KISAH HIDUPKU (12)


Setahun Bertualang Ilmu di Ibu Kota

Memang hidup ini penuh liku. Hanya berbekal ratusan ribu saja saya bersama mas Syamsul Ulum, Saiful Mustofa dan Slamet Daroini (mereka sekarang dosen UIN Malang) nekat pergi ke Ibu Kota guna mendaftar dan ikut tes seleksi. Pergi kesana dengan naik kereta Matarmaja sampai pasar Senen dan menginap di masjid Istiqlal sekitar dua hari. Makannya selalu ke Warteg dan jalan-jalan pakai KRL (kereta listrik). Satu-satunya hiburan saya dan teman-teman yaitu Monas. Untungnya paman mas Syamsul, pak Nurul Murtadlo, sedang menempuh s3 di Universitas Indonesia dan kos di daerah Cikini, sehingga kita berdua ikut numpang sekitar 3 hari.Namun, takdir berbicara lain, mas Syamsul dan Syaiful belum beruntung, tidak diterima di LIPIA. Saya sebetulnya pesimis untuk bisa diterima, kenapa? Kemampuan kalam saya sangat lemah, lebih-lebih dites oleh native speaker dari Saudi dan Mesir. Luar biasanya, ternyata penguji hanya bertanya: madza tuallim? Saya jawab: uallim quran. Mereka tanya lagi: madza istimror hadzihil ayah….. dst. Jadi saya terselamatkan oleh al-Quran dan saya lolos bersama 30 mahasiswa lain seluruh Indonesia dari 300-an peserta ujian.

Di LIPIA saya merasakan perkembangan penguasaan bahasa Arab saya relatif pesat. Ada banyak faktor yang mempengaruhi, diantaranya kita dipaksa untuk mendengar ucapan bahasa Arab dari pemilik bahasa dan berbicara dengan mereka. Terlebih lagi saya tinggal di asrama satu kamar dengan 6 mahasiswa I’dadul lughah. Hampir tiap malam kita adakan munaqashah berbahasa Arab dengan membahas hadis dari kitab riyadus sholihin. Namun pada sisi lain, saya merasa tidak nyaman dengan suhu Jakarta yang sangat panas. Saking panasnya hampir tiap tidur malam saya melepas baju dan tidur di atas lantai, tepat di bawah kipas besar dengan semua jendela terbuka. Jarak antara kampus (di Salemba) dan asrama (Bukit Duri) juga jauh dapat ditempuh 30 menit pada pagi hari dan 90 menit lebih pada sore hari. Hampir tiap pagi saya pergi ke kawasan Senayan, tepatnya di British Council, hanya untuk baca-baca buku berbahasa Inggris dan latihan listening. Atau kalau tidak, saya pergi ke Perpustakaan Nasional di sebelah kampus guna baca-baca koran-koran lokal maupun internasional.

Demikian juga halnya pada hari libur, hari sabtu minggu. Selalu saya manfaatkan untuk jalan-jalan ke tempat wisata seperti Ragunan, Ancol, TMII, Kebon Raya Bogor, kampus UIN Ciputat, Masjid Istiqlal dll. Hal yang menarik bahwa selama di Jakarta saya kemanapun pergi selalu membawa tas besar yang berisi: sebotol air putih, sebungkus nasi warteg, plastik tempat sandal, payung dan kertas koran. Air putih biasa untuk mengobati rasa haus dan ngirit, sebungkus nasi warteg untuk mengobati rasa lapar dan ngirit (cukup Rp. 1200 tahun 1999, daripada beli warung lain 3 x lipat). Plastik digunakan ketika di masjid sandal bisa lebih aman dan ngirit tanpa dititipkan, payung sebagai antisipasi hujan dan kertas koran untuk duduk-duduk di Monas.

Syukur alhamdulillah selama di LIPIA, orang tua di rumah tidak lagi terbebani dengan memberi uang bulanan. Meski beasiswa yang saya terima hanya 200 riyal (sekitar 500 rb untuk kurs rupiah saat itu). Saya bisa beli buku lebih dari 20 judul, bahkan masih punya tabungan sekitar 2 juta ketika pulang.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: