Curahan Hati


HARTA YANG TAK TERNILAI

Oleh Syafaat

Harta secara harfiyah dimaknai sebagai barang (uang dsb) yang menjadi kekayaan atau barang milik seseorang (KBBIMobile, 2008). Makna harfiyah “harta” inilah yang banyak dicari oleh banyak orang, agar mereka bisa survive dan eksis dalam hidup ini. Ketika seseorang survive dan eksis, harapannya kebahagiaan dan kedamaian hidup akan terwujud. Akan tetapi, sebetulnya di luar itu semua, ada harta yang abstrak dan nilainya tak terhingga yang jarang diperhatikan. Yaitu, harta yang berupa kemuliaan, anak yang shalih, banyak berbuat untuk orang lain dsb.

Rasulullah pernah berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ إِيمَاناً لاَ يَرْتَدُّ وَنَعِيماً لاَ يَنْفَدُ

Ya Allah, aku bermohon kepadamu keimanan yang tak pernah berpaling dan nikmat yang tak pernah habis (HR. Ahmad).

Seringkali harta yang telah menumpuk dan kekayaan yang melimpah, justru menambah masalah baru. Bahkan pakar psikologi Steven Covey mensinyalir adanya penyakit baru yang disebut toxic success (racun kesuksesan), yakni penyakit yang ditimbulkan akibat kesuksesan, seperti stres, antisosial, pemarah.

Saya akhir-akhir ini merasakan ternyata “harta tak ternilai” itu penting adanya. Harta tak ternilai yang saya maksud di antaranya adalah taatnya seorang anak pada orang tuanya, diberinya kita kesempatan untuk menjalankan amalan-amalan sunnah, dan dikaruniakannya kita kemampuan membaca al-Quran di tengah hari maupun tengah malam. Paling tidak selama ini tiga hal di atas yang selalu menjadi cita-cita saya.

Pertama, terkait dengan anak. Saya mendambakan anak saya yang masih kecil-kecil itu (usia 6 tahun dan 9 tahun), mudah diarahkan untuk belajar dan menghafal ayat-ayat al-Quran. Namun, kenyataannya selama ini sulit sekali diarahkan mengaji al-Quran. Awalnya, saya optimis dengan potensi kecerdasannya yang lumayan, meski baru penilaian obyektif saya. Mungkin saya terlalu terobsesi kesuksesan orang-orang hebat seperti Imam Syafii, yang sudah hafal al-Quran di usia 7 tahun. Dalam perjalanan mendidik putra-putri ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Hampir tiap hari saya dan istri “bekerja keras” merayu dan memprovokasi anak-anak supaya ngaji. Puncaknya, anak-anak berhenti mengaji di masjid dan di TPQ. Namun, seiring dengan perputaran zaman, kini mereka sudah lebih baik dan lebih “manut”.

Doa yang tak pernah henti, serta pemberian motivasi yang tak pernah padam, akhirnya membuahkan hasil. Mereka sudah bisa diajak hafalan di atas kendaraan sambil berangkat sekolah. Mengajinya bisa lebih dari sekali dan sholatnya pun lebih aktif. Sehingga, dalam waktu singkat surat-surat pendek dan doa-doa sehari-hari banyak yang hafal. Disamping itu, mandi dan buang kotoran sudah mulai mandiri.

Kedua, amalan-amalan sunnah. Di tengah-tengah kesibukan yang padat, susah sekali meluangkan waktu untuk menjalankan sholat dhuha di pagi hari, dan lebih susah lagi bangun tengah malam karena terlalu payah kerja. Tradisi sedekah harian juga tak terpikir. Bertahun-tahun saya mencita-citakan terrealisasinya amalan-amalan di atas. Berbagai metode telah coba diterapkan. Komitmen juga berkali-kali dibuat, ujung-ujungnya kendur juga semangatnya.

Atas karunia Allah, sejak awal tahun 2010, sedikit demi sedikit amalan-amalan tersebut semakin sering bisa dilakukan, tentu untuk disebut istiqamah masih jauh. Paling tidak, hari ini lebih baik dari hari kemarin. Bagi saya, saya telah mendapatkan harta yang tak terhingga banyaknya. Sebagaimana manusia biasa, saya masih membutuhkan materi duniawi dan sempat memimpikan jadi orang kaya suatu saat. Pada saat yang sama, cita-cita untuk merealisasikan amalan-amalan sunnah di atas juga tak terelakkan, bahkan melebihi cita-cita duniawi di atas.

Ketiga, senantiasa membaca al-Quran. Meski Allah telah banyak memberikan kemudahan dalam menguasai baca tulis serta pengetahuan al-Quran, tapi dalam sekian tahun masih kesulitan mengkhatamkan dalam kurun waktu minimal sebulan sekali. Secara matematik, mestinya dalam sehari tidak boleh kurang dari satu juz kalau ingin khatam sekali sebulan. Jangankan membaca di dalam shalat, di luar shalat pun kesulitan cari waktu. Seakan sehari semalam itu waktu berlalu begitu cepat. Pagi hari bangun jam 04.30, usai shalat kadang tidur lagi, kadang hanya baca al-Quran beberapa ayat atau baca buku untuk persiapan mengajar. Jam 05.00-06.30 saya dan istri sudah menyiapkan makan dan mandi anak, kadang masih sempat lari pagi sebentar. Jam 07-15.00 mengajar, melakukan aktifitas atau meneliti. Sepulang kerja jam 15.00, istirahat sebentar lalu jam 17.00 menjemput anak mengaji di TPQ di desa sebelah sekitar 4 Km dari rumah. Kadang, masih ada waktu baca al-Quran sampai menjelang maghrib. Baru setelah Maghrib saya sempatkan baca al-Quran, itupun masih “diganggu” oleh ngajinya anak-anak. Sedangkan setelah Isya’ saya upayakan untuk mengerjakan tugas-tugas kantor dan penelitian yang belum kelar sampai sekitar jam 23.00. Setiap hari perputarannya seperti itu.

Baru-baru ini, atas karunia-Nya, saya diberikan kemampuan untuk baca al-Quran dalam setiap shalat Sunnah rawatib rata-rata satu halaman tiap rakaat. Shalat malam juga demikian minimal 9 rakaat. Dalam shalat itu saya bisa baca sekitar 9 halaman. Shalat Dhuha juga demikian dalam 8 rakaat, saya bisa baca 8 halaman. Belum lagi di atas kendaraan setiap pagi hari sambil berangkat ke kantor minimal 4 halaman. Dengan demikian, tanpa harus menyediakan waktu khususpun lebih dari 1 juz bisa terbaca secara istiqamah.

Inilah sebetulnya cita-cita yang lama saya dambakan. Untuk cita-cita materi mungkin hampir semua terpenuhi (rumah, motor, pekerjaan, kebutuhan harian), sekali lagi saya sangat bersyukur padamu ya Allah yang telah memberikan saya keseimbangan hidup, dunia dan akherat. Semoga semua ini semakin lebih baik, semakin bermanfaat bagi orang lain dan hidup semakin bermakna, Amin ya Mujibas Sa-ilin. (Malang, 7 April 2010).

2 Responses

  1. bantu sy pak ustadz…..

  2. Ass..Bapak Syafa’at yg terhormat,,
    sya mw nanya perkuliahan S2 di UIN ttg managemen pda hari ahad za tuw ada pa tidak yach…?
    cz selain tuw kmi bkerja di perusahaan di purwosari,,
    kmi jga menjlankan aktifitas di Pesantren Ngalah.

Tulis komentar/Pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: