KISAH HIDUPKU (16)


Bertemu dengan pendamping hidup, Antara Magis dan Fakta

Pengalaman bercinta adalah pengalaman terindah dalam hidup, kata orang bijak. Janganlah diingkari apa yang tuhan beri, itulah kutipan senandung Meggy Z. Sejak duduk di bangku Ibtidaiyah sampai kuliah, saya tidak bisa ingkari adanya getaran-getaran perasaan terhadap seorang wanita. Kadang getaran itu bersambut, sering terpendam begitu saja dan pernah juga tertolak. Itulah romantika indah tak terlupakan. Namun demikian, hidup itu bagai kapal yang tidak selamanya terombang-ambing di tengah samudra luas. Pada saatnya ia harus berlabuh dan menghentikan petualangan.Pasca comeback saya (dari Jakarta) ke STAIN Malang, sering saya berpapasan dengan adik kelas, yakni seorang mahasiswi yang manis dan smart asal Trenggalek, namanya Sri Hidayati. Setiap kali bertemu dengannya, selalu saja dia menanyakan hal-hal terkait masalah akademis. Lama-lama nurani saya berbicara:”usia saya sudah 25 tahun, saatnya untuk cari pendamping. Seandainya dia mau dengan saya mungkin, pasti saya juga mau dengannya. Tapi bagaimana saya memulai berbicara untuk mengungkap semua perasaan tersebut.

Suatu ketika ust. Marzuqi memberi tahu bahwa dia curhat tentang jodoh dan mohon di-istikharah-kan. Pada saat yang sama saya juga melakukan istikharah, siapa tahu dia cocok dengan saya meski belum ada pembicaraan apapun. Malam itu, usai istikharah saya tidur dan bermimpi melihat kolam yang dipenuhi debu. Lalu saya coba menyentuh kolam itu. Ternyata kolam tersebut sangat jernih dan memiliki banyak ikan yang indah. Usai terbangun, saya coba menafsirkan mimpi tersebut. Katanya, air mengalir itu simbol rizqi, ikan warna-warni itu simbol kesuburan seorang wanita dan debu yang menyelimuti kolam adalah simbol ujian yang tidak terlalu berat. Setelah itu saya menyimpulkan sendiri bahwa si gadis tersebut cocok bagi saya.

Tanpa berpikir panjang, di sela-sela mengikuti pengajian Ust. Marzuqi di Masjid Poltek Joyo Grand, saya memberanikan diri untuk menceritakan mimpi dan ta’wilnya pada beliau. Ternyata beliau juga mendukung dan akan menyampaikannya pada si gadis tersebut. Akhirnya, dia membuka pintu negosiasi yang dimediatori ust. Marzuqi. Sejak saat itulah diantara saya dan dia ada hubungan emosional yang semakin baik. Tiga bulan berikutnya keluarga saya melamar secara resmi dan akhirnya menjadi istri saya hingga saat ini dan semoga selamanya.

Belakangan dia cerita, bahwa sebelum memutuskan untuk curhat pada Ust. Marzuqi, dia sering pada  malam Jum’at mengamalkan bacaan surat Yasin  sebanyak 40 kali, terutama ketika banyak didera masalah. Beberapa kali usai membaca amalan tersebut dia bermimpi dipanggil ust. Marzuqi agar mau berkunjung ke pesantrennya di Gasek. Karena seringnya itulah dia penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi ketika sampai di sana. Mungkin ini cara Allah mempertemukan saya dengan dia, kala lidah tak kuasa tuk berbicara dan saat hati tak kuasa tuk membendung perasaan cinta yang bersemi. Alhasil, tepat tanggal 20 Juli 2000 jam 11 di Dusun Kedung Maron Desa Mlinjon Kec. Karangan Trenggalek, saya bersanding dengan istri tercinta di pelaminan dengan maskawin seperangkat alat shalat dan uang Rp. 100.000, murahkan khan?

Ada beberapa kejadian unik pada hari pernikahan. Jauh sebelum hari H saya sudah mempersiapkan para pengisi acara. Ust. Marzuqi sebagai penceramah, Ali Mahsun sebagai qori’ dan ust. Murtadlo sebagai wakil mempelai putra. 24 jam sebelum acara, saya masih di Malang menunggu rombongan dari Banyuwangi yang rencananya akan datang menjelang Maghrib. Satu demi satu berita tidak enak datang. Ust. Marzuqi membatalkan hadir lantaran harus mengikuti Diklat Prajabatan di Jalan Kawi Malang. Ust. Ali Mahsun secara mendadak juga membatalkan karena ada acara di Blora Jateng. Ust. Murtadlo bisa ikut dengan syarat ada mobil rombongan yang ke Trenggalek. Lebih mengenaskan lagi, mobil rombongan keluarga Banyuwangi mogok di daerah Singosari sampai pagi hari, padahal pengantin putra harus sudah sampai ke lokasi jam 8 pagi untuk kemudian dirias.

Setelah sampai jam 6 pagi mobil rombongan masih belum bisa jalan, saya terpaksa naik bus umum ke Trenggalek dengan memakai jaket KKN 97 yang sudah kusam. Jam menunjukkan pukul 10.00, belum juga saya sampai di lokasi, padahal tertulis di undangan bahwa akad nikah dilaksanakan tepat pukul 10.00. Baru satu jam berikutnya saya datang dengan mengendarai motor ojek. Para undangan sungguh terkejut ketika melihat pengantinnya pakai jaket kusam, naik ojek tanpa diikuti keluarga dan terlambat lagi. Meski demikian, acara berlangsung khidmat dan lancar.

Pada saat yang sama, mayoritas undangan dari Malang dan Pasuruan batal datang akibat langka BBM dan antrian panjang, tapi alhamdulillah beberapa dari mereka bisa datang meski pada jam 9 malam. Mungkin ini makna dari mimpi saya dulu, kolam yang berselimutkan debu.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: