Terjalnya Sebuah “Bukit” Kejujuran

aya

Pendidikan di sekolah sejatinya adalah tempat disemaikannya nilai-nilai kebaikan, yang memberi manfaat untuk perbaikan moral dan etika siswa. Tapi mengapa kini kasus ketidakjujuran akademis mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi menjadi makin marak? Meski dengan kadar pelanggaran yang berbeda, apakah ada sesuatu yang keliru dengan pola pendidikan untuk anak-anak bangsa ini?

Masih ingatkah kita dengan seorang ibu dari Surabaya yang anaknya dipaksa oleh oknum guru di sekolahnya untuk memberi bantuan contekan pada teman-temanya saat ujian nasional? Meski ibu Siami yang mengungkap kecurangan itu mengambil resiko keluarganya dibenci masyarakat dan terusir dari kampungnya, namun kini Alifa’ Ahmad Maulana, yang akrab dipanggil Alif itu menikmati massa SMP-nya di sebuah sekolah swasta di Kota Baru, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dengan nyaman.

Narasumber Kick Andy yang hadir kali ini pun adalah sosok-sosok yang “membayar mahal” atas kejujuran yang telah mereka lakukan. Salah satunya, Nur Hidayatusholihah, seorang siswa di SMA Muhammadiyah 1 Kali Rejo, Kabupaten Lampung Tengah, tiga kali tidak lulus ujian nasional (UN). Padahal, siswa tersebut selalu menjadi juara kelas di setiap tahunnya.. Nur yang akrab dipanggil Aya ini adalah murid berprestasi. Namun, juara kelas ini harus tiga kali mengulang ujian nasional untuk bisa lulus SMA. Tujuannya hanya satu: ia tak mau mendapatkan ijasah kelulusan dengan cara curang, tetapi lulus dengan kemampuannya sendiri. Walau sempat dicemooh oleh teman-teman dan tetangga di lingkungan rumahnya, namun Nur bergeming. Baginya, kejujuran dengan mendapatkan ijasah ‘halal’ adalah modal utama untuk menjalani masa depannya kelak.

Praktek beberapa oknum pendidik dalam menjual lembar jawaban soal ujian nasional sudah bukan menjadi hal yang baru di tengah masyarakat. Meski melanggar, namun banyak pihak sekolah yang rela membantu siswa-siswi-nya agar bisa lulus ujian. Seperti kasus yang terjadi di Medan Sumatra Utara pada tahun 2007 lalu. Pihak sekolah terbukti memberikan kunci jawaban pada siswa saat ujian nasional berlangsung. Kecurangan itu terungkap berkat kesaksian seorang guru, Daud Hutabarat. Bagi Daud Hutabarat menjadi guru bukanlah menjalani pekerjaan, tetapi merupakan panggilan hati. Menyaksikan sendiri kecurangan yang dilakukan oleh pihak sekolah dan murid-muridnya saat ujian kelulusan membuat hatinya tercabik-cabik. Tercatat ia sudah 4 kali keluar masuk berbagai sekolah sebagai tenaga pengajar. Alasan ia keluar pun semua karena adanya pembiaran praktek kecurangan oleh pihak sekolah saat berlangsungnya ujian. Ia merasa seakan sudah gagal menjadi seorang pendidik. Walau harus mempertaruhkan karirnya sebagai guru, Daud bersama beberapa guru membentuk Komunitas Air Mata Guru. Tujuannya adalah berupaya untuk menolak segala jenis kecurangan saat ujian kelulusan dengan mengadukan kecurangan yang terjadi kepada dinas pendidikan dan lembaga terkait.

Winda dan Aswari selalu mengajarkan pentingnya arti kejujuran kepada anak mereka, Muhammad Abrary Pulungan. “Kami diminta membuat kesepakatan tertulis untuk kasih jawaban saat ujian kepada teman-teman. Dan dilarang untuk memberitahukan kepada siapapun, orangtua, keluarga, teman, apapun yang terjadi saat un (Ujian Nasional)- sampai kami dewasa. Maksudnya adalah untuk tutup mulut. Kalau saya membocorkan rahasia ini, saya akan mendapatkan hukuman berat,” kata Abrary. Namun, kejujuran itu membuat Abrary dibenci dan dikucilkan oleh teman-teman dan guru-guru di sekolahnya. Pasalnya, Abrary mengadukan bahwa dirinya dipaksa untuk membuat komitmen contek massal bersama dengan teman-temannya saat ujian kelulusan SD. Winda pun mengadukan kasus tersebut ke Dinas Pendidikan, serta beberapa instansi hukum dan anak. Namun, hingga kini hasilnya nihil. Kisah yang dialami Muhammad Abrary Pulungan, dan perjuangan ibunya didokumentasikan ke dalam sebuah film dokumenter berjudul “Temani Aku Bunda” yang dibuat oleh Tim Produksi Yayasan Kampung Halaman.

Pendidikan bangsa yang menjadi tanggung jawab nasional berbagai pihak kini menjadi pertaruhan eksistesi sekolah, obyek target institusi-intitusi pendidikan yang menghargai hasil semata dan mulai mengabaikan proses. Bapak Arief Rahman, praktisi dan pemerhati pendidikan akan memberikan pemaparan yang gamblang mengenai hal tersebut.

Artikel ini diadopsi dari situs: http://www.kickandy.com/theshow/1/1/2491/read/mahalnya-sebuah-kejujuran

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: