KISAH HIDUPKU (26)


Suka Duka Membangun Rumah Baru

Sebelum tinggal di VBT, mertuaku di Trenggalek telah membelikan aku dan keluarga satu kavling tanah sebelah barat Pondok Pesantren Sabilur Rasyad Dusun Gasek Ke. Karangbesuki Kec. Sukun Malang, tempat di mana aku pernah belajar di sana (1997-1998, 1999-2000), dan aku kos bersama istri rumah di dekatnya (2000-2001). Saya dan istri dapat tawaran tanah seluas 184 M2 dari keluarga H. Muslimin dengan harga 75 rb permeter. Tentu saat itu (thn 2000), kami belum mempunyai uang cash 14 jutaan. Untungnya si pemilik tanah memperbolehkan kami mengangsur hingga dua tahun-an. Setelah lunas, tanah kosong itu sesekali saya tanami jagung atau kacang dengan tenaga dan waktu yang terbatas. Selama menempat di VBT, tanah tersebut terlantar begitu saja tanpa ada tanaman di atasnya hingga tetangga sesekali memanfaatkannya untuk membuat batubata dan penyimpanan material bangunan. Baru 7 tahun kemudian (2008), dengan keuangan pas-pasan, saya memberanikan diri untuk memulai pembangunan meski hanya sebatas pondasi. Sekitar satu tahun pondasi itu terbengkalai, lalu keluarga menghadiahi kami tiga pohon jati di Trenggalek yang kemudian dijadikan kusen-kusen seluruh bangunan rumah, lagi-lagi untuk menebang dan menjadikan kusen saja butuh waktu lama, menunggu terkumpulnya uang ongkos tukang. Pada saat yang sama, saya sudah terlibat aktif dalam kegiatan penelitian tingkat nasional, sedikit demi sedikit kami membangun rumah hingga benar-benar selesai tahun 2011. Jadi butuh waktu membangun 3 tahun untuk penyelesaian, waktu yang lama ini sebenarnya bukan waktu yang sesungguhnya, tapi waktu terkumpulnya dana. Mungkin kalau sejak awal dana lancar paling lama 5 bulan sudah selesai.Dalam hal ini, saya sangat berterima kasih pada istri tercinta yang telah mendesain, mengawasi, mengatur keuangan pembangunan, praktis saya tidak terlibat hanya bagian cari uang atau cari hutangan saja. Kebahagian kami sungguh tiada tara saat rumah baru yang penuh perjuangan tersebut akhirnya jadi, seakan keringat dan air mata yang tercurah selama ini tidak sia-sia. Imam syafii pernah mengataka: Fanshab fainna ladzidzal aisyi fin nashobi (bekerja keraslah, karena indahnya hidup hanya bisa diraih oleh orang yang mendapatkannya dengan kerja keras).

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: