KISAH HIDUPKU (8)


Dua Tahun Yang Mengesankan Di Pondok Pesantren Darul Quran

Pada minggu pertama keberadaan saya di tempat ini (di bulan Juli 1993), saya relatif tersiksa dengan cuaca Malang yang sangat dingin sebagaimana biasanya di bulan Juli – Agustus, yakni sekitar 15 C di malam hari. Padahal sebelumnya, saya tinggal di Jember dan Banyuwangi yang notabene bercuaca panas. Saking dingin dan takutnya untuk buang hajat di tengah malam, pernah saya memberanikan diri untuk masuk ke kamar mandi pengasuh, semoga Allah memaafkan saya.Dengan semangat membara, mulailah saya menghafal Al-Quran dan menyetorkan hafalan langsung pada KH. Mustain dari Juz 1, kendatipun saya sudah hafal juz 29, 30, 1, 2, dan 3 sejak sekolah di bangku MAN. Dalam waktu dua bulan saja, saya sudah mencapai juz yang kedelapan, sampai teman-teman tidak ada yang percaya kalau bekal hafalan saya hanya sampai juz tiga saja dan itupun belum lancar. Biasanya untuk sampai juz delapan butuh waktu 8 s.d 12 bulan. Saya memang merencanakan apapun yang terjadi harus hafal 3 juz perbulan sehingga 10 bulan diharapkan selesai dan pada bulan ke 11 alias bulan Juli 1994 direncanakan sudah bisa daftar kuliah sebagaimana yang diharapkan orang tua dan keluarga. Rencana saya untuk menghafal ini sebetulnya kurang disetujui keluarga dengan alasan akan banyak waktu tersita dan otomatis belum bisa melanjutkan studi di perguruan tinggi. Akhirnya keluarga dengan berat hati mengizinkan saya untuk berhenti sekolah hanya satu tahun saja, baik selesai ataupun tidak. Berbekal motivasi itulah saya susun sedetail mungkin sebuah perencanaan agar tepat satu tahun hafalan saya sudah lunas.

Memang suka duka ikut mewarnai indahnya belajar di pesantren ini. Di pesantren ini saya memiliki beberapa teman istimewa yang sering membuat saya iri pada mereka. Mas Nahru (sekarang sebagai Pengasuh Pesantren Syafaatul Quran di daerah Langlang Singosari Malang) misalnya, dia memiliki tingkat kecerdasan dan keistiqomahan di atas rata-rata santri. Dia mampu menghafal Al-Quran dalam usia belasan tahun (sekitar kelas II SLTP) dan menyelesaikan hafalan Qiro’ah sab’ah (tujuah variasi bacaan Al-Quran) sebelum lulus Madrasah Aliyah Al-Ma’arif Singosari. Pada saat yang sama dia juga menguasai kitab kuning beserta ilmu alatnya (nahwu sharaf). Dia juga bisa menembus seleksi Universitas Brawijaya sebagai universitas negeri paforit di Malang dan sempat menjadi duta universitas tersebut dalam even cerdas cermat tingkat nasional. Yang lebih saya kagumi, dia sangat istiqomah bangun malam dan sholat malam dengan satu juz Al-Quran.

Temanku yang lain, Mas Syamsul Ulum (sekarang menjadi dosen Universitas Islam Negeri Malang) juga tergolong orang unik. Dia memiliki kharisma di kalangan para santri dan menjadi orang kepercayaan kyai. Dia juga menjadi idola para santri putri, sehingga setiap kali mengajar di madrasah diniyah selalu peserta putri membludak. Dia memang orang yang berpenampilan tenang, penuh kedewasaan, sopan dan bersahaja. Dia juga secara istiqomah bangun malam dan menjadi orang yang selalu membangunkan para santri agar bangun pagi. Di sini saya berkenalan sosok ustadz unik, yaitu Ustadz Yahya dari Lamongan (sekarang menjadi salah satu pengasuh Pesantren Tambakberas di Jombang. Beliau memiliki banyak kelebihan: hafalannya yang lancar, kemampuan kitab kuning yang luar biasa, ceramahnya juga sangat bagus, serta keistiqomahan dan kesederahanaannya. Saya juga mengenal sosok abdi dalem yang ikhlas seperti Nasikhuddin (Mojokerto), Ali (Bali), Syakur (Malang), Yusuf (Jombang).

Satu hal yang masih teringat dari pesan bapak kyai: “seorang penghafal Al-Quran jangan pernah mengharap rizki dari Al-Quran, tapi bekerjalah sebagaimana umumnya orang bekerja dan jangan pernah canggung untuk bekerja apapun”. Beliau juga mengajari kami para santri untuk bekerja. Setelah setoran hafalan pagi hari, sebagian dari santri ada yang menjual es, kerupuk dan makanan lainnya sampai ke lur kota. Bahkan beliau sendiri berbisnis jual beli mobil dan tanah.

Pada empat bulan pertama saya diberi kepercayaan untuk mengajar madrasah diniyah dan mengelola sablon plastik milik pesantren. Kadang saya dan teman-teman juga diberi tugas untuk mencari dana pembangunan sampai ke Bangil, Pasuruan dll. Di sela-sela saya berkonsentrasi menghafal, sering ada kegiatan kerja bakti angkat pasir, bata dll. Meski demikian banyak kegiatan, alhamdulillah dalam waktu 11 bulan saya sudah menyelesaikan 30 juz. Kemudian saya diwisuda bersama 4 teman laki-laki dan 3 teman perempuan. Wisuda tersebut dihadiri oleh KH. Tolchah Hasan, KH. Bashori Alwi Singosari Malang, dan KH. Mufid Mas’ud Yogyakarta.

Pernah satu ketika, karena seringnya duduk dan kurang olah raga, saya menderita sakit setengah lumpuh (rheumatic). Untuk berjalan 3 langkah saja capeknya luar biasa, padahal setiap menunaikan shalat Jum’at, saya harus jalan kaki ke mesjid yang jaraknya 1,5 Km dari pesantren. Selama lebih dari dua bulan saya menderita penyakit tersebut sampai-sampai pengasuh membelikan obat untuk saya. Namun demikian, tak seharipun saya berhenti untuk menambah hafalan dan melancarkannya.

Pada bulan ke 12, saya mulai mendaftar kuliah di IKIP (sekarang UM) dan IAIN (sekarang UIN Maulana Malik Ibrahim) dengan mengikuti seleksi UMPTN dan seleksi lokal di IAIN). Ternyata saya hanya diterima di IAIN. Mulailah kegiatan saya semakin padat. Setiap hari saya harus berangkat pagi hari jam 05.30, sebab perjalanan  dari pesantren ke kampus sekitar satu jam. Dan pulangnya rata-rata jam 17.00 sore. Rutinitas semacam itu saya lakukan selama tahun 1994-1996.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: