KISAH HIDUPKU (14)


Kembali Turun Gunung Ke Malang

Bulan Juni 1999, usai diwisuda sebenarnya saya tidak berniat untuk pulang kampung. Saya mencoba mendaftar S2 di Fakultas Filsafat Universitas Indonesia ternyata keburu ditutup. Kemudian saya alihkan niat saya untuk mendaftar S2 di IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN Jakarta). Formulir sudah saya dapatkan, surat rekomendasi dari 2 orang sudah saya minta dari dosen saya di Malang. Motivasi utama kuliah di Jakarta adalah harapan yang tinggi untuk mendapatkan beasiswa. Belum sempat saya kembalikan formulir, ada info dari beberapa dosen di STAIN Malang (UIN Malang) bahwa di kampus tempat saya kuliah S1 dulu akan membuka program pascasarjana dan memberikan beasiswa untuk mahasiswanya.Mendengar info tersebut, saya berubah pikiran dan memutuskan untuk kuliah di Malang sambil cari pekerjaan di sana. Setibanya di Malang, saya tinggal di kosan dulu di rumah pak Tohari sebelah utara Pesantren Sabilur Rosyad. Di sana saya nyantri lagi pada Ust. Marzuqi, bahkan ikut membantu pembangunan pesantren. Oleh beliau, saya disarankan untuk mendaftar sebagai dosen luar biasa pada Program Khusus Pembelajaran Bahasa Arab (PKPBA) di STAIN Malang. Saya sangat berterima kasih kepada Ust. Marzuqi yang memperkenal saya dengan beberapa dosen dan meyakinkan mereka bahwa saya layak menjadi dosen PKPBA.

Setelah memasukkan surat lamaran kerja, akhirnya saya diundang untuk ikut seleksi. Seleksi dilaksanakan mulai pagi jam 8 sampai jam 4 sore dan diikuti oleh sekitar 30 orang, 6 diantaranya tamatan S1 Al-Azhar Mesir, dan 1 orang tamatan S2 Pakistan. Dari jumlah tersebut, hanya akan diambil 15 orang saja. Materi ujian cukup lengkap; ada tes kitabah, qiroah, istima’ dan kalam. Ujian tersebut saya lalui dengan lancar, meski beberapa tes saya kurang optimis dapat nilai baik.

Seminggu setelah itu, ibu saya tercinta berpulang ke hadirat Allah, dan saya harus ke Banyuwangi dalam rangka itu. Empat hari berikutnya ada informasi dari Malang, ternyata saya mendapatkan nilai tes tertinggi. Hal ini sangat mengejutkan sekaligus membahagiakan saya. Sebab, selepas dapat nilai NEM tertinggi se Madrasah Ibtidaiyah “Darul Huda”, saya tidak pernah lagi berprestasi di tingkat SLTP, SLTA maupun perguruan tinggi. Saya menyadari itu sebagai takdir kemampuan saya; IQ pas-pasan dan belajar kurang sungguh-sungguh. Saya sempat berpikir mungkin ini adalah buah dari ketulusan doa orang tua saya dan juga guru-guru saya dulu.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: