KISAH HIDUPKU (1)


Masa Kecilku

Sungguh sebuah karunia Allah SWT, aku dilahirkan tanggal 15 Agustus 1974 di tengah-tengah keluarga dan masyarakat yang islami. Disebut islami lantaran rumahku diapit dua pesantren (pesantren Darul Huda dan pesantren Darus Sa’adah). Masyarakatnya pun aktif melakukan tradisi religius ala Nahdiyyin, seperti membaca Maulid, Manaqib, haul ulama’, Dzikrul Ghafilin, Tahlil, serta berdiri beberapa jam’iyyah, semisal GP Ansor, Muslimat, Jam’iyyatul Hujjaj, Majlis Semaan Al-Quran, Majlis Khataman Al-Quran. Yakni di wilayah Karang Anyar (nama yang tidak pernah tertulis tapi populer) di jalan Indra Giri 38 (dulu jalan KH. Abdul Wahab) kelurahan Penataban RT.14 kecamatan Giri kabupaten Banyuwangi. Wilayah kel.Penataban saat kecilku, termasuk desa/kelurahan yang produktif. Hampir separo kebutuhan sayur-mayur di Banyuwangi kota, disupplay dari daerah ini. Kegiatan olahraga juga marak diselenggarakan di sini, khususnya sepak bola. Memang daerah ini diuntungkan oleh fasilitas kecamatan Giri yang bertempat di situ. Keuntungan itu berupa lapangan sepak bola yang representatif (dibanding desa lainnya), pemusatan kegiatan kecamatan di tempat itu, serta dekat dengan pusat kota Banyuwangi sekitar 3 Km.

Ayahku Sofwan lathif dan ibuku Sayu rakhmat merupakan orang yang sangat berjasa membesarkan aku dengan menanamkan kedisiplinan untuk sekolah dan ngaji, meski kondisi keuangan keluarga pas-pasan dan ilmu yang sangat kurang. Ayah dan ibu termasuk buta huruf arab dan latin. Beliau berdua tidak tamat Sekolah Rakyat (SD zaman Jepang), apalagi mengenyam pendidikan pesantren. Tapi saya heran, banyak surat dari al-Quran yang beliau hafal (seperti surat Yasin, Al-Mulk, Ar-Rahman, Al-Waqi’ah), dan beliau beristiqamah membacanya setiap ba’da maghrib. Mungkin keikhlasan dan doanyalah yang menjadikan putra-putrinya kelak menjadi orang sukses serta shalih shalihah.

Masih terngiang dalam memori saya, betapa orangtua saya yang minim ilmu agama itu ternyata dalam pengamalan agama jauh melampaui orang yang pernah belajar ilmu agama seperti saya. Hampir setiap menjelang tidur beliau berdua menyempatkan diri membaca wiridz sampai tidur. Sementara saya lebih banyak terninabobokkan oleh televisi, musik dan radio. Atau tidur dalam kondisi membaca atau kecapean buat proposal atau artikel. Semoga saya segera bisa meniru religiusitas beliau, allahumma ighfir lahuma, Amin.

Kekuatan kel. Penataban ini sesungguhnya karena “barokah” dari para ulama’ yang ada serta lima pesantren, yaitu: (1) pesantren Darul Huda (didirikan oleh KH. Abd Wahab dan dilanjutkan KH. Zawawi Wahab dan kini diasuh oleh anak dan menantunya Ustadz Alimi dan Ustadz Roni dari Jepara), (2) pesantren Darussalam (didirikan oleh KH. Abdus Salam, diteruskan putranya K. Ahmad, namun kini vacum tidak ada santri dan tidak ada kegiatan, sungguh sangat disayangkan). Tidak jauh dari pesantren Darussalam terdapat Pesantren Putri, yaitu (3) pesantren H. Hilmiyah yang diasuh oleh Nyai H. Hilmiyah dan Ust. Junaidi (ketika biografi ini ditulis –Agustus 2009-beliau berdua masih terbaring sakit, semoga cepat disembuhkan Allah atau diberikan gelar husnul khatimah kalau memang saatnya dipanggil). Pesantren ini juga hampir punah, menunggu sentuhan tangan-tangan kreatif, cerdas dan ikhlas untuk menumbuhkan kembali. (4) Pesantren putri Nur Cahaya (didirikan oleh Alm. Nyai Jazilah, namun sekarang hanya dihuni segelintir santri saja, menantunya lebih suka mendirikan pesantren sendiri daripada meneruskan mertuanya). (5) Pesantren Darus Sa’adah. Pesantren ini diasuh oleh K. Hariri (Cuma karena berasal Madura dan mayoritas santrinya dari etnis Madura, beliau lebih terkenal “bindere Hariri).

Pepatah mengatakan hilang satu tumbuh seribu, dari empat tersebut relatif kini hanya satu yang masih survive yaitu pesantren Darul huda. Namun, tenggelamnya tiga pesantren sisanya, oleh Allah diganti tumbuhnya dua pesantren baru, yaitu: pesantren al-Ihsan dan pesantren al-Quran “Darul furqon” yang diasuh oleh dua kyai muda, Kyai Mursyidi dan Kyai Baihaqi. Saya masih yakin Allah masih akan menambah lagi jumlah itu tentu dengan kualitas yang lebih baik.

Masa kecil saya habis untuk bermain dan menimba ilmu di dekat rumah. Belajar ngaji Alif, Ba’, Ta’ di Pak Nasuki, Haji Karim, Haji Thoyyib, pak Ikhsan Aziz dan di Ustadz Juwaini, sambil belajar di Madrasah Ibtidaiyyah “Darul Huda” (semoga madrasah ini tetap abadi sepanjang masa). Di sinilah saya pertama kali diperkenalkan cerita kancil oleh Pak Zaini (alm.), hukum nun mati dan tanwin oleh Pak Imik, an-nadlofatu minal iman dan hadis ringan lainnya oleh Ustadz Kahfi (alm.), sejarah perang Badar dan uhud oleh Pak Mukrom (beliau sampai saat ini masih aktif mengajar meski dengan gaji kurang dari 100 rb, semoga Allah membalas keistiqomahan beliau). Juga ada pak Sulhak, pak khudori, bu Endang, pak mustofa.

3 Responses

  1. selamat menikmati

  2. subhanallah….kisah hidup ustad ni patut di contoh…
    mudah-mudahan husna bisa seperti ustad…

    • Amin

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: