KISAH HIDUPKU (18)


Karunia Ilahi mulai terbuka lebar 

Seiring berjalannya waktu, rizqi kami mulai terbuka. Ada tawaran mengajar di Unisma, UYP Pasuruan, STIT Raden RahmatTerjemah al-Quran Istiqlal pertengahan tahun 2000. Alhamdulillah, empat bulan setelah menikah istri saya hamil. Entah kenapa tiba-tiba dia tidak lagi betah tinggal di rumah kos tersebut. Mungkin, karena kamar tempat kami tinggal itu dikelilingi kamar yang dihuni mahasiswa, atau karena pemilik rumah yang cerewet. Akhirnya mau tidak mau semakin mendekati persalinan semakin tidak tahan dan kepingin pindah. Saya mencoba cari rumah kontrakan yang murah di bawah satu juta setahun. Ternyata tidak ketemu, terpaksa saya cari rumah yang jauh dari kota dan kondisinya sangat sederhana bahkan sedikit kurang layak, yaitu di perumahan Vila Bukit Tidar dekat desa Genting. Maklum, harga kontraknya hanya 250 rb/tahun.Namun demikian, istri lebih memilih melahirkan di Trenggalek. Lahirlah anakku yang pertama Nafila Lana Amalia (Amalnya menjadi tabungan kami kedua orang tuanya). Sampai dia berusia 4 bulan, baru boleh pulang ke Malang. Selama 4 bulan itu, saya harus tinggal sendirian di kontrakan baru sambil menyelesaikan tesis S2. Awalnya karena tidak punya komputer, saya sering keluar rumah sampai larut malam. Akhirnya saya menyewa komputer teman 15 rb/hari selama 10 hari. Tanpa terasa selesai juga tesis saya dalam dua bahasa, Indonesia dan Arab. Saya percaya bahwa semangat tinggi untuk sukses akan mengecilkan cobaan yang begitu terjal. Kebetulan pembimbing S2 saya Prof. Baradja, beliau sangat disiplin, prosedural dan jeli. Berulang kali lembaran tesis saya dicorat-coret sampai hal yang remeh (seperti penulisan titik dan huruf kapital). Setiap konsultasi harus didahului kontak telepon dan janji, serta tempatnya harus di kamar khusus beliau. Teman saya Zaid bin Smeer, agak putus asa melihat tradisi pembimbingan beliau dan selesai agak lama. Sedikitpun saya tidak gentar untuk meladeni “keinginan” beliau. Modal itulah yang mempercepat saya menyelesaikan tesis.

Alangkah bahagianya saya, setelah istri dan anak pertama saya sudah serumah di gubuk sederhana. Tak lama kemudian saya diwisuda S2 tepat dua tahun kuliah melampaui semua teman saya yang sudah PNS di UIN Malang. Sempat ada sindiran: “untuk apa cepat selesai S2, kalau ijazahnya tidak segera dipakai” (saat itu saya belum PNS dan teman yang menyindir itu sudah PNS). Mungkin “kualat”, si penyindir itu baru lulus 4 tahun kemudian dan sempat dikaryawankan.

Tanpa diduga, setelah itu tahun 2002 saya mendapatkan tawaran penterjemahan dari tim peneliti Unisma melalui P Masykuri sebanyak 500 lb dengan kontrak 5000 perlembar, total 2,5 jt. Inilah awal kebangkitan ekonomi saya. 1 jt saya belikan Hp Nokia 3310 dan 1,5 jt saya belikan komputer bekas setara Pentium II. Sisi lain, saya mulai diberi kepercayaan untuk mengajar di Unisma dengan gaji seratusan ribu dan STIT Raden Rakhmat yang ditempatkan di Mts Wahid Hasyim Batu dengan gaji yang hampir sama. Satu-satunya alat transportasi saya adalah Suzuki Bravo 1997 pemberian mertua. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa punya Televisi Hitam Putih bekas seharga 150 rb dan rak buku sederhana (rakitan sendiri).

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: