KISAH HIDUPKU (17)


Meniti Tangga Suka dan duka dalam rumah tangga pemula

Sesaat setelah pesta usai, saya dan istri merasakan indahnya perkawinan dan manisnya kebersamaan. Kebetulan saat itu saya libur dua minggu, jadi relatif tidak ada aktifitas yang menghalangi bulan madu kami. Selama dua minggu itu kami berada di rumah mertua, Trenggalek. Dari pagi hingga sore hari, kegiataan kami hanya makan, tidur, “manten anyaran”, anjangsana, nonton teve, canda dengan keluarga. Bahkan menu makan saya sangat berlebihan, kadang makan sampai 4-5 kali sehari. Lauknya juga bebas, bisa ambil sendiri telor atau ayam dari kandang belakang rumah. Sering sekali makan lauknya 5 telor, maklum gratis dan cangkangnya agak rusak (biasanya tidak laku dijual). Maka tak heran, jika berat badan saya meluncur dari 70 Kg menjadi 80 Kg dalam waktu yang singkat.Dua minggu berikutnya giliran diadakan walimah di Banyuwangi tepatnya 4 Agustus 2000, satu rombongan bis besar (berisi sekitar 55 orang) dari Trenggalek ikut ke Banyuwangi. Bagi masyarakat Banyuwangi jumlah pengiring sebanyak itu tidak lazim, sehingga bagian dapur sempat kalang kabut menyiapkan segala sesuatunya. Usai acara itu, kami berdua juga melakukan anjangsana ke sanak famili. Hanya saja dari sisi makanan tidak sebebas di Trenggalek. Namun di Banyuwangi relatif banyak tempat wisata, ada pantai THR (taman hiburan rakyat) Banyuwangi, Wisata Kali Kotak (kolam renang), Wisata Watu Dodol dll.

Seminggu berikutnya mulailah saya dan istri menjalani hidup berumah tangga yang sesungguhnya, yakni hidup di rumah kos (hanya satu kamar) di sebelah utara Pesantren Sabilur Rasyad Gasek. Saya tidak mempersiapkan apapun untuk menyambut kedatangan istri. Untungnya, istri jauh-jauh hari sudah mengumpulkan kebutuhan rumah tangga, seperti magic jar, tape recorder, dari hasil mengetikkan skripsi temannya. Meski sudah mengajar di STAIN sejak 1999, saya tidak memiliki simpanan apa-apa, maklum dosen honorer alias DTT (Dosen Tidak Tetap). Gaji saya saat itu hanya 150 rb perbulan, dari uang itu untuk bayar kos 30 rb dan transport dari Gasek ke kampus minimal 2 rb perhari. Pada waktu yang sama saya harus membeli dan fotokopi buku untuk studi S2 dan lainnya. Patut saya syukuri, meski kondisinya seperti ini, tidak pernah kami berdua tidak makan dan berhutang ke tetangga. Mungkin inilah rahasia firman Allah: in yakunu fuqara yughnihimullah min fadlih (apabila orang yang menikah itu miskin, Allahlah yang akan membuat dia kaya).

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: