KISAH HIDUPKU (15)


Dua Tahun dalam Dualisme Belajar dan Mengajar 

Pada Agustus 1999, saya memulai aktifitas sebagai dosen Bahasa Arab, sekaligus menjadi mahasiswa di program pascasarjana. Angkatan pertama S2 saya, ditemani 10 orang (Sutaman, Abdul Hamid, Tonthowi, Bisri, Slamet, Uril, Masyhur, syamsul, Fajri, Haris). Pagi hari jam 07.00 sudah harus berangkat dari Pesantren Gasek dan baru selesai jam 11.00 mulai Senin sampai Kamis, selepas itu kadang pergi ke perpus atau mengerjakan tugas rutin kuliah. Maklum, kuliah S2 itu identik dengan tugas dan presentasi, hingga beberapa dosen malas memberi penjelasan sepanjang perkuliahan. Entah belum siap ngajar atau ingin lebih taat pada sistem. Tepat jam 14.00 saya sudah harus berada di depan kelas untuk mengajar, sampai jam 20.00. Bisa dibayangkan betapa letihnya keseharian aktifitasku. Saat itu gajiku Rp. 5000 perjam perkuliahan (90 menit). Perkuliahan PKPBA dibagi menjadi 3 jam (14.00 – 15.30, 16.00-17.30, dan 18.30-20.00). Andaikan masuk tiap hari, senin – jumat, gajiku hanya 3x5x5000=75.000 dan tidak ada uang transport. Tepat sekali, jika pak Imam Suprayogo (mantan ketua STAIN Malang) mengatakan bahwa para dosen PKPBA adalah para mujahid (pejuang sejati) dan belum ada lembaga lain yang sukses menciptakan pejuang-pejuang semacam itu.Sisi lain, beasiswa yang santer dijanjikan tidak kunjung jelas apalagi cair. Namun demikian, ternyata Allah maha kaya, seingat saya belum pernah kesulitan cari makan, transport, fotokopi materi dll dan belum pernah terbelit hutang. Beruntung saya masih punya simpanan dari LIPIA dulu yang cukup untuk bayar SPP semester pertama. Sebetulnya saya sangat menikmati perkuliahan, hanya saja kekurang profesionalan lembaga dalam memilih dosen menjadikan mahasiswa sebagai lahan percobaan. Bayangkan, S2 bahasa Arab banyak diajar oleh pakar-pakar bahasa Inggris, sehingga terkesan dipaksakan. Bahkan beberapa dosen sempat didemo dan akhirnya dinonaktifkan.

Satu dosen yang sangat elegan dan smart masih terus terngiang dalam ingatan, yaitu Prof. Dr. Abdul Wahab (alm). Kendatipun pakar semantik Inggris,  beliau selalu memberi kesempatan teman-teman untuk mencari padanan dalam bahasa Arab. Kesantunan dan kesetiaan melayani kami yang mayoritas lemah dalam bahasa Inggris menjadikannya sebagai sosok pengajar ideal. Kami semua pernah juga diberikan kejutan kuliah di Restoran dan semua biaya beliau yang tanggung.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: