KISAH HIDUPKU (2)


Pendidikan Pertamaku

Satu lagi guru MI yang mengukirkan kata-kata dan ilmunya di hatiku sampai kini yaitu Ustadz Ihsan Aziz. Beliaulah yang memperkenalkan dan menanamkan kecintaanku pada bahasa Arab, cerita ruhani dan kaligrafi. Guru yang selalu dicintai siswa-siswinya melalui cerita dan dendangan spritual, wajah yang selalu tersenyum pada siapapun, serta kekuatan munajatnya di hadapan Allah swt. Namun pada akhirnya beliau harus pindah ke Cirebon karena menikah kembali dengan orang cirebon, setelah istri pertamanya meninggal. Semoga Allah memanjangkan umurnya. Guru lain yang tak kalah istimewa, ada pak Mukrom. Beliau sudah mengabdikan diri menjadi guru madrasah lebih dari 40 tahun meski hanya dengan gaji 100 rb dan sepeda ontel yang selalu menemaninya pulang pergi dari rumahnya yang berjarak sekitar 5 km, semoga Allah memperkaya beliau dengan kesehatan dan kebahagiaan abadi yang tak pernah lekang oleh perputaran zaman.Saya juga cukup bersyukur bisa berkawan dengan Rozikin, Muharrom, Subhan, Rois dll. Mereka teman main yang juga teman ngaji. Bersama mereka saya belajar hidup bersosial, berkawan, menghargai perbedaan. Dengan mereka pula saya belajar hidup mandiri, pergi kemana-mana tanpa minta ditemani orang tua. Setiap sore hari saya dan mereka membiasakan main bola di lapangan kecamatan Giri hingga menjelang adzan maghrib. Pasca Magrib langsung bersiap untuk mengaji dan tak lupa belajar kelompok sampai jam 9 malam. Rutinitas itu yang membuat saya bisa baca al-Quran, bisa mengikuti pelajaran sekolah. Sampai-sampai pernah mendapatkan juara II lomba tartil al-Quran tingkat kecamatan dan pernah mendapatkan Nilai Ujian Nasional tertinggi di sekolah. Padahal sebelumnya tidak pernah dapat rangking sama sekali. Bahkan saya pernah ditunjuk sekolah utnuk mengikuti cerdas cermat tingkat kecamatan dengan Asyrofi dan Ansori, meski tidak bisa menjawab satupun pertanyaan tentang P4 (pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila).

Setelah tamat Madrasah Ibtidaiyah, saya melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Banyuwangi. Sebetulnya tidak banyak hal baru yang saya dapatkan di sekolah ini. Namun ada satu guru yang sangat energik, yaitu guru fisika namanya pak Haryono, jalannya tegak, cepat. Bicaranya lantang, tegas, tanpa basa basi membuat kami semua para murid bersimpati pada guru ini. Ada hal menarik, yaitu ketika pak haryono ini memberi gelar saya Thomas Alpa Edison. Lantaran, kebodohan saya dari segi tampang, tapi ternyata diam-diam sering bisa menjawab soal. Thomas Edison merupakan simbol orang yang idiot, namun karena kerja kerasnya mampu menghasilkan temuan-temuan fenomenal seperti listrik dan sebagainya.

Sedangkan para guru senior seperti pak Tolhah, pak Hanifan, dll cukup disegani bukan karena kharismatiknya tapi memang sangat menakutkan sampai-sampai kami harus kerja keras mengerjakan PR (semoga Allah mengampuni mereka). Ternyata ada juga teman yang menjadi kreatif, pintar di bawah bimbingan mereka seperti si Ida, Agus, Yulianti dll. Saya sangat terbantu menguasai pelajaran jusru karena guru-guru ngaji di dekat rumah. Mereka adalah ustadz Mursyidi (tokoh muda yang genius yang mengajari saya dasar-dasar Nahwu Sharaf), ustadz Juwaini (qori’ yang mengantarkan saya menguasai ilmu tajwid dan penerapannya), ustadz Baihaqi (seorang hafidz yang memotivasi saya untuk bisa seperti dia). Tiga orang inilah yang berjasa besar membentuk kemampuan akademik saya dalam bidang bahasa Arab dan kealquranan.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: