KISAH HIDUPKU (19)


Kesempatan datang  ketika dalam kesempitan

Sampai tahun 2003, saya merasa belum puas bisa menghabiskan waktu saya, padahal mulai jam 11 pagi sampai jam 10 malam saya kerja. Sebab pagi hari, aktivitas saya kosong. Sampai-sampai saya pernah mengajukan lamaran ke MAN dan MIN di jalan Bandung, tapi belum beruntung. Saya juga pernah mengajukan lamaran PNS untuk Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) di UM tahun 2002, pada tahap administrasi saja saya gugur. Ijazah S2 PBA saya ternyata tidak bisa dipakai untuk formasi PAI. Pertengahan 2003 saya penuh optimisme mendaftar PNS formasi Dosen Sastra Arab di UIN Malang. Lagi-lagi, upaya saya kandas akibat pertanyaan saya yang jujur pada staf BAUK UIN dan jawaban yang kurang jujur. Pasalnya, daripada nanti saya gagal di seleksi administrasi lebih baik saya tanya dulu, apa boleh ijazah Pendidikan Bahasa Arab digunakan untuk pendaftaran formasi Sastra Arab? Beberapa teman telah menyarankan saya untuk coba-coba saja siapa tahu beruntung alias spekulasi. Tapi saya waswas dan menanyakan hal itu dan dijawab normatif: “tidak bisa”. Lalu saya menarik berkas saya dan mengurungkan niat saya untuk daftar. Belakangan, ternyata beberapa teman yang berijazah PBA seperti Taufiqur Rahman, Nurhadi bisa lolos jadi PNS dengan formasi Sastra Arab.Pantang menyerah, usai pencabutan berkas dari UIN saya meluncur ke STAIN Ponorogo untuk mengadu keberuntungan di sana bersama pak Mukhlas (kini Dosen di sana). Melawan panasnya terik matahari di langit Ponorogo ditambah dengan puasa yang saya jalani demi janin anak saya ke dua. Lagi-lagi keberuntungan belum berpihak pada saya, hanya gara-gara fotokopi KTP yang tidak dilegalisir saya tidak diberi kartu peserta ujian. Saya begitu kecewa lantaran belum bisa berkompetisi adu otak dengan kompetitor saya dan harus kalah sebelum bertanding. Kondisi murung tersebut tidak lama kemudian hilang seiring dengan munculnya peluang berikutnya dari UM yang mencari dosen PAI 4 orang dan PBA 1 orang. Trauma 2002 masih membayangi alam pikir saya, jangan-jangan gagal lagi di persyaratan administrasi. Ternyata setelah daftar, saya bisa dapat kartu peserta ujian dengan formasi PBA. Dalam pembicaraan santai dengan teman saya Khoirul Adib di Universitas Yudharta Pasuruan, menggoyahkan pendirian saya dan memutuskan untuk pindah ke formasi PAI.

Sebelum maju untuk pengurusan kepindahan formasi, saya begitu apriori dengan trauma saya tahun sebelumnya dan kekurangramahan staf yang saya rasakan di UIN Malang. Sungguh pengalaman yang di luar dugaan, staf UM dengan ramahnya menanyakan alasan kepindahan dan mengantarkan saya dengan sabar ke Kabag Kepegawaian untuk minta persetujuan itu dan alhamdulillah disetujui tanpa proses yang berbelit. Pada saat ujian, saya merasa sangat menguasai soal bahasa Inggris dan Agama, serta tes baca kitab dan praktek mengajar. Melihat kondisi itu, optimisme saya sangat tinggi sekitar 95%. Tapi rasa waswas gagal juga masih muncul. Maklum pesertanya mencapai 40 orang dan hanya diterima 4 orang saja. Mereka umumnya dari jurusan Tafsir, Ushuluddin, Syariah di IAIN terkemuka seperti IAIN Sunan Kalijaga, IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sementara saya berasal dari jurusan yang tidak linier dengan PAI, yaitu PBA. Sekian lama menunggu, akhirnya saya lolos dan lulus dengan peringkat nilai tertinggi. Spontan semua perasaan kegagalan saya sirna.

KISAH HIDUPKU (19)

Kesempatan datang  ketika dalam kesempitan

Sampai tahun 2003, saya merasa belum puas bisa menghabiskan waktu saya, padahal mulai jam 11 pagi sampai jam 10 malam saya kerja. Sebab pagi hari, aktivitas saya kosong. Sampai-sampai saya pernah mengajukan lamaran ke MAN dan MIN di jalan Bandung, tapi belum beruntung. Saya juga pernah mengajukan lamaran PNS untuk Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) di UM tahun 2002, pada tahap administrasi saja saya gugur. Ijazah S2 PBA saya ternyata tidak bisa dipakai untuk formasi PAI. Pertengahan 2003 saya penuh optimisme mendaftar PNS formasi Dosen Sastra Arab di UIN Malang. Lagi-lagi, upaya saya kandas akibat pertanyaan saya yang jujur pada staf BAUK UIN dan jawaban yang kurang jujur. Pasalnya, daripada nanti saya gagal di seleksi administrasi lebih baik saya tanya dulu, apa boleh ijazah Pendidikan Bahasa Arab digunakan untuk pendaftaran formasi Sastra Arab? Beberapa teman telah menyarankan saya untuk coba-coba saja siapa tahu beruntung alias spekulasi. Tapi saya waswas dan menanyakan hal itu dan dijawab normatif: “tidak bisa”. Lalu saya menarik berkas saya dan mengurungkan niat saya untuk daftar. Belakangan, ternyata beberapa teman yang berijazah PBA seperti Taufiqur Rahman, Nurhadi bisa lolos jadi PNS dengan formasi Sastra Arab.

Pantang menyerah, usai pencabutan berkas dari UIN saya meluncur ke STAIN Ponorogo untuk mengadu keberuntungan di sana bersama pak Mukhlas (kini Dosen di sana). Melawan panasnya terik matahari di langit Ponorogo ditambah dengan puasa yang saya jalani demi janin anak saya ke dua. Lagi-lagi keberuntungan belum berpihak pada saya, hanya gara-gara fotokopi KTP yang tidak dilegalisir saya tidak diberi kartu peserta ujian. Saya begitu kecewa lantaran belum bisa berkompetisi adu otak dengan kompetitor saya dan harus kalah sebelum bertanding. Kondisi murung tersebut tidak lama kemudian hilang seiring dengan munculnya peluang berikutnya dari UM yang mencari dosen PAI 4 orang dan PBA 1 orang. Trauma 2002 masih membayangi alam pikir saya, jangan-jangan gagal lagi di persyaratan administrasi. Ternyata setelah daftar, saya bisa dapat kartu peserta ujian dengan formasi PBA. Dalam pembicaraan santai dengan teman saya Khoirul Adib di Universitas Yudharta Pasuruan, menggoyahkan pendirian saya dan memutuskan untuk pindah ke formasi PAI.

Sebelum maju untuk pengurusan kepindahan formasi, saya begitu apriori dengan trauma saya tahun sebelumnya dan kekurangramahan staf yang saya rasakan di UIN Malang. Sungguh pengalaman yang di luar dugaan, staf UM dengan ramahnya menanyakan alasan kepindahan dan mengantarkan saya dengan sabar ke Kabag Kepegawaian untuk minta persetujuan itu dan alhamdulillah disetujui tanpa proses yang berbelit. Pada saat ujian, saya merasa sangat menguasai soal bahasa Inggris dan Agama, serta tes baca kitab dan praktek mengajar. Melihat kondisi itu, optimisme saya sangat tinggi sekitar 95%. Tapi rasa waswas gagal juga masih muncul. Maklum pesertanya mencapai 40 orang dan hanya diterima 4 orang saja. Mereka umumnya dari jurusan Tafsir, Ushuluddin, Syariah di IAIN terkemuka seperti IAIN Sunan Kalijaga, IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sementara saya berasal dari jurusan yang tidak linier dengan PAI, yaitu PBA. Sekian lama menunggu, akhirnya saya lolos dan lulus dengan peringkat nilai tertinggi. Spontan semua perasaan kegagalan saya sirna.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: