannya dia sudah terbiasa shalat dluha dan tahajjud. Itulah sebabnya saya menangis, anak saya yang satu-satunya ini telah diberikan hidayah melalui pesantren ini, dan saya yakin kelak dia akan menerangi kubur saya melalui doa-doa dan bacaan al-Quran-nya.

Cerita di atas merupakan representasi dari perasaan puluhan ribu orang tua yang anaknya mau belajar di pesantren, terutama bila sudah tampak perubahan positif. Sekarang ini orang tua mana yang merasa aman dengan kondisi putra putrinya di zaman yang sangat mengkhawatirkan ini. Bagaimana tidak, sekitar 4 juta pemuda sudah menjadi pecandu narkoba, separo remaja di kota besar sudah pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah, aborsi terjadi di mana-mana, tawuran pelajar semakin menjadi-jadi, pengaruh negatif HP dan internet semakin nyata.

Dulu orang tua memasukkan putra-putrinya ke pesantren dengan harapan agar kelak menjadi ustadz, kyai atau penceramah. Tapi kini, harapan mereka tidak sejauh itu, putra-putrinya selamat dari ujian zaman “edan” dan berakhlaq baik saja, itu sudah merupakan prestasi yang luar biasa. Dalam kondisi normal, rata-rata orang tua mencita-citakan putra-putrinya kelak menjadi sarjana dan masuk ke perusahaan dengan gaji besar, sehingga bisa meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Namun ketika melihat putrinya yang masih belia hamil di luar nikah, terlibat pesta narkoba, ikut gank motor yang meresahkan masyarakat, maka spontan terbersit dalam pikiran mereka bahwa akhlaqul karimah adalah segala-galanya. Apapun prilaku anak mau tidak mau akan berdampak pada nama baik keluarga. Ketika anak melakukan kebaikan, keluarga akan menuai banyak pujian. Sebaliknya, ketika menanam keburukan, juga keluarga akan ikut memanen cacian dan makian orang.

Seandainya setiap orang tua pernah merasakan indahnya hiruk pikuk pesantren di mana para santri menghafalkan al-Quran, diskusi bersama di madrasah diniyah, tahajjud bersama dan ramainya muhadloroh (latihan pidato) dan senandung shalawat, pastilah mereka tidak akan pernah melepaskan anaknya setamat SD/SMP kecuali ke pesantren. Bagaimana dengan prestasi mereka di sekolah? Rata-rata tamatan pesantren memiliki kompetensi akademis di atas rata-rata (level menengah ke atas). Mereka tidak kalah dalam hal teknologi apalagi bahasa Inggris atau matematika dengan siswa lainnya. Apalagi terkait dengan ketahanan hidup, kemandirian, kerjasama, empati pada orang lain pasti jauh di atas siswa yang lain.

Hampir semua pesantren sekarang sudah memiliki lembaga pendidikan dengan segala fasilitasnya. Mungkin dari segi gedung tidak semewah sekolah negeri favorit, namun semua aktivitas akademis nyaris tidak berbeda dengan sekolah yang lain. Oleh karenanya, kalau para orang tuanya ingin hidup damai di rumah tanpa dipusingkan pergaulan putra-putrinya, antara ilmu agama dan ilmu umumnya  terdapat keseimbangan, memiliki kemandirian, serta memiliki keagungan akhlaq dan kedalaman spiritualitas, maka masukkanlah mereka ke pesantren-pesantren yang sudah terkenal di masyarakat, insyallah mereka kelak menjadi orang-orang hebat seperti Hidayat Nur wahid, Gusdur, Dahlan Iskan, Nurcholis Madjid, Din Syamsuddin, Mahfudz MD dan lain-lain. Itulah produk nyata pesantren.

2 Responses

  1. assalamualaikum Wr. Wb.

    ustad, saya ini termasuk orang yang baru saja merasakan kehidupan pondok pesantren. saya merasa lingkungan seperti ini memang lingkungan yang saya inginkan, tapi dimana pun kita tinggal pasti tak lepas dengan yang namanya hal-hal yang menggoyahkan ketenangan batin untuk tetap bertahan di pesantren juga banyaknya masalah, bagaimana kita bisa tetap merasa nyaman ditempat kita tinggal terutama dipesantren?

    • Waalaikumussalam, utk nyaman di pesantren, ikuti semua tatatertib pesantren, penuhi semua prasyarat administrasi, pilihlah teman yg rajin dan disiplin, lakukan ibadah sunnah sebanyak-banyaknya, mendekatlah dg pengurus dan pengasuh pesantren.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: