KISAH HIDUPKU (9)


Setahun di Goa ASC (Al-Quran Study Club “Ashabul Kahfi”)

Pertengahan tahun 2006 atau tepatnya pada semester V, saya diberikan kepercayaan pengasuh untuk mengajar di Al-Quran Study Club (ASC) Ashabul Kahfi milik pengusaha Tahu Bethek bapak H. Abdullah. Di tempat baru ini saya merasakan suasana yang lebih rileks. Jarak dengan kampus yang tidak terlalu jauh dan menerapkan ilmu pada anak-anak kecil menjadikan saya lebih enjoy. Di sana saya membangun kebersamaan dalam suka dan duka dengan para asatidz dan ustadzat. Ada ust. Azhar (dari Gresik, sekarang jadi menantu pemilik Yayasan), ust. Nasir (dari Bojonegoro), ust. Triman Sholehan (dari kediri), ust. Ali Ridlo (dari Kediri), ust. Budi (dari Malang), dan ada ustdh. Nurik Hikmawati (dari Kediri), ustdh. Ummu Khoiro (dari Lamongan) dll. Bersama mereka saya belajar mengorganisir sebuah lembaga dan belajar bersabar mendidik anak-anak serta orang-orang tua untuk bisa baca al-Quran dan tata cara shalat.Setiap malam jum’at saya dan para ustadz melakukan tadabbur alam (refresing) ke Jalan Soekarno-Hatta (sekarang Taman Budaya). Sesama jejaka merasakan nikmatnya kebersamaan. Memasak bersama, tidur satu kamar, belajar bersama, olahraga bersama. Tidak lama kemudian saya dinobatkan menjadi direktur TPQ oleh Ust. Munir Fathullah (Menantu ketua Yayasan). Saya bertugas mengendalikan seluruh kegiatan TPQ dan Pengajian Dewasa. Saat itu jumlah santri mencapai 300 an santri dan 50 an jamaah dewasa. Di sela-sela kegiatan itu, saya masih harus merancang kurikulum dan membuat materi pembelajaran yang terdiri dari BCM (Bernyanyi, Cerita, Menulis).

Menjelang satu tahun keberadaan saya di Ashabul Kahfi ini, teman-teman asatidz satu persatu dari mereka keluar atau pindah tempat. Ada yang keluar karena ketidakpuasan mereka terhadap pimpinan yang kurang demokratis. Adapula yang keluar untuk mencari suasana lembaga yang kondusif. Bahkan ada yang keluar untuk merasakan kebebasan dan suasana yang apresiatif terhadap guru Al-Quran. Virus ketidakkerasanan ini akhirnya menjakiti saya juga. Kami dewan pengajar ini tidak tahu siapa yang salah, mengapa suasana padepokan ini kok pada akhirnya kurang kondusif. Mungkin kalau hanya satu orang yang keluar akibat ketidakpuasan wajar, tapi ini menjangkiti semuanya dan saya mengkhawatirkan terjadinya bad ending (su’ul khotimah) pada kedua belah pihak, kami dan yayasan. Akhirnya saya mencoba untuk berpamitan secara baik-baik dan menutupi segala kekecewaan. Saya meyakinkan pimpinan bahwa tidak pernah ada masalah diantara kita dan mengemukakan alasan-alasan logis untuk pindah.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: