KISAH HIDUPKU (10)


Empat tahun berkelana Akademik di Gajayana 50

Dua tahun pertama kuliah IAIN Sunan Ampel (sekarang UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), saya merasakan kesan bahwa kuliah itu melelahkan, monoton, pemborosan waktu. Hal itu terjadi karena saya berangkat dari Pesantren Watugede jam 05.30 sampai di kampus sekitar jam 07.00. Perkuliahannya pun kurang teratur, kadang 1 MK, kadang 2 atau 3. Seringkali waktu jeda terlalu panjang, jam kesatu masuk kemudian baru ada kuliah lagi sore hari jam16.00. Saya dan teman-teman yang rumahnya jauh memilih tiduran di masjid Tarbiyah.Bila teman-teman pada aktif berorganisasi, berseminar, berdiskusi usai kuliah, maka saya terburu-buru pulang ke pesantren (pada semester 1-4) dan ke SAC Ashabul Kahfi (pada semester 5-6) agar tidak kemalaman. Pernah satu, dua hari saya tidak pulang ke pesantren, guna merasakan suasana kos-kosan seputar kampus atau pergi ke rental komputer sampai larut malam. Ku lihat lalu lalang mahasiswa ada yang berpacaran, bersendau gurau di warung-warung dan ada juga yang bermain musik dengan bernyanyi keras.

Sepintas saya merasakan indahnya kebebasan itu. Para mahasiswa jauh dari pengawasan orang tua, apalagi usia mereka merupakan usia berseminya rasa saling cinta diantara mereka. Mereka bebas pilih teman jalan, teman belajar dan teman cangkruk. Perasaan senang tersebut ternyata tidak bertahan lama, satu hari saja dalam kondisi bebas semacam itu, saya merasakan kejenuhan dan perlawanan dari dalam nurani saya, sehingga sedikitpun tidak terbersit dalam hati saya untuk pindah ke tempat kos.

Pada semester ke 5-6, relatif keletihan saya dalam beraktifitas sehari-hari terkurangi. Saya tinggal di Ashabul Kahfi yang hanya berjarak 2 KM dari kampus. Jalan kaki ke kampus hanya ditempuh maksimal 15 menit atau 5 menit dengan angkot. Kondisi tersebut membuat saya mulai ikut-ikut berorganisasi meski belum maksimal di HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) jurusan pendidikan bahasa Arab tahun 1996, saat itu diketuai mas Khoirul Mawahib. Beberapa seminar dan kajian kebahasan mulai sering saya ikuti. Kendatipun begitu, sore hari saya sudah harus kembali Ashabul kahfi untuk mengajar ngaji anak-anak kecil sampai malam hari.

Mungkin satu-satunya dosen yang memberikan banyak input kebahasaan dan keislaman adalah ust. Marzuqi. Dari beliaulah saya mulai banyak berkenalan dengan teks-teks bahasa Arab modern dari majalah, buku ilmiah sampai buku politik dan filsafat. Entah mengapa banyak materi kuliah yang hanya numpang lewat saja alias tidak membekas. Sejak semester satu saya memiliki target keilmuan tertentu. Itupun saya hanya mengandalkan perpustakaan. Seringkali buku yang saya pinjam itu bukan buku yang dianjurkan oleh dosen. Akan tetapi, buku yang saya pinjam adalah menjadi target penguasaan saya saat itu. Misalnya, semester ini saya harus bisa ilmu balaghah, maka setiap ke perpus saya pinjam buku tersebut. Bahkan, sering saya ke perpus itu hanya ingin mencari istilah yang tidak saya ketahui dari koran, buku ilmiah dll.

Anehnya, meski di jurusan bahasa Arab, saya lebih menguasai bidang tajwid dan qiraat sab’ah daripada bidang kebahasaaraban. Konsern pada bidang qiraat ini saya lanjutnya dalam penulisan skripsi. Alhamdulillah tiga bulanan berkonsentrasi, akhirnya saya bisa tuntaskan skripsi. Pada saat itu belum populer software office Arab, terpaksa saya tulis tangan. Syukurlah bahwa Allah memberi saya kemampuan menulis kaligrafi versi naskhi, sehingga lumayanlah hasilnya jelas dan enak untuk dibaca.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: