KHUTBAH IDUL FITRI 2014 / 1435 H (NEW)

Silaturahim Lahir Batin, Cerminan Hidup Berkualitas

Oleh. Dr. Syafaat, M.Ag (Dosen Sastra Arab Universitas Negeri Malang)

Download File Khutbah

 fitri

الخطبة الأولى

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ  (9x)

الْحَمدُ لله كَثيْرًا واللهُ أكْبَرُ كَبِيْراً ، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً ، لَهُ الْحَمْدُ جَلَّ وَعَلاَ عَلىَ نَعْمَائِهِ ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلىَ سَرَّائِهِ ، وَلَهُ الصَّبْرُ عَلىَ مَا قَضَى مِنْ بَلاَئِهِ ، وَأشْهَدُ أنْ لاَ إلهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، نَبِيُّهُ الْمُصْطَفَى ، وَرَسُوْلُهُ الْمُجْتَبَى ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلهِ وَأصَحَابِهِ أجْمَعِيْنَ ، أمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وإيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ ، وَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَخَابَ مَنْ طَغَى . قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Allahu akbar 3X wa lillahil hamd

Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah SWT

Sejak bulan April 2014 hingga tanggal 22 Juli yang lalu, masyarakat Indonesia melakukan pesta demokrasi dalam rangka pemilihan anggota legislatif (Pilleg) dan pemilihan presiden (Pilpres). Ada nilai positif yang bisa diambil, namun banyak juga dampak negatif yang dirasakan masyarakat. Kampanye hitam dan pembunuhan karakter ikut mengaduk-aduk aroma permusuhan hingga ada terjadi perselisihan, perceraian, saling berseteru antar tetangga, konflik antar tokoh, saling pecat di beberapa partai besar, bahkan meruncingnya perbedaan para ulama yang masing-masing mengobral fatwa untuk memilih salah satu kandidat presiden. Meski semua telah usai, setidaknya masih ada bekas-bekas luka yang menganga, interaksi sosial yang terkoyak. Atau mungkin ada dendam kesumat yang telah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu dan hingga kini bara api permusuhan itu masih tersimpan di dalam dada. Saatnya luka-luka hati itu segera diobati dan dendam kesumat itu diamputasi.

Marilah hari raya Idul Fitri 1435 ini kita manfaatkan sebagai momentum untuk merekatkan persaudaraan yang terkoyak, merapatkan lubang silaturahmi yang menganga. Setelah sebulan penuh kita jalin kemesraan bersama sang kholiq Allah rabul izzati melalui puasa, qiyamullail, tilawatil al-Quran, membaca dzikir dan serta melakukan aktifitas ibadah sosial melalui santunan, sedekah, zakat dan lain-lain, kini saatnya kita melepaskan segala dendam kesumat dan permusuhan dengan saudara, kerabat, tetangga, teman, kolega, sesakit apapun peristiwa kelam di masa lalu itu masih membekas. Yakinlah kita masih butuh mereka, dan mereka siap ber-ishlah/rukun kembali dengan kita. Hidup di dunia ini sangat singkat, jangan kau penuhi dengan beban berat terkait dengan “hak ‘adami” yang kelak dipertanyakan. Rumah kita sempit jangan kau persempit dengan ketidakharmonisan hidup. Dengan saling bermaaf-maafan lahir batin dan bersilaturahim, pastilah rumah kita akan terasa lebih luas dan usia kita akan terasa lebih panjang. Rasulullah bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيُعَمِّرُ بِالْقَوْمِ الدِّيَارَ، وَيُثْمِرُ لهم الْأَمْوَالَ، وَمَا نَظَرَ إِلَيْهِمْ مُنْذُ خَلَقَهُمْ بُغْضًا لَهُمْ» قِيلَ: وَكَيْفَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «بِصِلَتِهِمْ أَرْحَامَهُمْ» (رواه الطبراني)

Artinya:Sesungguhnya Allah azza wa jalla akan meluaskan rumah-rumah sebuah kaum dan menambahkan harta-harta mereka, serta Allah tidak memandang mereka dengan pandangan murka seumur hidupnya. Para sahabat lantas bertanya: bagaimana caranya wahai Rasul? Rasulullah menjawab: dengan menyambung persaudaraan mereka.

 

Ibarat api, dendam dan permusuhan akan terus berkobar, terlebih memang syetan ikut mengipasi dan membesarkan wilayah permusuhan itu. Syetan akan terus menghembuskan angin segar yang menghanyutkan dengan segala tipu muslihatnya, yakni menutupi kesalahan dengan argumentasi kebenaran, memanipulasi kejahatan dengan dalih kemaslahatan. Dalam al-Quran, Allah berfirman:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ……. الآية (البقرة 268)

Artinya:Bahwa syetan menjanjikan kefakiran dan memerintahkan pada kalian untuk melakukan perbuatan-perbuatan keji…..

 

Allahu akbar 3X wa lillahil hamd

Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah SWT

Ketika rayuan syetan masuk ke dalam diri seseorang yang sedang berada di puncak emosional, maka rayuan itu menjelma menjadi sifat egois dan subjektif. Dalam kondisi tersebut, cap kesalahan selalu ditimpakan pada pihak lawan, yang muda merasa tidak mau disalahkan, yang tua merasa tidak merasa salah. Akhirnya, pintu maaf ditutup rapat-rapat, memberi maaf atau minimal enggan meminta maaf terlebih dahulu. Sifat egois inilah yang membuat orang rela bertahun-tahun memendam amarah dan permusuhan, meski kepada orang terdekat sekalipun. Orang seperti inilah yang tidak akan masuk surga, sebagaimana sabda Nabi:

إِنَّ جُبَيْرَ بْنَ مُطْعِمٍ، أَخْبَرَهُ: أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَاطِعٌ (البخاري)

Artinya:Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan persaudaraan

 

Hubungan persaudaraan yang macet, tidak saling memaafkan, menutup pintu ishlah, hanya bisa dicairkan melalui konsep itsar, yakni mengalah untuk menang, mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri, atau merelakan hilangnya keuntungan finansial demi memilih keuntungan persaudaraan. Dengan itsar, untuk meminta dan memberi maaf, seseorang tidak mempedulikan lagi apakah ia yang salah ataukah orang lain, tidak mempedulikan apakah ia yang lebih tua usianya ataukah lebih muda. Baginya, yang terpenting adalah mencairnya suasana yang tegang, rukunnya kembali hubungan dua insan mulia.

Berat memang, tapi dengan sedikit paksaan untuk meruntuhkan ego masing-masing, selanjutnya bahagia selamanya. Salah satu contoh itsar yang patut diteladani, adalah Iwan Setiawan (pemuda dari Batu Malang) memilih meninggalkan New York pada Juni 2010 dengan posisi terakhir sebagai direktur di Nielsen Consumer Research itu, setelah sempat kerja selama 10 tahun. Dia melakukannya dengan satu prinsip: ora bathi bondo ora opo-opo sing penting bathi seduluran (tidak dapat untung harta tidak masalah, yang penting untung persaudaraan). Sebuah contoh yang patut diteladani, di tengah maraknya fenomena kebalikannya, yaitu demi memperoleh warisan banyak, kadang seseorang rela mengorbankan persaudaraan dengan kerabat terdekat, seakan mensirnakan persaudaran yang telah dibina selama puluhan tahun.

Silaturahmi secara bahasa adalah menyambung persaudaraan (yang putus atau hampir putus), adapun caranya bisa dengan ber-anjangsana (berkunjung), bersalaman, bersedekah dan lain-lain. Namun jangan justru mengedepankan aspek lahiriah semata, dengan meminta maaf hanya di masa lebaran Idul Fitri saja. Lakukan permohonan maaf secara langsung, ketika melakukan kesalahan pada orang lain. Sekali saja menunda, niscaya akan memunculkan rasa dendam dan permusuhan berkepanjangan. Rasulullah bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَيْسَ الوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا (رواه البخاري)

Artinya: Orang yang bersilaturahim bukanlah orang yang melakukan kebaikan sepadan, tetapi ia adalah orang yang diputuskan persaudaraannya lalu ia menyambungnya (HR. Bukhari).

 

Silaturahmi seperti inilah yang akan mendatangkan rizki banyak dan berkah, serta umur yang panjang dan bermanfaat.

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ رِزْقُهُ ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَه (رواه البخاري)

Artinya:Barang siapa yang ingin dituangkan rizkinya atau ditunda kematiannya (dipanjangkan umurnya) maka bersilaturahmilah.

 

Alangkah baiknya setelah silaturahmi dilakukan, dan persaudaraan terjalin kembali, diikuti dengan hal-hal yang mendatangkan kasih sayang Allah swt, yakni menyayangi sesama, bersedekah dengan sesama, mengunjungi sesama. Sebagaimana firman Allah dalam hadis qudsi:

فَخَرَجْتُ حَتَّى لَقِيتُ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ فَذَكَرْتُ لَهُ حَدِيثَ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِي عَنْ رَبِّهِ يَقُولُ: «حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ » رواه أحمد

Artinya: Kasih sayangku yang sebenarnya akan aku berikan pada orang yang mencintai sesamanya, kasih sayangku yang sebenarnya akan aku berikan pada orang yang berbagi dengan sesamanya, Kasih sayangku yang sebenarnya akan aku berikan pada orang yang saling mengunjungi sesamanya (HR. Ahmad).

 

Semoga Allah memberikan pada kita kemampuan menjaga hubungan baik dengan Allah (hablum minallah) melalui ibadah, sekaligus menjaga hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minan naas) melalui pergaulan yang baik dan berbagi dengan sesama, amin.

 

أعوذُ باللهِ مِنَ الشيْطانِ الرَّجِيْمِ  قَدْ أفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىْ  وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى ، جَعَلَنَا اللهُ وَإيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَأدْخَلَنَا وَإيَّاكُمْ فِيْ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

الخطبة الثانية

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ (7x)

الْحَمدُ للهِ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَاركَاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأشْهَدُ أنْ لاَ إلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى حَقَّ التَّقْوَى. وَاعْلَمُوْا أنَّ اللهَ أمَرَكُمْ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالى إنَّ اللهَ وَمَلائِكَتِهِ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يَا أيُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ، الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأصْحَابِهِ أجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ سَيِّدِنَا أبي بَكْرِ نِ الصِّدِّيْقِ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ كُلِّ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ، الَّلهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأمْوَاتِ إنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الحْاَجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: