KISAH HIDUPKU (22)


Menjadi Pembina BDM (Badan Dakwah Masjid) yang menantang

Suasana pembelajaran agama di perguruan tinggi umum sedikit berbeda dengan perguruan tinggi Islam seperti di UIN, IAIN, STAIN, dll. Satu dari sekian hal yang berbeda adalah dari aspek semangat religiusitas. Di UIN semangat religiusitas cenderung “adem ayem” alias biasa-biasa saja. Di sana mahasiswa tidak mendapatkan tantangan baru, karena semua muslim dan rata-rata alumni pesantren, jadi kondisinya tidak banyak berubah dari komunitas asal masing-masing mahasiswa.Di perguruan tinggi umum seperti Universitas Negeri Malang, di sana mahasiswa muslim berkompetisi dalam hal akademis maupun politis. Emosi keagamaan mudah tersulut oleh setiap peristiwa yang memarginalkan Islam. Sehingga, tidak heran organisasi-organisasi Pergerakan Islam mudah tumbuh subur di sana. Sebut saja ada gerakan Hizbut Tahrir, KAMMI, NII yang menyelinap dalam gerakan internal mahasiswa. Gerakan Islam moderat atau liberal, kurang diminati oleh mahasiswa PTU. Mereka lebih suka gerakan Islam yang mengedapankan “aksi dan reaksi” daripada sekedar “diskusi filosofis”.

Di Universitas Negeri Malang, terdapat unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang bernama BDM (Badan Dakwah Masjid). Sejak tahun 90-an, organisasi ini banyak diikuti aktifis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), bahkan menelorkan alumni yang berkiprah secara nasional di bawah bendera HTI. Meski tidak secara langsung terintegrasi di dalamnya, HTI cukup mewarnai setiap kegiatan yang diadakan. Namun, lama kelamaan, civitas akademik Universitas Negeri Malang terutama dosen-dosen Agama Islam dan jajaran pimpinan universitas, mulai merasa resah dengan kiprah yang diperankan selama ini. Misalnya mereka suka mengungkit keabsahan sistem demokrasi secara syar’I, mereka melakukan simpliflikasi solusi setiap persoalan dengan sistem khilafah, mereka lebih suka belajar Islam “idealis” daripada Islam “realistis”. Dalam konteks ini, mereka sering berbenturan dengan semangat Islam “akademis”, kearifan bertindak, toleransi dalam menyikapi perbedaan pendapat dari para dosen agama Islam dan kebijakan universitas.

Pada tahun 2005-2006, saya dipercaya teman-teman dosen PAI (pendidikan agama Islam) untuk ikut membina BDM, dengan satu harapan agar mereka kembali pada track yang benar, yakni menyemarakkan dakwah Islamiyah yang sejuk dan meningkatkan pemahaman keislaman yang bisa diterima semua pihak. Pada prakteknya memang susah untuk melakukan perubahan secara drastis. Mereka sering membangun sikap taqiyah “kepura-puraan” untuk menjalankan amanah dari para dosen dan pimpinan. Buktinya; kegiatan pengajian HTI masih intens dilakukan dan pertemuan LDK (lembaga dakwah kampus) tingkat nasional menjadi kendaraan silaturrahmi sesama aktifis HTI.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: