Sepuluh keunggulan Maktabah Syamilah Versi 3.48 Edisi Oktober 2012


Oleh Syafaat

Alhamdulillah, setelah lama menunggu, hadir juga Maktabah Syamilah (MS) versi terbaru 2012 yang memiliki banyak keunggulan. Keunggulan-keunggulan itu sangat bermanfaat bagi para mahasiswa, penulis buku dll, yang membutuhkan data otentik untuk perujukan literatur. Selama ini kita hanya menyebutkan bahwa teks ini dikutip dari kitab ….. hal….. di Maktabah Syamilah versi…..  dan belum berani menyebut penerbit…… tahun….. cetakan ke…….  Artinya embel-embel “MS” itu masih ada dalam daftar rujukan.

Nah, untuk edisi baru ini sudah dilengkapi dengan folder kitab ganda, penomoran otomatis dan penomoran otentik. Sehingga, kita bisa menyebut langsung nama penerbit, tahun, cetakan, tanpa ada embel-embel “MS”, katanya sih biar kelihatan lebih ilmiah dan meyakinkan. Berikut ini sepuluh keunggulan yang terdapat dalam MS 2012: Continue reading

Euforia Politik Antiklimaks


Hasil penelitian Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang bertema “Tata Nilai, Impian, Cita-Cita Pemuda Muslim di Asia Tenggara” belum lama ini sangat menarik direnungkan oleh kalangan elite partai politik dan pemerintah.

Dengan jumlah 1.496 responden dari 33 provinsi, pemuda berusia 15-25 tahun yang tertarik menjadi politikus 0%, yang sangat tertarik mengikuti berita-berita politik hanya 5,5%. Meski yang disurvei dibatasi pemuda muslim, bisa jadi data itu menunjukkan kecenderungan pemuda Indonesia pada umumnya.

Dengan mengikuti pemberitaan media massa dari hari ke hari seputar kehidupan politik yang diperankan oleh elite parpol, rasanya valid untuk mengatakan bahwa euforia politik sekarang ini sudah antiklimaks. Hanya dalam satu dekade masyarakat terbuka matanya bahwa daya tahan parpol rapuh dari serangan virus korupsi.

Para kader parpol yang duduk di eksekutif maupun legislatif mudah terjerat korupsi. Sampai-sampai muncul sinisme, kata eksekutif berubah menjadi ekseku-thief, legislatif menjadi legisla-thief. Padahal kebangkitan dan kelahiran parpol yang sekarang malang melintang itu pada awalnya didorong untuk membangun pemerintahan yang bersih dan menyejahterakan rakyat. Continue reading

Ambang Batas Radikalisasi di Indonesia


Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai radikalisme di Indonesia sudah pada tingkatan “lampu merah” atau sangat membahayakan sehingga negara harus berani menindak tegas. “Ini sudah `lampu merah`, sudah `emergency`. Negara harus tegas, segera ambil tindakan,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kepada wartawan di kantor PBNU, Jakarta, Selasa (26/4).

Dikatakannya, terungkapnya pelaku teror bom yang berasal dari kalangan terpelajar dan memiliki perekonomian yang baik menunjukkan radikalisme telah menyentuh kalangan menengah. Said Aqil juga merujuk hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) yang menunjukkan lebih dari 40 persen pelajar di Jakarta dan sekitarnya cenderung setuju menempuh aksi kekerasan untuk menyelesaikan masalah agama dan moral. Continue reading

Mana Yang Lebih Bahaya, NII atau Ahmadiyah?


Dalam beberapa bulan terakhir ini masyarakat kita menyaksikan berbagai peristiwa yang sangat menghebohkan. Mulai dengan kasus pengucilan terhadap warga Jemaat Ahmadiyyah, sebuah organisasi yang mengusung prinsip “cinta bagi semua orang dan tiada kebencian bagi siapapun”, hanya karena dianggap sebagai penganut aliran sesat. Dan hal ini diamini oleh kalangan petinggi Negara, di pusat dan di beberapa daerah. Mereka dinista sebagai manusia Indonesia yang hak-hak sipil mereka seperti dijamin oleh konstitusi seolah-olah sudah tercerabut. Mereka merupakan warga negara yang tertindas yang tidak mendapatkan kedudukan setara dengan warga negara lain walaupun mereka adalah pembayar pajak yang patuh, dan nenek moyang mereka adalah penduduk asli Nusantara ini, dan sebagian mereka sudah hidup sebelum RI lahir.

Heboh Ahmadiyyah itu disusul oleh heboh terorisme, pemboman di beberapa tempat, bahkan terjadi di mesjid. Ditambah lagi oleh heboh pencucian otak oleh gerakan yang disinyalir sebagai pendukung cita-cita NII. Tapi anehnya reaksi organisasi-organisasi Islam tidak sedahsyat reaksi terhadap Ahmadiyyah. Mengapa? Pertanyaan ini mengusik pikiran kita.

Boleh jadi bagi berbagai kalangan organisasi-organisasi Islam di negeri kita “kesesatan” Ahmadiyyah Qadyan menyangkut aspek “ushuliyyah” atau aqidah terutama berkenaan dengan konsep “khatamun nabiyyin”, karena perbedaan tafsir. Padahal rukum iman mereka sama dengan rukun iman kaum Sunni, begitu juga dalam praktek ibadah. Sedangkan perbedaan organisai-organisasi Islam dengan pelaku terorisme dan kalangan NII hanyalah berkenaan dengan masalah pemahaman dalam aspek “furu’iyah” atau masalah cabang bukan aqidah agama, khususnya dalam masalah “fiqih siyasah” atau fikih politik. Continue reading

Beragama Secara Dewasa Ala Masyarakat Jepang


Negara mana yang paling maju membangun konstruksi bangunan yang aman dari gempa? Tak lain adalah negara Jepang. Karena langganan dihajar gempa bumi, insinyur sipil Jepang sangat maju dan canggih membangun gedung-gedung yang tidak mudah roboh ketika terjadi gempa. Ada teknologi tertentu yang mereka temukan sehingga ketika bumi bergoyang, bangunan di Jepang ikut bergoyang. Tentu saja akan berbeda kasusnya kalau gempa bumi itu mencapai 9 SR dan disertai tsunami seperti yang terjadi dua minggu lalu. Yang juga menarik kita pelajari dari Jepang bukan saja teknologinya ,melainkan pribadinya yang ulet, pantang menyerah, dan mengubah bencana menjadi tantangan dan pembelajaran untuk melangkah ke depan.

Ketika Nagasaki dan Hiroshima luluh lantak oleh bom sekutu, warga Jepang menjadikannya monumen dan tantangan untuk melakukan pembalasan terhadap sekutu. Hasilnya fantastik. Jepang bukan membalas dengan bom atom, melainkan dengan ledakan produk automotif yang membanjiri negara-negara Barat. Mereka sangat terpukul dan tersadar ketika Nagasaki dan Hiroshima hancur. Kebanggaan dan mitos sebagai bangsa keturunan Dewa Matahari ternyata tidak berdaya melawan bangsa cowboy tanpa dukungan iptek canggih. Sehebat apa pun memainkan pedang, pendekar Jepang akan kalah ditembak dari jauh dengan pistol oleh cowboy AS. Continue reading

%d bloggers like this: